
"Ayah, Abang..." teriak Aira, melihat sang Ayah dan Abangnya, yang lagi duduk di cafe hotel tersebut, bersama rombongan warga dari kampung, termasuk duo medusa.
"Aira.... anak Ayah...?!" ucap sang Ayah, merentangkan tangan menyambut sang anak, "anak ayah, semangkin cantik aja!" ucap sang ayah memeluk Aira, dan mencium pipi cabby itu.
"Ayah bisa aja, dari dulu anak ayah ini, sudah cantik tau!" canda Aira.
"iya, Ayah yang lupa!" kekeh sang Ayah,
"Sudah Ayah, gantian aku juga ingin memeluk adikku!" Seru Bima, karena tak sabar ingin memeluk sang adik, gara gara sang Ayah, tak melepaskan adiknya itu.
"Oh kau mau peluk juga, kirain sudah cukup meluk mantu Ayah saja!" canda sang Ayah, sambil terkekeh.
"Ncek... aku juga pengen meluk adikku Yah... lepasin napa!" kesal Bima, dan menarik sang adik kedalam dekapannya.
"Apa kabar kamu sayang, apa masih terasa sakitnya!" tanya Bima, sambil memeluk sang adik, sesekali mencium puncak kepala sang Adik.
Aira sungguh merasa sangat haru, keinginan, untuk di peluk sang ayah dan abangnya itu terkabul.
__ADS_1
"Baik abang, sangat baik malah, suami dan keluarganya, memberikan pengobatan yang terbaik buat aku?!" ucap Aira.
Dan di anggukin oleh Bima, dia percaya itu, karen dia sendiri melihat dokter yang di datangkan oleh Brian juga tidak kaleng kaleng. Dokter dari luar negeri.
Warga yang di undang oleh Brian sangat terharu melihat kebahagian Aira, apa lagi kini Aira bisa merasakan kasih sayang dari ayah dan abangnya.
"Ya allah... semoga Aira selalu merasakan kasih sayang seperti ini terus, sudah cukup dia menderita selama ini!" ucap Bu rt. Dan di aminin oleh yang lain.
"Aira samakin cantik ya bu!" ucap Bu Ani.
"Iya, suami dan keluarga suaminya, juga sangat menyayangimnya!" ucap yang lain.
"Iya ya, itu lihat perhiasannya, berlian ya, itu harganya bisa ratusan juga lho...!" ucap orang orang di sana.
Membuat duo medusa itu, merasa kepanasan, mereka dari tadi melihat kedatangan Aira, yang berjalan anggun tak lupa dengan barang baran mahal yang di pakai Aira, dari Aira masuk duo medusa itu sudah kepanasan.
Sebagai seorang ibu dan kaka perempuan satu satunya itu, tak ada sedikitpun hati mereka tersentuh, untuk mendekati Aira, malah sifat dirinya semakin menjadi jadi.
__ADS_1
"Dasar anak sialan, sudah hidup enak kau rupanya, tak ingat orang tua kau, emang dasar anak ngak guna!" rutuk Bu Ningsih.
"Harusnya gue yang berada di situ, sialan dan memakai barang barang mahal itu, bukan loe sialan, barang barang itu tak cocok di tubuh loe!" gedumel Ayu.
Apa lagi ayu sempat melihat, leher Aira berkilau karena kalung berlian yang melingkar indah di leher jenjang Aira, membuat Ayu semakin meradang,
Apa apa yang di pakai Aira adalah barang barang mahal.
"Bersenang senang lah dulu, adek ngak guna, besok adalah hari terakhir loe menghirup udara di dunia ini, setelahnya bersenang senang lah di neraka sana!" Ayu tertawa jahat, dia sudah mempunyai rencana, untuk mengakhiri hidup Aira besok hari.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu!" tanya sang ibu, menyentuh tangan Ayu, menyadarkan Ayu dari lamunannya.
"Tidak, cuma memikirkan rencana besok!" jawab Ayu santai.
"Oh... lakukan lah, jangan sampai tak berhasil, ibu ngak mau melihat dia bahagia, enak saja memakai pakaian bagus, tapi ngak ingat buat beliin kita, dasar anak durhaka.
"Bener bu, dasar anak sialan emang, dia pikir kita ini apa, harusnya dia itu ingat kita beliin kita juga pakaian kayak gitu, bukan memakannya sendiri, dasar serakah!" kesal Ayu.
__ADS_1
Bersambung...