Water N Fire

Water N Fire
15


__ADS_3

Paginya Gema mengetuk pintu kamar adiknya , ia sedikit khawatir jika adiknya masih sedih karena peristiwa semalam . Saat Ava melihat Janu berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik .


" Ava !! Kau sudah bangun ?? "


Tak terdengar jawaban dari arah dalam , biasanya pagi begini gadis itu dengan semangat membangunkannya agar segera berangkat ke kantor dan mengantarnya ke mansion Adipraja .


" Ava ... "


CEKLEKKK ....


Gema membuka pintu kamar adiknya yang kebetulan tidak terkunci , ternyata gadis itu masih nyaman di bawah selimutnya . Gema lega ketika melihat wajah adiknya baik baik saja , tadi ia sempat membayangkan jika wajah cantik itu akan sembab dengan mata bengkak karena menangis semalaman .


" Avaaaaa .... bangun , udah siang ini !! Ayo cepetan mandi mau ikut Kakak enggak ??! " kata Gema dengan sedikit menggoyangkan bahu adik kesayangannya .


" Apa sih Kak ... Ava masih ngantuk banget , udah sana berangkat kerja !! "


" Bangun gadis bandel , Uncle Bumi tadi telpon undang kita untuk sarapan di rumahnya . Mandi sana !!! Enggak enak kalau kita nggak datang .... "


Dengan sangat malas akhirnya gadis itu bangun dan Gema hanya menggeleng gelengkan kepala melihat Ava berjalan terhuyung ke kamar mandi .


" Kakak tunggu di bawah , nggak pake lama ya nanti dandannya !! "


" lyaaaaa .... "

__ADS_1


Setelah drama bangun tidur itu akhirnya mereka segera berangkat ke mansion Adipraja . Tiba disana tampak semua sudah berkumpul di meja makan .


" Uncle Bumi ... Uncle Dewa "


Gema memeluk satu persatu paman yang selalu menjadi mentornya itu . Selain ayahnya dari merekalah dia belajar untuk menjadi seorang pria Adipraja .


Ketiga pria itu duduk santai diruang depan sambil menunggu Aira dan Jasmine menyiapkan sarapan mereka . Seperti biasa jika bertemu mereka akan membahas soal pekerjaan dan perusahaan .


Sedang Ava yang memang masih sangat mengantuk terus berjalan melewati dapur dan baik ke atas menuju kamarnya setelah memberi salam pada kedua bibirnya .


Aira dan Jasmine hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat gadis cantik itu berjalan dengan mata setengah tertutup . Mereka sudah hafal gadis itu pasti ingin melanjutkan tidurnya di kamar .


Di lantai atas Ava berpapasan dengan Langit yang masih mengenakan sarung dan pecinya .


" Awwsshh Lang !! Apa sih ... sakit tau !! " gerutu Ava .


" Jawab kalau ada orang kasih salam , udah berkali kali di bilangin ... Lagian udah siang begini masih merem aja . Clubbing elo semalem ? "


" Walaikumsalaaammm .... nggak boleh seudzon yaaa !! Dosa !! "


" Lhohh ehhh ... kamar elo yang di ujung sono !! Ngapain elo masuk kamar gue " pekik Langit yang melihat Ava malah ikut masuk ke kamarnya .


" Yaelah kejauhan Lang , udah ngantuk banget inihhh .... pinjem bentar kenapa sih !! Pelit banget " ujar Ava yang langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang di depannya .

__ADS_1


" Va .... Avaaaa .... yang bener dong !! Bukan muhrim gue elonyaaaa !! "


Dengan segera Langit meninggalkan kamarnya sendiri , walau sudah menganggap Ava sebagai adiknya tapi tetap tak pantas jika ada sekamar berdua dengan gadis yang tak mempunyai hubungan darah dengannya itu .


" Elo kenapa kesel gitu Lang ?! " tanya Janu yang baru saja akan turun untuk sarapan .


" Biasa .... Ava "


" Bikin ulah apalagi dia !? Berantakin kamar kamu ? "


" Molor di kamar Langit "


Janu terdiam , biasanya gadis itu akan langsung datang ke kamarnya untuk sekedar mengganggu atau ikut tidur bersamanya walau sebenarnya ia punya kamar sendiri di mansion ini . Selalu begitu selama ini , tak pernah berubah dan ia sudah sangat terbiasa dengan hal itu .


" Ya udah kamu ke bawah saja , biar Kakak yang pindahin dia ke kamarnya sendiri "


" Heran ! Tumben tumbenan dia ngabruk ke kamar Langit , biasanya kan ke kamar Kak Janu "


Setelah itu Janu segera masuk ke kamar adiknya dan benar saja , ia melihat gadis cantik itu tidur tengkurap diranjang adiknya . Gadis itu benar benar sangat lelap hingga tak merasakan kehadirannya yang sudah duduk disampingnya .


" Cantik ... " gumam Janu sangat lirih .


Ujung telunjuknya sudah menyapu bibir kemerahan yang selalu menguji nalurinya . Bibir yang selalu bicara manja padanya , bibir yang tak pernah sekalipun berujar kebencian walau selama ini dia sangat sinis padanya .

__ADS_1


" Maaf ya ... Abang mohon tunggulah sebentar , hanya sebentar lagi "


__ADS_2