Water N Fire

Water N Fire
38


__ADS_3

" Jika masih sangat sakit sebaiknya Kakak istirahat di sini dulu , jangan dipaksakan ! Luka kakak sepertinya berdarah lagi "


" Ckk .. pelankan suaramu !! Apa kau ingin ibu ibu kita histeris mendengarnya ? " sahut Gerna ketika Langit berbisik padanya .


Bukan tanpa alasan Langit mengatakan hal itu , noda merah perban putih di lengan Gema semakin lama semakin membesar . Dan itu menandakan darah mulai keluar lagi dari luka jahitan bekas luka tembak itu .


Mungkin jahitannya terbuka karena Gema nekat keluar dari rumah sakit dan tidak mendengar anjuran dokter untuk istirahat total selama beberapa hari ke depan .


Saat ini Gema berbaring di kasur lantai di kamar Langit , dua ibunya dari tadi sempat rewel memaksanya istirahat terlebih dahulu karena melihatnya selalu memegang luka yang malah semakin nyeri dirasakan .


" Namanya Hulwa ? Kenapa kau memutuskan untuk menikah saat umurmu masih begitu muda ?? Kakak tahu kau punya ambisi besar untuk lebih mengenal dunia sana ... "


" Ya ... yang aku tahu namanya Hulwa , siapapun namanya aku yakin dia istimewa ! Ambisi itu masih ada , aku hanya mencari orang yang bisa mengendalikan sekaligus mendampingiku untuk menjalani semua . Bagaimana dengan wanita pilihan Kakak , apa dia cantik ?! "


" Entah ... tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya "' jawab Gema dengan senyum karena mengingat gadisnya yang tak pernah ramah padanya . Mereka lebih sering berdebat jika bertemu .


" Siapa namanya ?? "


" Hulwa ... "

__ADS_1


" Apa Kak !!! "


Gema tertawa melihat ekspresi Langit yang terkejut mendengar nama gadis itu sama dengan nama calon istrinya . Setelah itu dia menarik nafasnya dalam dalam .


" Dia tak pernah egois , baginya dunianya adalah kedua orang tua dan kedua adiknya . Mungkin dia akan merelakan hidupnya untuk kebahagiaan mereka . Dan itu yang membuat aku tidak bisa berpaling darinya , aku mengaguminya ... aku seperti melihat seseorang yang dulu berjuang keras seorang diri untukku . Malaikat cantik yang selalu ada untukku hingga kini "


" lbu Diva ?! "


" Sebaiknya kita bersiap siap , sepertinya mereka akan segera berangkat " kata Gema yang melihat seorang penjaga berada di depan pintu kamar Langit .


" Tuan Muda ... Nyonya Aira memanggil anda berdua . Rombongan akan segera berangkat ke rumah calon istri Tuan Muda Langit "


Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sederhana dengan kebun depan yang cukup luas hingga ke empat mobil bisa tertampung di sana . Suasana yang hijau dan sejuk membuat hati siapapun tenang ketika berada di sana .


Adam meraih dan sedikit menekan bahu putranya ketika akan turun dari mobil . Sedang Diva lebih dulu turun untuk membantu Aira membawa buah tangan yang tadi mereka siapkan .


" Yakin ingin turun ?? "


Gema tersenyum hambar , sudah ia duga jika ayahnya pasti sudah mengetahui sesuatu .

__ADS_1


" Aku tidak selemah yang Ayah kira "


" Aku tidak pernah menganggapmu lemah Son !! Hanya kadang sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita "


" Gema tahu itu ... tidak apa apa , aku rasa aku bisa menghadapinya . Seperti halnya Ava , mereka semua adalah nyawaku ... hidupku "


" Dan kau adalah hidup Ayah ... kau pikir Ayah senang mengetahui semua ini ? "


" Kalian yang memberiku tempat yang sangat layak disebut sebagai keluarga , aku tidak tahu akan seperti apa aku jika kalian tidak mendukungku selama ini . Jika hanya ini yang bisa aku lakukan ... maka akan aku lakukan "


" Tidak ada yang memintamu untuk berkorban Son , Langit pasti akan mengerti ... " ada rasa sakit ketika Adam mengucapkan itu .


" Ayah ... " kata Gema meraih bahu ayahnya sambil menggelengkan pelan kepalanya . Gema tahu ayahnya pasti tidak ingin melihatnya terpuruk .


" Maaf jika kali ini Ayah tidak bisa melakukan yang terbaik untukmu ... Maaf "


Di satu sisi ia ingin melihat putranya bahagia , tapi di sisi lain ia sangat tahu kondisi mental Langit . Putra kedua dari pilar pertama itu baru saja melewati masa sulitnya , Adam tidak yakin Langit bisa menerima jika mengetahui gadis impiannya adalah calon istri kakaknya sendiri . Semua terasa seperti buah simalakama untuknya .


" lni bukan tentang pengorbanan ... bukankah baru saja Ayah mengatakan bahwa sesuatu kadang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita . Karena segala sesuatu berjalan atas kehendakNya ... Aku punya empat ayah yang hebat , empat ibu yang sangat menyayangiku dan saudara saudara hebat yang selalu mendukungku . Aku tidak pernah kekurangan ... kalian bagian terbaik dari hidupku "

__ADS_1


" Ayah bangga mempunyai putra sepertimu .."


__ADS_2