
" Ehh .... Abang "
Mata bening itu mengerjab seakan tak percaya jika baru saja pria di sampingnya sudah mencium kedua pipinya .
" Sekarang Abang sudah jadi bekasan kamu ! Bukan bekasan ulet keket atau siapapun dalam pikiran kamu itu.!! "
" Bohong .... udah nempel nempel gitu masa enggak ngapa ngapain ! Jalan lagi gih mobilnya Ava udah laper nih " cibir Ava yang sebenarnya hanya ingin menutupi rasa malunya .
Baru kali ini ada seorang pria menciumnya , dan pria itu adalah sang pemilik hatinya .
" Dari kecil juga Abang udah jadi bekasan kamu !! Pipis bahkan pub dipangkuan Abang juga udah biasa banget kamunya ... Akkhh "
Sebuah cubitan mendarat di perut liatnya , Janu tertawa melihat rona kemerahan gadisnya .
" Itu kan dulu ... jangan bahas itu !! "
" Ya kamu yang mulai pakai bilang Abang bekasan orang !! "
Janu meraih kedua tangan Ava dan mengecupnya dengan penuh kelembutan .
" Maaf jika selama ini Abang terlalu keras sama kamu , tapi Abang mohon jangan menyerah ... tunggu sebentar lagi "
__ADS_1
" Nunggu Abang jadi duda maksudnya ?? "
Janu menggigit lembut pergelangan tangan yang masih berada dalam genggamannya hingga gadis itu menjerit pelan .
" Abang dan Billa sebenarnya tidak pernah punya hubungan apa apa . Kami teman baik ... hanya itu ! Aku memanfaatkan namanya untuk melihat seberapa besar cintamu pada Abang "
" Ava nggak ngerti ... "
" Selama ini kamu sangat menggebu gebu , Abang hanya khawatir rasa yang kau miliki hanya sebatas obsesi karena sudah dari kecil kita bersama . Abang sayang Ava ... dan Abang mau rasa yang kau miliki itu benar benar tumbuh dari hati . Rasa cinta yang dirasakan selayaknya seorang wanita yang mencintai seorang pria "
" Jadi Abang keras sama Ava karena menganggap cinta Ava sebatas obsesi ?? "
" Bukan itu , tapi .... "
Janu terkejut ketika Ava tiba tiba keluar dari mobil dan membanting pintu mobilnya .
" Queen Avaaa ... !! " teriak Janu yang juga sudah keluar dari mobil dan mengejar langkah gadisnya .
Untung saja dia sudah meminggirkan mobilnya ketika tadi ingin bicara pada Ava . Dan langkshnya terhenti ketiks melihat gadis itu duduk di sebuah kursi panjang yang terletak di sisi jalan , sepertinya tempat itu di fungsikan untuk halte kendaraan umum .
" Ava !! Kembali ke mobil , jangan duduk di tempat seperti ini ! " kata Janu yang melihat suasana jalanan yang tidak terlalu ramai .
__ADS_1
" Nggak !! Capek capek cinta malah di bilang obsesi ... Abang waras ??? Nggak masalah jika Abang nggak nanggepin karena belum bisa cinta ke Ava !! Sangat maklum karena masalah hati nggak bisa dipaksain !! Tapi kalau menganggap cinta Ava hanya sebatas obsesi itu namanya penghinaan !! " pekik Ava dengan wajah sepenuhnya memerah .
" Bukan begitu maksud Abang tadi .. " lirih Janu mendekat dan duduk di sebelah gadisnya .
" Pergi !! Ava capek !! "
" Ya sudah kita pulang , kamunya juga belum makan kan ?! Abang minta maaf jika ada kata kata Abang yang sudah nyakitin kamu !! "
" Udah biasa !! Ava udah biasa banget denger kata kata sinis yang nyakitin dari Abang !! Tapi Ava nggak duka jika di hina ... Abang kira Abang siapa hingga berani menghakimi cinta Ava ???!! "
Janu hanya diam dan menghela nafasnya , ia biarkan gadis itu meluapkan kemarahannya . Dia tahu ia sangat bersalah dalam hal ini , wajar jika Ava marah besar saat ini .
" Pergi !! Ava nggak mau lihat Abang lagi !! Ava capek ... laper .... sakit hati ... kesel !! lteeemmmm sini .. cepet !!! "
Seorang pria berbadan tegap terlihat mendekat dengan krpsls menunduk karena pewaris utama Adipraja sudah menatapnya sangat tajam . Janu tahu pria itu adalah salah seorang penjaga gadisnya .
Janu menarik lembut tangan gadisnya yang sudah bangkit dan ingin berjalan menjauh darinya . Satu tangannya sudah memberi isyarat pada pria berbadan besar itu agar segera menjauh dari tempat itu .
" Kita pulang ... marah marahnya kita lanjutin di rumah . Nanti setelah makan kamu boleh marah sama Abang lagi "
" Nggak usah sok perhatian sama Ava !! lteeemmmm mau kemana kamu !! Cepetan sini ... nggak liat ada orang yang jahatin Ava hahh !! "
__ADS_1
" Ehh iya Nona Muda ... " kata penjaga itu dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal .
Tatapan membunuh itu sangat terlihat di mata pria yang ada disamping Nona Mudanya , dan ia tahu melawannya sama dengan mengantar nyawanya .