Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 90


__ADS_3

Duo jelmaan setan itu , sedang sibuk memilih milih pakaian yang akan mereka pakai.


Ayu sudah mendapatkan dress dan high hills lima belas centi yang akan dia pakai, Ayu langsung pergi keruang ganti, dia mengganti pakaianya dengan yang baru dia ambil tadi dan memakai high hils yang baru dan keluar dari ruang ganti dengan melenggak lenggok bak model papan atas.


Tak kalah dengan sang ibu, dia sudah lebih hedon dari pada saat datang tadi.


"Waduuuhhhh.... anak ku kau sungguh cantik nak, pasti deh si tampan itu akan terpesona sama kamu!" ucap sang ibu yang berbinar melihat penampilan anak kesayangannya itu.


"Pasti dong bu!" ucap Ayu centil


"Yukkk... bu, kita bayar trus kita langsung ke rumah sakit!" ucap Ayu sambil menggandeng tangan sang ibu berjalan ke kasir, setelahnya mereka keluar dari mall tersebut.


namun apesnya, tak ada satu pun taxi mau pun grab yang datang, mau tak mau mereka jalan kaki ke rumah sakit,


"Haduuuhhhh.... bu, kok ngak ada taxi dan grab sih, masa iya harus jalan kaki!" kesal Ayu.


"Ya mau ngak mau kita jalan kaki, mau nunggu sampai kapan di sini!" ucap sang Ibu.


Ayu terpaksa mengikuti sang ibu yang sudah berjalan lebih dahulu,


"Ncek... sudah dandan cantik cantik malah jalan kaki!" kesal Ayu.

__ADS_1


Di tempat lain, di rumah sakit...


Berhubung sang dokter sudah undur diri, tinggallah mereka yang setia menunggu Aira.


" Bapak mau lihat melihat Aira dulu, silahkan...?!" ucap Brian sopan kepada Ayah Alek, walau dalam hatinya dia ingin lebih duluan melihat sang kekasih, dia memilih mempersilahkan orang tua Aira terlebih dahulu, dia tau Ayah Aira itu sudah tak sabar melihat anak gadisnya


"Ahhh... "Terima kasih saya duluan Tuan...!" ucap Ayah Alek, dengan senang hati, di perbolehkan lebih dahulu melihat anak gadisnya itu.


"Tumben si kulkas mengalah!" sindir Wiliam.


"Lagi cari muka, biar dapat restu dari calon ayah mertua!" ledek Arya,


Brian hanya mendengus kesal, dengan ledekan Wiliam dan Arya tersebut.


Bima yang tak fokus, dia melihat kesana kemari, mencari keberadaan sang ibu dan adiknya, yang dari tadi tak melihat batang hidungnya itu.


"Nyari apa nak..?" tegur sang kakek,


"Aahhh... maaf tuan, saya mencari ibu dan adik saya?!" ucap Bima sopan


"Ibu dan Adikmu tadi pergi cari makan, saat kita lagi di dalam, Aira di nyatakan meninggal!" ucap sang kakek tersenyum getir.

__ADS_1


Raut wajah Bima langsung berubah, ada marah, benci, kesal, sedih, banyak rasa yang di rasakan oleh Bima.


"huuuuuffff...." terdengar helaan nafas berat dari mulut Bima, dan tersirat rasa kecewa berat di matanya itu,


Sang kakek mengerti dengan keadaan itu, langsung menepuk pundak Bima, seolah olah memberi kekuatan lebih pada Bima.


"Sudah... biarin aja, yang penting dia senang, dan tidak bikin kekacawan di sini!" ucap sang kakek menenangkan hati Bima.


Dan di anggukin oleh Bima, dan tersenyum pada sang kakek.


Di dalam ruangan Aira, Ayah alek memeganggang tangan Aira,


"Sayang... maafin ayah, yang tak becus menjadi orang tua untukmu!" keluh Ayah Alek.


"Maaf ya nak.... ayah janji setelah kamu sadar nanti, ayah akan memberi perhatian lebih padamu, ayah akan menebus kesalahan ayah padamu nak!"


"Cepat bangun nak... banyak orang yang menunggumu bangun sayang, mereka semua menyayangimu, bangun lah, kekasihmu sangat kacau, wajah tampannya sudah hilang semenjak kamu terbaring di sini!" ucap Ayah Alek sambil terkekeh.


"Ayah Sangat menyayangimu" Ayah Aira itu, mencium kening anaknya dengan dalam, menyalurkan rasa sayangnya pada Aira, entah kapan dia pernah mencium sang anak dia tak tau, karena sibuk mencari nafkah,


Tampa dia sadari jari Aira bergerak.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2