Water N Fire

Water N Fire
34


__ADS_3

" Gema .. kau sudah sadar Nak !! lni ibu dan ayah ... kami.disini " ujar Diva lembut sambil membelai surai putranya .


" Ibu ... aku harus pergi !! "


Gema yang baru saja membuka matanya tiba tiba langsung beranjak duduk hingga Adam meraih bahu putranya agar lebih tenang .


" Slow down son ... pelan pelan , baru saja kau sadar dari operasi pengambilan peluru di lenganmu . Jangan sampai lukanya terbuka lagi "


" Ayah aku harus pergi , dia menungguku !! " pekik Gema terlihat sangat tidak tenang , ia khawatir Lulu masih menunggunya di kosan . Gadis itu pasti mengira dia sudah ingkar janji , atau mungkin berpikir dia tidak serius dengan hubungan mereka .


" Tenang dulu , setelah itu bukankah kau bisa menghubunginya lewat ponsel ?? Kau bisa mengabari jika kau sedang berhalangan jadi menunda acara kalian "


Gema menghembuskan nafasnya perlahan dengan sedikit menahan nyeri di kepala dan lengannya yang di bebat dengan kasa putih . Kepalanya terasa berputar ketika tadi tiba tiba bangun .


Raut kekecewaan sangat terlihat di wajahnya , beberapa kali menelpon tapi ponsel Lulu tidak aktif . Dia merutuki dirinya sendiri yang tadi lupa mengabari Lulu tentang keterlambatannya . Peristiwa pagi tadi begitu cepat dan tak terduga .

__ADS_1


" Dika bagaimana Yah ... "


" Radit sudah mengurusnya jangan khawatir , dan jangan pernah terbebani dengan kepergian sahabatmu itu . Karena Ayah yakin kau sudah melakukan yang terbaik . Dia terlalu lemah untuk menghadapimu ataupun kesalahannya sendiri "


" Gema tahu ... tapi tak seharusnya dia melakukan itu , bukankah dalam sebuah ikatan persahabatan melakukan kesalahan itu sudah biasa !? Aku tidak pernah marah padanya walaupun sudah dibuat kecewa "


" Ayah tahu ... sekarang istirahatlah "


" Gema baik baik saja Yah !! Gema harus pergi ke suatu tempat ... aku punya janji pada seseorang "


" Ibu tahu ini pasti bersangkutan dengan seorang wanita , dengarkan lbu Nak ! Jika sudah di gariskan menjadi milikmu .. maka dia akan menjadi milikmu . Tapi tolong , jangan buat kami khawatir ! Kau masih sangat pucat dan kondisimu belum begitu stabil . Setelah kau pulih kau bisa menemuinya kembali "


Gema menghela nafasnya , sampai kapanpun dia tak akan bisa melawan perkataan dari ibunya . Lagipula istri pilar kedua itu sangat benar , untuk duduk saja kepalanya masih sangat pening apalagi untuk pergi mencari Lulu . lstirahat sebentar mungkin akan bisa membuatnya lebih cepat pulih .


*

__ADS_1


" Sudah lega ?? " tanya Kyai yang saat ini berada di aula tempat mengaji para santrinya .


Selama di pesantren ini Langit adalah anak didik yang ditanganinya secara langsung . Kasus Langit yang istimewa membuat dia turun tangan sendiri .


Saat pertama datang Langit sangat membencinya , pria muda itu berpikir jika dia masih terlalu waras untuk ditempatkan di pesantren . Sering Langit berkelahi dengan santri senior yang membantunya mengajar para santri junior .


Langit sering berkata bahwa mereka adalah kumpulan orang pencari perhatian . Berpura pura memperhatikan dirinya hanya karena dia adalah salah satu pewaris billionner di negeri ini .


Dan waktu yang perlahan mengubahnya , pribadi pemberontak itu telah menjadi santri santun yang tahu tata krama . Waktu itu dia melihat Aira meneteskan air mata ketika ia hampir saja membunuh salah satu santri yang berkelahi dengannya .


Tangisan tanpa suara itu membuat hatinya sangat sakit karena selama ini dia mengenal ibunya sebagai wanita terkuat yang mampu mendampingi papanya sebagai pilar utama . Dia bertekad untuk berubah , Langit tak lagi ingin menyakiti orang orang yang sangat menyayanginya .


" Nak Langit kok malah melamun , sudah lega belum ? "


Langit tersenyum kikuk , baru kali ini dia merasa bahagia karena akan memiliki seorang pendamping yang akan menemaninya melalui masa senang dan susah hidupnya . Seorang wanita yang akan melahirkan keturunan keturunan soleh dan solehah yang suatu saat menjadi penolongnya di hari akhir nanti .

__ADS_1


" Saya bahagia Kyai ... sangat bahagia !! "


__ADS_2