
DUAAGGGHHHH ....
Tendangan kerasnya membuat pria ketujuh tumbang mengenaskan setelah mendapat bertubi tubi serangan darinya . Vania tidak membunuh satu pun dari mereka .
Dia hanya membuat ketujuh pria itu bahkan tak bisa untuk sekedar bangun . Dia melumpuhkan titik titik vital lawannya . Dan pasti butuh berbulan bulan untuk pulih sempurna . Gadis itu hanya ingin Kirey melihat semua yang belum wanita itu lihat dari dirinya .
" Selesai .... " gumam Vania sambil mengibaskan jaket panjang yang di kenakannya .
" Apa kami juga harus menyelesaikan wanita itu Nona ?? " tanya salah seorang penjaga yang datang untuk sweeping tempat itu dengan menunjuk Kirey yang duduk bersimbah darah pada kakinya .
" Aku tidak akan membuatnya mudah , bersihkan semua kecuali dia !! Biarkan pria tua itu lama lama membusuk karena menangisi anak kesayangannya " ujar Vania dengan tersenyum manis , dia menirukan perkataan Kirey saat ketujuh pria itu akan menyerangnya .
Gadis belia itu kemudian menghampiri Kirey yang masih sangat pucat karena menahan sakit di kedua kakinya . Seorang snipper telah menembak kedua kakinya atas perintah langsung dari Vania .
" Hai Aunty , masih sakit ?? Kurasa tidak karena aku yakin kau adalah wanita yang kuat . Kau yang salah kenapa tadi kau tidak memanggil bala bantuan saat aku beri kesempatan ?? Tujuh orang tidak akan cukup untuk menumbangkan aku . Kau tahu kenapa Grandpa harus selama ini untuk menangani hama seperti kalian ?? Dia hanya menungguku untuk tumbuh besar , Grandpa ingin aku sendiri yang menyelesaikan kalian . Dia ingin kalian yang menjadi tantangan pertamaku "
" Gadis gila !! Menjauh dariku .... "
" Ha .. ha ... tenang saja Aunty ! Aku juga tidak ingin bermsin di sini lebih lama lagi . Karena sebentar lagi lorong ini akan penuh dengan para tunawisma . Mungkin tak lama lagi kau akan menjadi salah satu bagian dari mereka "
__ADS_1
" Hei mau kau kemanakan mobilku !!? Berhenti !! " pekik Kirey saat salah satu pengawal Vania membawa pergi mobil yang disana terdapat tas yang berisi barang penting beserta ponsel miliknya .
" Biarkan saja , lagipula kotak beroda empat itu tidak ada gunanya lagi untukmu !! Kakimu tidak memungkinkan untuk menyetir sendiri . Ya sudah jika begitu aku sudah selesaikan tantangan pertamaku dari Grandpa .... menyingkirkan kalian tanpa mengotori tanganku dengan darah kalian . Rasanya legaaa ... Bye Aunty !! Baik baiklah hidup disini bersama teman teman barumu , mungkin dari mereka kau akan belajar bagaimana caranya untuk merendah "
" lni belum berakhir Vania !!! Suatu saat aku akan membalasmu !! Daddy pasti akan segera menemukan aku ... aku pasti akan segera sembuh dan mengejarmu . Aku sendiri yang akan membunuhmu !!! " pekik Kirey walaupun sebenarnya hatinya bergejolak rasa antara putus asa , marah dan takut yang menjadi satu .
" Kalian jaga distrik ini untuk dua bulan ke depan , aku tidak mau Adrik Vergel menyentuh ataupun mengetahui wilayah ini .... Sudah aku bilang Aunty , aku tidak akan membuatnya mudah untukmu !! Belajarlah merendah sebelum bertemu denganku " ucap Vania yang kemudian menaiki skate boardnya untuk meneruskan acara jalan jalannya yang tertunda .
" Bagaimana dengan lukanya Nona !? "
" Jika dia pintar maka ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri , tapi jika ia masih saja tidak berubah dengan kesombongannya maka berarti ia sedang membunuh dirinya sendiri "
Jero dan Via sekarang ada dalam satu mobil , mereka di jemput supir ketika ingin pulang dari toko buku .
" Kau selalu seperti ini !? " Jero mencoba membuka percakapan dengan gadis cantik di sampingnya .
"' Maksud Kak Jero ?? "
" Kau selalu diam , kadang aku tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiranmu " ujar Jero menatap gadis dengan pandangan lurus ke depan . Selama ini Via sama sekali tidak pernah menatapnya jika sedang bicara .
__ADS_1
" Memang apa yang mau Kak Jero tebak !? Aku tidak pernah menyembunyikan apapun " ujar Via lirih dengan menundukkan kepalanya .
Dan pembicaraan mereka terpotong ketika mobil sudah memasuki mansion utama Al Shamma . Jero mengantar Via sampai kedalam , disana sudah terlihat Anna yang berjalan menghampiri mereka .
" Kau sudah pulang sayang ?? Bagaimana bisa Jero bisa mengantarmu !? "
" Tadi kami bertemu di toko buku Aunty , sekalian Jero ingin berpamitan pulang ke apartemen " ujar Jero sambil meraih tangan kanan Anna untuk salam takzim .
" Hati hati , biar supir yang mengantarmu ... "
" O iya Via , masih ingat janjimu kan !? " tanya Jero dengan tersenyum .
" Janji ?? " cicit Via .
" Nonton dan makan malam ... "
" Maksudnya kalian akan berkencan !? " tanya Anna dengan wajah yang antusias , dia senang jika putrinya mulai terbuka pada seseorang .
" Iya ... "
__ADS_1
" Tidak ... "