Water N Fire

Water N Fire
110


__ADS_3

Dan disudut lain rumah sakit itu seorang pria muda memasuki sebuah ruang praktek yang sudah sepi karena sudah selesai jam prakteknya . Seorang dokter muda terlihat masih menyelesaikan berkas pemeriksaan terakhirnya .


" Selamat siang .... Sesuai janji aku menjemputmu makan siang "


Venna berdecak kesal ketika melihat pria tengil yang lebih muda darinya itu sudah duduk di depannya .


" Tapi aku tidak berjanji untuk ikut denganmu, sudah aku katakan aku punya kencan sendiri siang ini " ketus Venna yang tak suka jika ada yang memaksa dirinya .


" Aku tidak peduli !! Mau berdua , bertiga atau berempat sekalipun ... aku ingin makan siang denganmu hari ini "


" Dasar keras kepala !! Jangan kekanak kanakan Steve , kau tak bisa selalu memaksakan kehendakmu "


" Aku hanya ingin makan siang , bukan ingin bercinta atau merampas harta bendamu " kilah Steve tak mau kalah , dia tahu Venna akan menolaknya keras karena hanya menganggap ia pria ingusan .


" Terserah ... " ujar Venna kemudian melanjutkan sebuah berkas medis yang tadi akan diselesaikannya .


" Kau sudah bertemu dengan Uncle Bumi dan Aunty Aira !? Mereka sedang bersama Langit saat ini "


" Sudah , tadi aku yang mendampingi mereka bertemu dengan dokter yang menangani Langit "


" Kenapa bukan kau yang menangani Langit langsung ?? Bukankah kau juga seorang dokter "


Venna hanya memutar bola matanya malas , dia merasa pria muda di depannya memang sangat menyebalkan .


" Aku spesialis bedah ... dan Langit tidak perlu pembedahan apapun "

__ADS_1


" Tapi malam itu kau memeriksanya ... "


" Dokter jaga yang menanganinya ada kepentingan , jika hanya denyut nadi dan analisis mental aku bisa melakukannya . Lagipula aku memang ingin melihat kondisinya !! Kau dan dia sudah aku anggap sebagai adikku ... "


" Aku bukan adikmu !!! Jelas jelas nama belakang kita berbeda ... tiga tahun hanyalah sebuah angka !! Kenapa kau selalu membesar besarkannya ???!!! "


Venna menutup berkas dan melepas jas putihnya , tapi mata Steve mengernyit ketika wanita di depannya tidak membawa sling bag yang ada di kursinya .


" Ayo ... bukankah kau ingin kencan bertiga ?? Kau sendiri yang mengatakan bersedia kencan bertiga atau berempat tadi " kata Venna melangkah keluar dari ruangannya .


Seperti anak ayam yang mengikuti induknya , Steve mengikuti langkah Venna kemanapun wanita itu pergi . Tapi hatinya penuh tanda tanya ketika dokter cantik itu tidak berjalan menuju arah parkiran , Venna berjalan ke arah taman rumah sakit yang ada di samping bangunan utama .


" ltu teman kencanku .... dia pasien kanker , sudah tiga bulan dia ada disini " tunjuk Venna ke arah kursi taman .


" Kanker ?? "


" Dia tak mau makan lagi ?? " sapa Ravenna pada pengasuh anak itu .


" Seperti biasanya , dia tidak mau makan jika bukan Dokter yang menyuapi " jawab wanita pengasuh itu dengan wajah putus asa .


" Hai Dino ,, masih semangat kan ?? Kau sudah berjanji padaku jika akan makan banyak agar cepat sembuh , bukannya kau ingin jadi pilot ?? Bukannya kau ingin terbang dan melihat dunia dari atas ?? " ujar Venna sambil menyendok bubur nasi dan menyuapkannya pada anak bernama Dino itu .


" Aku tidak pernah melihatmu Om Dokter " tunjuk Dino pada Steve yang berdiri selurusan dengannya .


Steve tersenyum dan berjongkok di depan anak laki laki yang sedang menatapnya penuh tanya .

__ADS_1


" Hai Dino ... Om bukan seorang dokter , aku bekerja di bengkel . Kau tahu ?? Aku sangat suka mobil ... "


" Apa bengkelmu juga memperbaiki pesawat !? "


Steve tertawa mendengarnya .


" Apa kau ingin naik pesawat ??? "


" Mau ... mau Om !! " seru Dino penuh semangat .


" Tapi habiskan dulu makan siangmu , nanti aku bawa kau terbang mengitari taman ini "


" Janji ???? " Dino menyodorkan jari kelingkingnya untuk ditautkan sebagai tanda bahwa Steve tidak akan mengingkari janjinya .


Dan benar saja tak lama kemudian Dino berhasil menghabiskan makan siangnya .


" Kapan kita terbang Om ?? "


" Kau sudah habiskan makananmu ?? Jika begitu kita terbang sekarang ... "


Steve mengangkat tubuh rapuh itu ke atas pundaknya dengan dua tangan yang memegang dua tangan mungil Dino .


" Siap terbang Kapten !!?? "


" Siap Om !!!!! " seru Dino .

__ADS_1


Steve berlari kecil memutari taman layaknya sebuah pesawat untuk Dino . Dan di bangku taman Venna tampak mengangkat sudut bibirnya , walau terlihat sangat kekanakan tapi ia suka melihat wajah wajah ceria dua pria tampan beda generasi itu .


" Tetap saja kekanakan ... tidak akan berubah !! "


__ADS_2