
" Semua berjalan lancar ?? " tanya Olivia pada adiknya yang baru saja ingin masuk ke kamarnya .
" Tenang saja Kak aku bisa menghandle semua ! Nonton ... makan malam ... pulang !! Dan kini ijinkan aku untuk tidur, aku capek sekali harus berpura pura menjadi dirimu " keluh Lia dengan memukul mukul pelan pundak dan lengannya seolah dia memang sedang merasa sangat lelah .
" Maaf jika kali ini aku merepotkanmu Lia ... "
" Hanya kali ini Kak ! " sahut Lia yang kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat rapat .
Lia duduk terkulai di balik pintu kamarnya , berkali kali tangan mungilnya menghantam lantai . Berharap ini hanyalah mimpi dan besok pagi ketika bangun ia bisa melupakan semuanya .
Dia dan kakaknya memang sangat mengidolakan Jero dari dulu . Netra dan rambut hitam , hidung mancung dengan bibir sedikit tebal dan kulit kecoklatan membuat pria muda itu benar benar terlihat sebagai ' pria ' ideal untuk mereka .
Odelia tahu jika dari dulu Jero menyimpan perasaan khusus pada saudarinya , dan dia bisa menerima itu semua karena menurutnya perasaan tidak bisa di paksakan . Lagipula Via memang butuh pria seperti Jero .
Selain pintar , baik dan mudah bergaul pria itu juga bisa menjaga Via dengan baik . Semua orang tahu jika para pria Adipraja sangat istimewa . Mereka semua di bekali dengan ilmu bela diri yang mumpuni . Dan Lia yakin dengan itu Jero bisa melindungi Via seperti Daddynya melindungi mereka .
__ADS_1
" Ya Tuhan .... "
Lia kembali menghantam lantai dengan tangan mungilnya ketika teringat ciuman panasnya dengan pria pemilik hatinya , pria yang tak mungkin dia miliki . Tak dia pedulikan rasa perih dan ngilu di tangannya yang terluka . Rasa perih di hatinya terasa melebihi sakitnya .
Sesaat kemudian gadis itu memutuskan untuk keruang gym yang letaknya ada di bangunan yang terpisah dengan mansion . Sengaja di bangun di dekat taman agar suasana tidak membosankan .
Setelah membenat luka di tangannya Lia segera lari ke lantai bawah menuju ruang gym . Seorang penjaga mengangguk padanya ketika ia akan melangkah masuk ruangan itu .
" Anda butuh bantuan Nona ?? "
" Tentu saja "
Tapi penjaga itu urung masuk ke ruang gym ketika seseorang datang . Pandangan orang itu seolah berkata bahwa dialah yang akan membantu Lia . Penjaga itu hanya mengangguk hormat dan kembali berjaga di pintu ruang gym .
Lia mengambil selembar kain untuk melapisi tangan yang sudah ia bebat dengan kain agar lukanya tidak bertambah parah saat latihan nanti . Tapi dia sedikit terkejut ketika melihat siapa yang sedang membawa kotak obat yang tersedia di ruang itu .
__ADS_1
" Dad .... "
" Boleh Daddy melihat lukamu ?? Selalu begitu , kau selalu meremehkan luka kecil sayang !! Luka kecil jika di biarkan akan menjadi luka yang tidak dapat disembuhkan , apalagi jika luka itu ada di sini " ujar Abbio dengan menunjuk dadanya sendiri .
Odelia hanya menunduk dan tersenyum hambar , luka itu dia sendiri yang membuatnya dan ia tak akan menyalahkan siapapun untuk itu . Harusnya dia bisa menjaga jarak dengan Jero , harusnya tak ia biarkan pria itu mencuri ciuman pertamanya .
Abbio membuka kain yang membebat luka di tangan putrinya . Dan dengan penuh kasih sayang ia mengoles satu persatu luka itu dengan cairan antiseptik .
" Sakit ?? "
" Tidak ... "
" Lepas jika kau memang tak sanggup menggenggamnya ... ikhlas !! Dulu ada seseorang yang berkata pada ayah , tidak semua berjalan sesuai yang kita mau . Tapi itulah hidup sayang .... Kau akan tahu cara untuk bangkit ketika kau sudah jatuh berkali kali . Kau adalah putriku yang kuat , dan tetaplah seperti itu "
" Terimakasih Dad ... aku pasti kuat jika Daddy selalu ada di sampingku . Aku sangat menyayangimu !! " ujar Lia memeluk tubuh tinggi besar itu .
__ADS_1
Abbio mencium pucuk kepala putrinya , dia akan menjadi batu karang yang kuat walau ia bisa merasakan rasa sakit yang dirasakan putrinya .
" Daddy juga menyayangimu sayang ... "