Water N Fire

Water N Fire
144


__ADS_3

DUAAGGGHHHH ....


Tendangan kerasnya membuat pria ketujuh tumbang mengenaskan setelah mendapat bertubi tubi serangan darinya . Vania tidak membunuh satu pun dari mereka .


Dia hanya membuat ketujuh pria itu bahkan tak bisa untuk sekedar bangun . Dia melumpuhkan titik titik vital lawannya . Dan pasti butuh berbulan bulan untuk pulih sempurna . Gadis itu hanya ingin Kirey melihat semua yang belum wanita itu lihat dari dirinya .


" Selesai .... " gumam Vania sambil mengibaskan jaket panjang yang di kenakannya .


" Apa kami juga harus menyelesaikan wanita itu Nona ?? " tanya salah seorang penjaga yang datang untuk sweeping tempat itu dengan menunjuk Kirey yang duduk bersimbah darah pada kakinya .


" Aku tidak akan membuatnya mudah , bersihkan semua kecuali dia !! Biarkan pria tua itu lama lama membusuk karena menangisi anak kesayangannya " ujar Vania dengan tersenyum manis , dia menirukan perkataan Kirey saat ketujuh pria itu akan menyerangnya .


Gadis belia itu kemudian menghampiri Kirey yang masih sangat pucat karena menahan sakit di kedua kakinya . Seorang snipper telah menembak kedua kakinya atas perintah langsung dari Vania .


" Hai Aunty , masih sakit ?? Kurasa tidak karena aku yakin kau adalah wanita yang kuat . Kau yang salah kenapa tadi kau tidak memanggil bala bantuan saat aku beri kesempatan ?? Tujuh orang tidak akan cukup untuk menumbangkan aku . Kau tahu kenapa Grandpa harus selama ini untuk menangani hama seperti kalian ?? Dia hanya menungguku untuk tumbuh besar , Grandpa ingin aku sendiri yang menyelesaikan kalian . Dia ingin kalian yang menjadi tantangan pertamaku "


" Gadis gila !! Menjauh dariku .... "


" Ha .. ha ... tenang saja Aunty ! Aku juga tidak ingin bermsin di sini lebih lama lagi . Karena sebentar lagi lorong ini akan penuh dengan para tunawisma . Mungkin tak lama lagi kau akan menjadi salah satu bagian dari mereka "

__ADS_1


" Hei mau kau kemanakan mobilku !!? Berhenti !! " pekik Kirey saat salah satu pengawal Vania membawa pergi mobil yang disana terdapat tas yang berisi barang penting beserta ponsel miliknya .


" Biarkan saja , lagipula kotak beroda empat itu tidak ada gunanya lagi untukmu !! Kakimu tidak memungkinkan untuk menyetir sendiri . Ya sudah jika begitu aku sudah selesaikan tantangan pertamaku dari Grandpa .... menyingkirkan kalian tanpa mengotori tanganku dengan darah kalian . Rasanya legaaa ... Bye Aunty !! Baik baiklah hidup disini bersama teman teman barumu , mungkin dari mereka kau akan belajar bagaimana caranya untuk merendah "


" lni belum berakhir Vania !!! Suatu saat aku akan membalasmu !! Daddy pasti akan segera menemukan aku ... aku pasti akan segera sembuh dan mengejarmu . Aku sendiri yang akan membunuhmu !!! " pekik Kirey walaupun sebenarnya hatinya bergejolak rasa antara putus asa , marah dan takut yang menjadi satu .


" Kalian jaga distrik ini untuk dua bulan ke depan , aku tidak mau Adrik Vergel menyentuh ataupun mengetahui wilayah ini .... Sudah aku bilang Aunty , aku tidak akan membuatnya mudah untukmu !! Belajarlah merendah sebelum bertemu denganku " ucap Vania yang kemudian menaiki skate boardnya untuk meneruskan acara jalan jalannya yang tertunda .


" Bagaimana dengan lukanya Nona !? "


" Jika dia pintar maka ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri , tapi jika ia masih saja tidak berubah dengan kesombongannya maka berarti ia sedang membunuh dirinya sendiri "


Jero dan Via sekarang ada dalam satu mobil , mereka di jemput supir ketika ingin pulang dari toko buku .


" Kau selalu seperti ini !? " Jero mencoba membuka percakapan dengan gadis cantik di sampingnya .


"' Maksud Kak Jero ?? "


" Kau selalu diam , kadang aku tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiranmu " ujar Jero menatap gadis dengan pandangan lurus ke depan . Selama ini Via sama sekali tidak pernah menatapnya jika sedang bicara .

__ADS_1


" Memang apa yang mau Kak Jero tebak !? Aku tidak pernah menyembunyikan apapun " ujar Via lirih dengan menundukkan kepalanya .


Dan pembicaraan mereka terpotong ketika mobil sudah memasuki mansion utama Al Shamma . Jero mengantar Via sampai kedalam , disana sudah terlihat Anna yang berjalan menghampiri mereka .


" Kau sudah pulang sayang ?? Bagaimana bisa Jero bisa mengantarmu !? "


" Tadi kami bertemu di toko buku Aunty , sekalian Jero ingin berpamitan pulang ke apartemen " ujar Jero sambil meraih tangan kanan Anna untuk salam takzim .


" Hati hati , biar supir yang mengantarmu ... "


" O iya Via , masih ingat janjimu kan !? " tanya Jero dengan tersenyum .


" Janji ?? " cicit Via .


" Nonton dan makan malam ... "


" Maksudnya kalian akan berkencan !? " tanya Anna dengan wajah yang antusias , dia senang jika putrinya mulai terbuka pada seseorang .


" Iya ... "

__ADS_1


" Tidak ... "


__ADS_2