
" Kang mobilnya udah saya siapin di depan " ujar seorang santri laki laki yang berpapasan dengan Langit .
" Makasih ya , kamu nggak ikut ngantar Kyai Abdulloh sekalian ?! Nggak pengen ketemu sama nyai lntan ? " goda Langit pada santri yang terlihat tersenyum sambil celingukan sana sini takut ada yang mendengar apa yang di katakan Langit barusan .
" Hisshh ...Kang Langit jangan begitu atuhh ! Nggak enak kalau ada yang dengar . Nanti dikira beneran aku ada apa apa sama nyai Intan ... jadi fitnah nantinya "
" Lha kamu suka apa enggak sama dia !? "
" Ckk ... jangan dibahas Kang , malu !! "
Langit hanya tertawa mendengarnya , dulu dia sempat merasa ' disingkirkan ' ketika papa dan mamanya mengirim dia ke tempat seperti ini .
Pondok pesantren sederhana yang sangat jauh dari gemerlap kota . Hanya suara angin dan jangkrik yang bisa ia dengar saat malam hari . Tapi nyatanya lingkungan pesantren membuat hidupnya lebih tenang , sedikit demi sedikit ia bisa membebaskan dirinya sendiri dari tekanan tekanan batin yang ia alami .
Menjadi seorang pembunuh bukan pilihannya , tapi sungguh waktu itu hanya menarik pelatuklah jalan satu satunya ketika melihat kakak perempuannya di bawah ancaman sebuah pisau di lehernya .
Masih sangat dia ingat darah yang tersembur di kening pria itu , masih sangat dia ingat tangisan seorang ibu yang berlutut di kakinya karena menangisi kepergian putranya satu satunya .
Saat rasa bersalah masih menguasai hatinya sekali lagi jiwanya terguncang dengan kepergian kakak perempuan satu satunya yang selama ini menyayanginya . Jiwanya serasa lebur menjadi debu , raganya serasa tak lagi bernyawa kala itu .
Dan nyatanya angin membawanya ke tempat sederhana yang membawanya pada sebuah perubahan besar . Ke tempat di mana harta tak pernah bisa menjadi ukuran kehormatan . Hanya iman dan keikhlasan yang menjadikan Langit merasa menjadi manusia seutuhnya .
Disana ia menemukan banyak saudara baru . Tak ada iri , tak ada dengki apalagi kebencian disana . Kerendahan hati orang orang disekitarnya membuatnya sadar bahwa di dunia ini dia bukan siapa siapa .
__ADS_1
Siang ini dia bertugas untuk mengantar gurunya untuk pergi ke pesantren yang ada di desa sebelah . Pesantren khusus wanita yang di pimpin oleh putri dari Kyai Abdulloh . Biasanya Langit yang bertugas mengirim stok bahan bahan pokok untuk dua pesantren itu .
Dan dapat ditebak Bumi dan Aira yang menjadi donatur terbesar di dua pesantren itu . Sudah lama Adipraja membantu pesantren pesantren di daerah daerah terpencil dan ketika salah satu putra mereka mengalami depresi mereka segera mengirim Langit ke salah satu pesantren yang mereka bantu .
Dengan sebuah mobil bak terbuka Langit bersama gurunya berangkat untuk mengirim beberapa karung beras dan bahan pokok lainnnya .
" Ini baru separuh yang saya bawa karena mobilnya tidak muat , besok biar saya antar lagi separuhnya Kyai "
" Malah jadi ngerepotin Nak Langit kalau gini ... "
" Tidak apa apa , jaraknya juga tidak terlalu jauh "
Saking asyiknya mengobrol Langit tidak menyadari ada seseorang yang sedang menyeberang jalan .
CKIIIIITTTT ...
" Ya Allah ... "
Langit dan Kyai Abdulloh segera turun untuk melihat keadaan pria yang sedang berjalan ke arah pinggir .
" Anda tidak apa apa Pak ?? Maaf saya kurang memperhatikan jalan tadi " kata Langit meraih tangan pria parubaya itu ke keningnya dan kemudian melihat keadaannya .
" Saya yang salah Nak , tadi menyeberang jalan terburu buru . Maaf jika Bapak membuat kamu kaget ... Lhohh lni bukannya Kyai Abdulloh ?? Assalamualaikum Kyai .... "
__ADS_1
" Walaikumsalam ... "
" Dua anak saya menimba ilmu di pesantren Kyai , mari mampir ke rumah saya . Rumah saya ada di balik kebun itu , dekat kok !.Kebetulan tadi kami sedang panen ubi jadi kalian bisa cicipi hasil bumi kami "
Kyai Abdulloh menganggukan kepala pada Langit pertanda mereka tidak menolak ajakan pria itu . Langit mengikuti langkah dua pria yang jauh lebih tua darinya itu hingga mereka sampai di rumah sederhana tapi terlihat bersih dan rapi .
Suami istri itu menyambut mereka dengan sangat ramah . Sedang Langit lebih tertarik dengan sebuah foto yang terpajang di dinding diruang tamu . Foto seorang gadis dengan senyumnya yang terlihat sangat manis .
" Itu foto sulung kami Nak .. " suara itu mampu membuat Langit merasa tidak enak karena sudah lancang menatap foto yang ada di sana .
" Ehhh .. maaf ! Maaf saya tidak bermaksud lancang melihat foto putri Bapak " ujar Langit sopan dengan menundukkan pandangannya .
" Tidak apa apa Nak , dia juga tidak sedang di rumah . Anak Bapak sedang bekerja di kota , sudah dua bulan ini malah dia belum pulang " kata pria itu dengan senyum yang terlihat hambar .
" Tidak baik anak gadis pergi terlalu jauh dari kedua orang tuanya . Apalagi jika belum menikah , terlalu banyak godaan yang ada di luar sana ... " nasehat Kyai yang langsung diangguki oleh suami istri itu .
" Saya pikir juga begitu , tapi ada beberapa hal yang memaksanya untuk mencari nafkah di kota "
" Jika di ijinkan biarkan saya yang menyelesaikan beberapa hal itu . Putri Bapak bisa kembali ke rumah karena saya rasa benar yang di katakan Kyai . Terlalu banyak godaan ataupun bahaya jika hidup di kota sendirian "
" Tapi itu artinya kami akan berhutang budi pada Nak Langit ... "
" Bagaimana jika kita nikahkan mereka saja , saya yakin putri Pak Dedi adalah gadis baik yang pantas bersanding denganmu Nak Langit ... ngomong ngomong siapa namanya !? "
__ADS_1
Walau sedikit terkejut dengan ide gurunya tapi Langit tidak keberatan , dia berpikir mungkin dengan mempunyai seorang pendamping hidupnya akan lebih tenang dan terarah .
" Hulwa ... nama putri kami adalah Hulwa "