Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 87


__ADS_3

Aleta, memeluk tubuh Aira dingin Aira dengan sangat kuat dia tak perduli ke berada sang kaka sepupunya ikut memeluk Aira, dan menangis tergugu du tubuh yang mulai kaku tersebut.


"Ai.... bangun Ai, jangan tinggalin kami Ai, lihat lai Iii.... semuanya sedih Ai... semuanya kehilangan Ai... Ai bangun Ai... jangan tinggalin kami Ai huu... huu.... Ai, bangun Ai...!" Aleta mengguncang tubuh Aira dengan kencang


Dia tak sanggup kehilangan sang sahabat baik sekaligus pahlawan buat diri dan keluarganya itu.


Aleta meraung sejadi jadinya memeluk tubuh sang sahabat, dia tak ingin kehilangan saat sejatinya itu,


Semua yang ada di situ, tak bisa menahan laju air mata mereka, mendengar jeritan pilu Aleta dan Brian, termasuk para team dokter dan perawat yang ada di sana, menggit bibir mereka untuk menahan isak tangis mereka,


Sungguh sang dokter dan perawat, merasakan begitu besar kasih sayang orang orang di sana terhadap Aira, entah kebaikan apa yang sudah gadis manis itu lakukan, hingga semua orang tak mau kehilangannya, dalam pikiran dokter dan perawat di sana.


Termasuk salah satu dari mereka adalah dokter jason yang mereka datangkan dari luar negeri sana, untuk menyembuhkan Aira, belum sempat dia menangani Aira namun gadis itu telah tiada, ada rasa penyesalan dalam dirinya.

__ADS_1


"Maafkan aku, tak bisa menyelamatkan gadis cantik ini, maafkan keterlambatan ku, bukan maksudku datang terlambat namu pesawat yang berangkatnya lama, di tambah macet jalanan dari bandara!" gumam dokter tersebut menahan Air matanya.


"Bangun sayang... bangun.... jangan pergi hiks... hiks... abang ngak sanggup di tinggal kamu dek, tolong bangun sayang, klau kamu ngak mau bangun ayok.... kita pergi bersama!" ucap Brian.


Mami Brian langsung memeluk Papi Tama, tak sanggup mendengar jeritan pilu sang anak,


"Pi tolong Pi... bangunin Aira, lihat anak kita Pi, jadi seperti ini Pi... pi, Mami mohon bangunin Aira Pi huu... hu...." rengek sang istri di pelukan Papi tama,


"Momy Aleta pun sama, dia memeluk sang suami sangat erat dan kembali pingsan, karena tak kuat melihat itu semua, akhirnya Momy Aleta itu, langsung di gendong suaminya ke ruang IGD agar mendapatkan pertolongan,


Tommy dan Ali, memukul mukul tangannya ke dinding rumah sakit tersebut, hatinya sakit melihat adik angkatnya yang sudah terbujur kaku di dalam dekapan sang kekasih hatinya itu.


Tak ada yang bisa mereka lakukan, hanya memohon keridhoan sang Ilahi, pemilik jiwa, agar bermurah hati, mengembalikan, orang tersayang mereka itu.

__ADS_1


Para mantan preman yang sekarang menjadi kaka angkat Aira itu, berlari tunggang langgang, di lorong rumah sakit tersebut, mendengar sang adik angkat mereka telah tiada, merek syok, sedih dan tak percaya orang baik itu telah kembali ke pangkuan sang ilahi,


"Bagai mana bisa adekku ngak selamat haa.... teriak Toni, tak terima sang adik telah tiada, apa dokter disini tidak becus menanganinya!! kenapa kalian cuma diam!!! teriak Toni.


Dokter dan perawat hanya diam tak menjawab dan tak memasukan ke dalam hati kata kata Toni yang menyakiti hati mereka itu, neraka sangat tau, Toni di luar kendali karena kehilangan orang yang di sayangnginya itu.


Sudah biasa bagi mereka mendapatkan cacian dan pujian, sudah tak kaget lagi buat mereka itu semua, namanya juga pelayan masyarakat, di saat gagal di salahkan dan di hujat setengah mati, saat bersil di sanjung setinggi langit,


Sementara itu, Ibu kandung dan kaka Air itu, sedang memanjakan diri mereka di salon ternama di kota tersebut,


"Aahhh..


enaknya bu, badan ku jadi rileks banget nih, aku mau rubah potongan rambut ku lah, biar kelihatan frees, biar Ceo tampan itu terpesona sama aku!" ucapnya centil.

__ADS_1


"Lakukan saja, yang penting kamu bisa menggaet Ceo tampan itu, ibu sudah tak sabar untuk pamer sama teman teman ibu, dan ibu juga sudah tak sabar mau shoping!" ucap sang ibu sambil berhayal.


Bersambung....


__ADS_2