
" Masih mikirin ratu di hati elo Jer ?? "
" Dia lagi hang out sama temannya " ujar Jero lesu .
" Terus dimana salahnya !? Dia aja nggak pernah larang kalau elo hang out bareng temen temen "
" Beda , dia hang out dengan seorang pria !! "
Sahabat Jero yang bernama Max itu tertawa , ternyata Jero sedang terbakar rasa cemburu .
" Jadi ceritanya elo lagi cemburu nih !! Dari mana elo tahu kalau Via lagi hang out dengan teman prianya ??! "
" Barusan dia kirim gambar ... "
Jero memberikan ponselnya dan memperlihatkan gambar gambar yang dikirim oleh Lia . Gambar gambar pemandangan hijau di sebuah air terjun .
" Pemandangan yang indah ... apanya yang salah !? " tanya Max mengamati satu persatu gambar itu .
" Via mengambil gambar dari beberapa sudut dan tak ada satupun orang di tempat itu . Jika kau benar benar memperhatikan ada satu gambar yang menampakkan bayangan seorang pria di sisi Via . Mereka hanya berduaan di tempat sepi itu . Via wanita yang lemah lembut , bisa saja pria itu memanfaatkan keadaan "
Max manggut manggut membenarkan , memang ada bayangan seorang pria di salah satu gambar yang dikirim oleh Via .
" Aku yakin Via tidak selembut yang kau kira , tempat seperti ini biasanya mempunyai medan yang menanjak dan cukup berat . Cewek rumahan seperti Via rasanya tidak mungkin datang ke tempat seperti ini "
Jero tampak mengernyitkan dahinya , satu hal lagi tentang Via yang belum ia mengerti . Sekali lagi ia di hadapkan dengan sisi berbeda dari seorang Olivia . Banyak kejutan yang ia tidak tahu dari gadis itu .
__ADS_1
*
" Perlu bantuan ?? "
" Tentu saja ... duduk dan diamlah ditempatnya !! Jangan ganggu konsentrasiku , lukisanku tidak akan selesai jika terus mendengarmu bertanya atau bercerita " ketus Lia yang sedang menyapukan kuasnya di atas kanvasnya .
" Apa kau selalu bersikap seperti ini pada seorang pria !? "
Tapi Lia tak bergeming , gadis itu fokus dengan sapuan warna yang sedang ia buat .
" Aku hampir tak percaya saat pertama melihatmu membawa papan nama bertuliskan namaku . Aku pikir aku baru turun dari pesawat , tapi aku di buat kembali melayang saat melihat wajah cantikmu . Aku jatuh cinta pada pandangan pertama ! Aku menyukai sikapmu yang selalu tegas dan lugas . Kau gadis yang sangat mandiri , tak sekalipun kau perlihatkan sisi manjamu "
" Aku mendengarmu ... tapi jangan harap aku akan tersanjung " timpal Lia dengan nada datar .
" Walau terlihat keras tapi hatimu sangat lembut . Kau adalah gadis penyayang ... "
Lia meletakkan palet cat dan kuasnya , dia beranjak dari kursi dan berjalan mendekat ke arah Albert . Gadis itu sekarang duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang ditempati dokter tampan itu .
" Maaf aku sudah mengganggumu ... "
" Sudah aku bilang bukan ?? Bahwa aku bisa melukis kapan saja selama sudah ada gambaran di sini " ujar Lia menunjuk ke arah kepalanya sendiri .
" Tadi aku dengar bahwa kau jatuh cinta pada pandangan pertama padaku . Aku juga mengalami itu , jatuh cinta pada pandangan pertama ! Tapi bukan padamu ... kurasa jujur akan lebih baik . Aku jatuh cinta pada seorang pria dan sayangnya dia malah mencintai orang lain ... " kata Lia dengan menghela nafasnya dalam dalam .
" Kau tidak apa apa ?? "
__ADS_1
Lia hanya menggeleng sambil tersenyum , gadis itu terlihat tenang walau sebenarnya ada rasa sesak yang menghimpit dadanya .
" Jangan mengasihaniku .. aku tidak butuh dikasihani !! Bagiku itu hanya proses pendewasaan untukku ... tidak semua berjalan sesuai dengan yang aku mau . Dia berhak mencintai siapapun " suara lembut itu sudah terdengar serak karena sekuat tenaga menahan air mata agar tidak keluar dari kedua sudut matanya .
" Kau ingin menangis ?? Keluarkan saja ... air mata kadang bisa menjadi obat yang ampuh untuk menyembuhkan luka di hati "
" Aku tidak selemah itu ... "
" Aku tahu "
" Dia pernah bilang akan bisa mengenaliku walau menutup kedua matanya ... "
" Dia benar benar bodoh " ujar Albert dengan tersenyum , gadis cantik di depannya sedang meluapkan amarahnya .
" Dia bilang hanya aku yang sudah mengisi hatinya ... tapi bahkan tak ada namaku di hidupnya "
" Kau membencinya ??! "
" Sayangnya aku tidak bisa membencinya , aku semakin mencintainya ! Bukan dia yang bodoh ... tapi aku . Bisa bisanya aku mencintai pria yang bahkan tak pernah memandangku "
Sepertinya pertahanan Lia runtuh , ia tak bisa lagi menahan isakannya . Albert mendekat dan mengelus lembut bahu gadis yang ia cintai .
" Cinta tak pernah salah , sepertinya posisi kita sama ... kita sama sama mencintai orang yang mencintai orang lain . Kurasa kita berdua sama sama bodoh "
Dan di tengah isakannya terdengar tawa Odelia , gadis itu merasa apa yang dikatakan Albert seratus persen benar adanya .
__ADS_1
" Ya ... kita memang bodoh !! "