
Saat ini Ava sedang ada di kamarnya , setelah makan malam bersama keluarga dia langsung menuju kamar untuk mengerjakan tugas kuliahnya . Matanya berbinar ketika mendengar notif pesan dari Langit .
Ava menamai kontak langit dengan nama Kapten karena sejak kecil.pris muda itu selalu menjadi teman sekaligus pelindungnya .
Kapten : gue mau kawin ooyyy !!
Me : gede bo'ongnya ....
Kapten : sumpaahh ga bo'ong , tadi aja gue ketemu ortunya . Sorry ya gue tinggal .... kelamaan kisah elo sama kulkas lima pintu
Me : mulut elo yaaa , niatnya sih gue mau udahan sama dia ... capek !! Tapi gimana lagi telanjur cinta ! Siapa nama gadisnya ??
Kapten : Hulwa .... bidadari gue dunia akhirat
Me : Lomba yuk ..
Kapten. : Ogahh , pasti elo mau lomba cepet cepetan bikin anak kan ?? Nggak banget !! Dosa tau
Me : dasar piktor !! udah gue mau tidur , mau ketemu pangeran gue dadahhh
Ava tersenyum ketika layar ponselnya mati , dia bahagia jika Langit benar benar sudah menemukan kebahagiaannya . Dia adalah saksi hidup betapa menyesalnya seorang Langit saat itu .
Sebenarnya masih ada beberapa pesan yang belum ia buka , dari beberapa teman yang iseng untuk sekedar menanyakan sudah makan ataupun sudah tidur atau belum . Pertanyaan basa basi dari para pria yang tertarik pada dirinya termasuk Dika ataupun teman kakaknya yang lain .
Ava mengambil ponselnya lagi , ia lupa bahwa dari kemarin sudah memblokir nomor dari pria yang ia cintai . Bukan apa apa tapi entah tiba tiba kemarin ia benar benar ingin terbebas dari pria bernama Janu Kamma itu .
Ketika ia membuka blokirannya ia mendapati banyak pesan dan banyak sekali panggilan tak terjawab . Gadis itu menghembuskan nafas dalam dalam dan meletakkan kembali ponselnya tanpa membuka satu pun pesan dari Janu .
Kadang ia merasa tak akan sanggup melepas pria yang sudah menjadi pemilik hatinya itu , tapi ia juga tidak boleh egois mengganggu kebahagiaan pria yang nyatanya sudah punya seorang kekasih itu .
__ADS_1
Lamunannya buyar ketika sebuah panggilan terdengar nyaring dari ponselnya , ia lupa mengaktifkan mode silent di benda kotak kecil itu .
Janu , ternyata pria itu yang sedang menelponnya . Belum ada semenit ia buka blokiran tapi pria itu sudah menelponnya . Ava berpikir Janu pasti ingin marah marah karena sudah berani memblokir namanya .
CEKLEKKK ...
" Kenapa tidak di angkat telponnya !?? "
" Abang ??? "
Ava langsung berdiri ketika pria yang ingin dia hindari sudah masuk dan berdiri tepat di depan pintu kamarnya . Gadis itu lupa jika saat ini ia hanya mengenakan dalaman yang hanya di balut kaos oversize yang memperlihatkan hampir seluruh bagian paha putihnya .
Dan Ava tersenyum getir ketika pria itu kembali memalingkan wajahnya . Jika untuk sekedar melihatpun tak mau , kenapa harus datang dan berdiri didepannya sekarang .
" Kenapa kamu blokir nomor Abang !? "
" Abang kapan datang kok nggak ngabarin dulu ?? "
" Tepat ketika kamu menaiki tangga sehabis makan malam "
" Berarti udah ketemu sama ayah dan ibu ?! "
" Udah ... sekarang pakai baju dan kita bicara sebentar di bawah " ujar Janu yang kemudian membalikkan badan keluar dari kamar itu .
" Ehmm .. besok saja ya , ini sudah malam "
Janu menghentikan langkahnya , bahkan ketika sudah ada di depannya pun gadis itu masih berusaha menghindarinya .
" Ya sudah jika itu maumu maka kita bicara di sini saja ! Besok pagi aku sudah harus pergi dengan Uncle Adam " ujar Janu yang kembali melangkah masuk dan duduk di pinggir ranjang milik Ava .
__ADS_1
Janu harus kembali menghela nafasnya ketika harus melihat pemandangan yang mengusik jiwa laki lakinya . Aroma dan tubuh gadis yang duduk di sebelahnya benar benar mampu menerbangkan kewarasannya !!
" Kau marah padaku !? "
" Enggak .... " cicit Ava pelan .
" Kenapa harus blokir nomor Abang ? Apa salah Abang !? "
" Abang enggak salah ... "
Janu memejamkan matanya , ia merutuki diri sendiri yang sedari tadi berkata ketus pada gadis di sampingnya . Rasa rindu yang membuatnya dari Jakarta terbang ke Bali , dan kebetulan juga ia mempunyai sedikit urusan dengan ayah gadis itu .
" Lain kali jangan melakukan itu lagi apapun alasannya ! Mengerti !??? "
" lyaa ... "
Bukan tanpa alasan jika Ava selalu menjawab setiap pertanyaan itu dengan sangat singkat , ia hanya ingin pria itu cepat keluar dari kamarnya sebelum ia melakukan hal hal di luar kendalinya .
Ava ingin memeluk dan duduk dipangkuan pemilik hatinya seperti yang dulu biasa ia lakukan . Dia ingin menyandarkan kepalanya di dada bidang itu hingga ia terbawa ke alam mimpinya .
" Abang sudah marah marahnya ?? "
" Hemm ... "
Ada kelegaan di hati Janu ketika merasa kepala gadis itu menyandar di lengannya seperti biasanya .
" Abang masih jalan sama Billa !? "
" Hemmm ... "
__ADS_1
" Oooo gitu ya , Ava doain pulang dari sini kalian berantem terus putus "
" Apa !!??? "