
Eeeuughh... Terdengar lenguhan dari mulut Aira dan matanya mulai mengerjap ngerjap lucu, bangun dari tidur pulas.
"Dimana ini..." Aira merasa asing dengan tempat itu.
"Kok bisa tidur di sini sih... perasaan tadi tidur di sofa deh...!" gumam Aira, menyibakan selimut dan melihat sekeliling kamar tersebut,
Mata Aira melotot sempurna melihat ada pajangan fotonya yang sedang tertawa girang di sana,
"Kok ada foto gue di sini sih....!" dan Aira di sebelahnya juga ada figura foto seseorang yang Aira cintai.
"Ncek... berani beraninya dia mencuri foto gue...!" sambil tersenyum mengusap foto sang kekasih hati.
"Lagi apa... hmmmm!" tiba tiba ada sebuah tangan melingkar indah di perut Aira, membuat sang gadis terlonjak kaget, dia tau siapa lagi yang lancang memeluknya selain sang kekasih yang suka seenak udel memeluknya.
Brian yang terbangun dari tidurnya, langsung masuk ke dalam kamar pribadinya, niat hati ingin tidur di samping sang kekasih, malah orangnya sudah bangun duluan.
Brian menciumi leher Aira dan mengelus lembut perut sang kekasih, Aira memejamkan mata merasakan sensasi aneh dari tubuhnya,
"Ahhh... abang, berhenti banyak orang di luar!" ucap Aira sambil mendesah nikmat.
"Biarin aja... pintu sudah abang kunci sayang?!, abang kangen sama kamu! sudah lama tidak ketemu, Kita menikah ya sayang... abang sudah tidak tahan!" bisik Brian di kuping Aira sambil bibirnya menjilati cuping telinga Aira,
__ADS_1
"Abang, berhenti ih...!" otak Aira tidak bekerja sama dengan tubuhnya, otak ingin menolak perlakuan Brian sedangkan tubuhnya meminta lebih,
Brian membalikkan tubuh Aira, dia memeluk tubuh Aira dengan penuh kasih sayang dan berjalan pelan sambil memeluk Aira, Aira terpaksa perjalan mundur, karena dorongan Brian.
"Sayaannnngggg.... mau yah? nikah sama abang, abang mohon...!" dengan muka memelasnya. "Abang ngak bisa romantis sayang, abang ngak ngerti dengan seperti itu, yang abang tau di sini... menunjuk jantungnya, hanya ingin kamu sayang...! menikahlah dengan abang sayang!" memegang ke dua pipi Aira.
Aira tersenyum senang dengan ucapan Brian dia melihat ketulusan dan ke sungguhan di mata Brian, Aira sendiri pun sudah ingin di nikahi oleh Brian, seminggu lebih tak bertemu rasa rindu itu semangkin membuncah di hatinya.
"Jangan hanya tersenyum sayang... jawab dong...!" rajuk Brian seperti anak kecil.
Aira terkekeh geli, dengan tingkah Brian
"Apa abang ngak dengar...!"
"Iya... aku mau!" ulang Aira.
"Mau apa... yang jelas dong sayang!" gemes Brian.
"Iya aku mau nikah sama abang...!" dengan muka memerah antara malu dan kesal sama sang kekasih.
"Beneran sayang... beneran kamu mau nikah sama abang?!" Brian tertawa senang dan memeluk Aira dengan sangat kuat. "Terima kasih, terima kasih sayang.... sudah mau menerima abang!" Brian sungguh bahagia saat ini, walau dalam keadaan kantor yang masih kacau, di tak perduli.
__ADS_1
"Abang lepas ih... sesak ini, ngak bisa nafas!" kesal Aira,
"Maaf maaf, abang terlalu bahagia!" ucap Brian melepaskan pelukannya, namun hanya sebentar saja, setelahnya, dia langsung menyerang bibir Aira dengan buas, dan itu membuat Aira gelagapan, tanpa ada persiapan di serang Brian,
Tak hanya bibir yang jadi sasarannya, leher tak luput dari bibir nakal Brian, dan tangan Brian sudah berkelana, naik naik ke puncak gunung,
Aira hanya bisa mende*ah nikmat dan menge*ang nikmat, tampan bisa menolak apa yang di lakukan Brian,
Aira tak sadar klau bajunya sudah terangkat dan mempertontonkan jambu jamaikanya, bahkan pengamanya sudah tak di tempat lagi,
Bibir Brian sudah menari nari dan berdisco ria di sana dan meninggalkan banyak jejak,
Aira menggelinjang nikmat, dan menjambak rambut Brian menahan sesuatu di bawah sana ada yang mau meledak, membuat kepalanya serasa mau meledak. Aira benar benar di buat lemas oleh Brian.
Brian menghentikan itu semua, dan berlari ke kamar mandi, mencari tante lux, dia ngak mau membobol yang seharusnya belom boleh di bobol.
Aira kaget dan bingung, kenapa Brian kabur ke kamar mandi, dia pikir mungkin Brian kebelet, makanya terburu buru ke kamar mandi,
Aira merapikan kembali pakaian nya, dengan nafas yang masih ngos ngosan.
"Bodoh, bodoh... kebiasaan ngak bisa nolak klau sudah di gerayangin si abang!" rutuk Aira dengan muka sudah memerah, mengingat apa yang barusan terjadi.
__ADS_1