
~ Untuk kedepan Emak akan lebih fokus pada cerita kembar Al Shamma dan Jero karena empat saudaranya sudah mendapat jodoh dan dapat hidup bahagia . Tapi tenang saja Gema , Janu , Langit dan Steve tetap ada walau porsinya tidak sebesar kisah Jero . Perjalanan panjang dari keluarga Adipraja yang cukup memeras pikiran π€ .... Tapi tetap akan terus semangat karena kalian masih bertahan mendampingi proses belajar Emak . Love you allπππ ~
" Dia paman elo ?? Kenapa enggak bilang kalau dia masih sangat muda !? Gue pikir yang kita jemput itu om om tua .... " sungut Lia yang merasa tidak enak karena tadi sempat berlaku tidak sopan pada pria yang terlihat sedang melihat lihat lukisan di ujung ruangan .
" Dia bungsunya Mommy , otaknya encer jadi lulus sekolah tinggi pada umur empat belas dan meraih gelar doktor pada umur sembilan belas tahun . Sekarang baru umur sekitar dua puluh satuan gitu , pindah hilal elo ya ??! "
" Maksud elo apa ?? "
" Ya siapa tahu Jero tersingkir terus elo minat sama uncle gue !! Gue seratus persen setuju kalau elo jadi aunty gue , kurasa kalian cocok . Satunya jenius dan satunya pelukis hebat ... serasi " ujar Elda sambil tertawa kecil .
" Cihh ogahh !! Nggak banget jadi aunty elo , bisa bisa miskin elo porotin !! "
Elda hanya tergelak mendengarnya , kemarin dia memang bercerita pada sahabatnya jika berencana meminta tas Prada keluaran terbaru . Dan dia meminta bukan tanpa sebab karena Albert sendiri yang berjanji akan membelikan apapun yang Elda minta ketika bertemu nanti .
__ADS_1
" Ssssttt ... diem , tuh orangnya datang !! " lirih Lia pura pura melihat layar ponselnya , dia masih canggung gara gara kejadian di bandara tadi .
" Kalian suka main disini ?? " tanya Albert pada dua gadis muda di depannya .
" Bukan suka lagi , ini rumah kedua bagi kami ! Disini ada saudara saudara kami ... dan di tempat ini kami saling berbagi " jawab Elda yang diangguki oleh Lia .
" Apa suatu saat kalian bisa mengajakku melukis di tempat ini ?? Aku tidak pintar melukis ... tapi aku suka mencoba semua hal !! "
" Tentu saja Uncle , Odelia bisa menemanimu karena dia sangat pintar melukis . Kemarin lukisannya menang kontes dan di pajang di galeri seni Perancis " tutur Elda yang sengaja ingin mendekatkan Albert dan Lia .
" Jangan sungkan Al , jujur saja kau terlalu muda untuk aku panggil uncle seperti Elda memanggilmu "
" Tidak apa apa , itu terdengar lebih enak di telingaku ... " sahut Albert dengan senyumnya .
__ADS_1
" Ok .. Elda sudah menceritakan jika lusa aku harus menangani saudaramu . Jadi bisakah kita duduk di sana ?? Aku ingin mendengar cerita garis besar tentang fobia yang dialami saudaramu itu " kata Albert sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di area samping sanggar .
Banyak pohon rindang dan tanaman bunga di area itu karena biasanya di gunakan para anggota sanggar untuk tempat melukis atau mencari inspirasi .
" Kalian kesana dulu , karena aku ingin membereskan alat lukis yang kemarin di pinjam salah satu teman " ujar Elda yang sebenarnya ingin memberi waktu pada Lia dan Albert bicara empat mata .
Albert dan Lia kemudian duduk di kursi panjang yang ada di area taman sanggar itu , suasana yang sejuk membuat mereka lebih merasa nyaman untuk berbincang .
" Siapa nama saudaramu !? "
" Olivia ... kami kembar identik . Olivia mengalami fobia itu sejak dia berumur sekitar sepuluh tahunan . Dia sangat pintar sepertimu ... "
" Terimakasih pujiannya tapi aku tidak sepintar yang kau kira , masih banyak hal yang belum aku ketahui !! Nanti akan ada acara makan malam untuk merayakan ulang tahun kakakku , bisakah kau datang dan kita lanjutkan pembicaraan ini ?! Karena akan sampai malam jika kita duduk dan membicarakan tentang kakakmu di sini "
__ADS_1
" Baik , kebetulan aunty juga mengundangku . Kita bisa lanjutkan pembicaraan tentang kakakku nanti "
Mereka bertiga akhirnya pergi meninggalkan sanggar , tanpa dua gadis itu tahu jika Albert melangkah dengan senyum di bibirnya . Gadis pemarah itu ternyata sangat ramah dan Albert merasa nyaman ketika berbicara dengan sahabat keponakannya itu .