
" Assalamualaikum .. "
" Walaikumsalam lho Nak Gema ini ya ... putranya Tuan Adam yang waktu itu ikut kita ke acara lamaran itu kan ?! Bagaimana lukanya sudah sembuh ? " sapa Kyai Abdulloh ramah pada Gema yang baru saja datang diantar oleh salah seorang supir yang merangkap sebagai penjaganya .
" Alhamdulilah luka saya sudah semakin membaik Kyai "
" Mau bertemu Nak Langit ya ? Dia sedang mengaji di aula bersama santri yang lain . Subhanallah ... perkembangannya maju dengan pesat ! Apalagi setelah lamaran kemarin , saya bisa melihat kebahagiaan di mata Nak Langit "
Gema yang saat ini duduk di hadapan Kyai hanya bisa menarik nafas dalam dalam , jujur saja perkataan Kyai tentang kebahagiaan Langit membuat niatnya mengendur .
" Boleh saya bertanya !? "
" Tentu saja Nak , sebisa mungkin saya akan menjawabnya "
" Apakan kondisi kejiwaan Langit sudah stabil !? "
Sang Kyai tersenyum lebar ketika mendengar pertanyaan itu .
" Sebenarnya Nak Langit dari dulu baik baik saja . Rasa bersalahnya ada hanya karena dia merasa sendirian , mungkin waktu itu dia masih terlalu muda untuk berpikir lebih jauh ! Ketika pertama kali melihat foto Nak Lulu dia sudah sangat bersemangat untuk membina rumah tangga ... dia ingin ada seorang teman yang seumur hidup akan berada disisinya dalam keadaan susah atau senangnya . Nak Langit membutuhkan seorang teman hidup yang bisa membantunya mengontrol dirinya sendiri "
Gema manggut manggut mendengarnya , ia rasa Kyai Abdulloh benar bahwa Langit sangat bersemangat dengan rencana pernikahannya .
__ADS_1
" Bagaimana jika ada seseorang yang berbicara padanya tentang sesuatu yang mungkin membuatnya tidak mau meneruskan rencana pernikahannya !? "
" Saya harap jangan ... Kebahagiaannya sudah mencapai titik yang sangat tinggi . Jika harapannya terhempas ke dasar lagi mungkin saja jiwanya bisa tergoncang lagi " jawab Kyai Abdulloh yang benar benar berharap pernikahan ini membuat seorang Langit bisa hidup lebih tenang kedepannya .
" Sebenarnya saya datang ke pesantren ini karena saya ingin bicara dengannya . Suatu hal tentang Hulwa Tsabilla "
" Nak Hulwa ?? Bukannya itu nama calon istri Nak Langit !? "
" Benar , ada sesuatu yang harus ia tahu sebelum pernikahan itu benar benar terjadi "
Kyai Abdulloh tampak sedang berpikir , pemimpin pesantren yang menemani proses perubahan Langit itu tampak menarik nafasnya dalam dalam .
" Melihat itu !? "
" Ada sesuatu yang terjadi antara Nak Gema dan Nak Hulwa . Maaf jika Nak langit tidak bisa merasakan hal yang saya rasakan , dari awal sudah saya katakan jika dia merasa sangat bersemangat dengan rencana pernikahannya ini . Saya juga minta maaf pada Nak Gema ... waktu itu bisa saja saya membatalkan acara itu dengan berbagai alasan . Tapi ada dua kehormatan yang harus saya jaga yaitu kehormatan keluarga Pak Dedy dan Keluarga Adipraja "
" Saya mengerti Kyai ... saya sangat mengerti !! "
" Saya akan tetap ijinkan Nak Gema berbicara dengannya , mungkin sudah saatnya agar Nak Langit belajar menerima . Dan saya harap Nak Gema bisa pelan pelan menyampaikannya . Nak Langit adalah pribadi yang kuat ! Mungkin dia akan bisa mengerti dan menghargai sebuah kejujuran "
Gema meraup kasar wajahnya , pembicaraan nanti pasti akan terasa sangat sulit untuknya . Dia teringat dengan perkataan Jasmine tentang landasan kejujuran pada sebuah pernikahan . Mau tidak mau apapun caranya dia memang harus membicarakan hal ini pada saudaranya .
__ADS_1
" Jika begitu biar saya panggilkan Nak Langit terlebih dahulu "
" Jangan ... terimakasih Kyai , tapi biar saya sendiri yang akan ke aula untuk menemuinya " sahut Gema dengan sopan .
Gema langsung melangkah ke aula setelah meninggalkan ruangan Kyai Abdulloh . Gema bisa melihat Langit sedang berbicara dengan santri santri senior di aula itu , sepertinya mereka sudah menyelesaikan kegiatan mereka .
" Kak Gema ?? " lirih Langit yang melihat seorang pria muda melangkah memasuki aula .
" Assalamualaikum semua ... maaf jika saya mengganggu kegiatan siang ini "
" Walaikumsalam .... tidak apa apa lagipula kami sudah selesai sebentar lagi kami harus menyiapkan makan siang kami "
Di pesantren itu para santri akan memasak bersama sama untuk makanan mereka . Mereka benar benar di ajari mandiri di tempat ini .
" Apa Kakak boleh mengganggu waktumu sebentar !? Aku ingin bicara "
" Tentu saja , silahkan ... Langit rasa kita berbicara disini saja "
Aula itu sangat tenang suasananya karena santri lainnya sedang ada di dapur umum untuk menyiapkan makan siang , mereka duduk tepat ditengah aula .
" lni tentang Hulwa ... Kakak ingin bicara tentang calon istrimu "
__ADS_1