
" Bagaimana perkembangan Kak Via ??! " tanya Elda yang sedang mencoret kanvasnya dengan cat minyak . Gadis itu sedang melukis untuk persiapan malam amal yang akan diselenggarakan oleh sanggarnya .
Sedangkan Lia duduk di kursi sampingnya , gadis itu belum melukis apapun karena belum punya inspirasi untuk menggambar . Lia tidak akan melukis jika belum ada sesuatu yang menggerakkan tangan dan pikirannya untuk melukis .
" Sejauh ini sih maju pesat , dia sudah bisa lihat jendela saat malam hari walau masih dari jauh . Seenggaknya nggak parno banget sama malam . Pinter juga uncle kecil elo , nggak sia sia otaknya jenius " kata Lia dengan tangan bermain dengan kuas , kadang dengan jahilnya kuas itu ia sapukan di pipi sahabatnya .
" Terus elo sama dia gimana ??! "
" Dia ?? "
" Albert ... nggak mungkin gue tanya tentang Jero !! Males , ujung ujungnya elo pasti ngalah karena mikirin kebahagiaan Kak Via "
Lia hanya terkekeh ketika mendengarnya , Elda memang tak suka jika ia selalu memikirkan kebahagiaan orang lain terutama kakaknya .
" Emang gue sama Albert kenapa ?? "
" Albert suka sama elo , nggak mungkin kalau elo nggak tahu . Kalau elo udah ikhlas Jero sama Via kenapa elo nggak kasih Albert kesempatan !? Dia tampan , pintar , kaya ... nggak ada kurangnya . Dia pantas berada di sisi elo " ujar Elda menyapukan kuas cat minyaknya ke pipi sahabatnya .
" El !!! " pekik Lia sebal karena pipinya pasti kotor terkena sapuan kuas itu .
__ADS_1
" Gantian .. dari tadi elo yang gangguin gue " ujar Elda sambil tertawa .
" Gue nggak tahu , lagian gue belum mikir buat cari pacar ... sekolah aja belom kelar mau aneh aneh "
" Kalau aku bersedia menunggu bagaimana !?? "
Suara bariton itu membuat dua gadis itu menoleh , Elda tersenyum lebar ketika tahu paman kecilnya sedang berjalan ke arah mereka .
" Selamat sore , maaf aku menyusul ke tempat ini . Aku hanya ingin melihat apa yang kalian lukis untuk pameran besok " ujar Albert menyapa dua gadis di depannya .
" Dia belum melukis apapun , katanya belum dapat inspirasi yang tepat untuk di tuang di atas kanvasnya "
" Ide bagus !! Uncle bisa pergi berdua dengan Odelia ... " pekik Elda sangat bersemangat .
" Ckk dia yang punya rencana kenapa kau yang bersemangat !? Lagipula belum tentu aku setuju " gerutu Lia .
" Waktu sudah mau habis , pameran itu diadakan dua minggu lagi !! Dan kau tidak punya banyak kesempatan mencari inspirasi karena kau akan sibuk dengan home schooling dan berbagai tugas akademismu "
" Weekend kita pergi ... " kata Albert menegaskan .
__ADS_1
" Ya sudah , jika begitu kita pergi weekend besok " cicit Lia yang disambut senyum dua orang di depannya .
" Yessss ... akhirnya kalian kencan juga !!! " kata Elda sambil mengerlingkan satu matanya ke arah sahabatnya . Dia bahagia setidaknya Lia tidak terpaku pada satu nama , Elda berharap Albert bisa mengisi salah satu sudut kosong di hati Lia .
" Dengan satu syarat ... Kak Via harus ikut !! "
" Tapi bagaimana jika kita pergi seharian ?? Aku yakin Via belum bisa pergi saat malam hari . Kau tidak mungkin mencari objek sekaligus melukis dalam waktu sesingkat itu . Perkembangan Via memang cukup pesat tapi belum sepenuhnya sembuh " kata Albert menjelaskan .
" Ehhhmmm ... ya sudah kita pergi berdua , aku yakin kau tak akan mau ikut kami . Gadis licik !! " tunjuk Lia ke arah sahabatnya yang sedang tertawa kecil .
" Ok ... sekarang aku antar kalian pulang , tadi Elda mengirim pesan jika mobilnya mogok . Aku sudah panggil bengkel untuk memperbaiki mobilmu "
" Uncle antar pulang Lia saja , aku belum selesai ! lagipula aku sudah ada janji dengan teman untuk mampir ke pembukaan kafe baru malam ini "
" Ya Tuhan gadis ini benar benar .... " kesal Lia yang merasa Elda akan melakukan segala cara untuk membuatnya dekat dengan Albert .
" Bagaimana ??! " tanya Albert .
" Apalagi ?? Antar aku pulang ... sepertinya ada lem yang menghubungkan aku denganmu " sinis Lia melirik sahabatnya .
__ADS_1
Albert hanya tertawa , dia merasa beruntung karena mempunyai keponakan yang sangat mengerti dengan isi hatinya .