Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 126


__ADS_3

"Yah... kenapa kontrakannya kecil banget, mana ngak ada ac lagi, gerah tau Yah...?!" keluh Ayu.


"Sudah kalian tinggal di sini dulu, uang Ayah cukup untuk menyewa kontrakan seperti ini, jangan mengeluh terus, bersabarlah sebentar Ayah akan mencari uang buat kontrakan yang lebih besar?!" ucap Pak Roy sedikit kesal dari tadi kedua wanita itu hanya mengeluh dan mengeluh.


Apa mereka tak tau klau dia juga sudah sangat lelah dengan semua ini, belum kartunya di blokir, jabatan di copot, sekarang ada lagi kesialanya.


"sudahlah Ayu, terima aja semua ini, sabarlah sebentar kita tinggal di sini dulu, walau tak nyaman, dari pada kita tidak ada tempat tinggal sama sekali, kamu mau kehujanan atau kepanasan di luar sana?!" ucap Bu Ningsih.


"Ogah..., ya udah iya, kita tinggal di sini, perutku lapar bu!?" rengek Ayu lagi.


"Iya iya sebentar lagi makanan datang Ayah sudah mesan delivery kok?!" sahut Pak Roy dengan malas.


"Sial banget sih gue, bukannya enak hidup gue bersama mereka, malah makin susah, bodo amat lah, mending gue nyelamatin diri sendiri abis ini, biarin deh mereka hidup di tempat ini, besok gue blokir aja nomornya biar ngak ngehubungi gue lagi, mendingan gue baik baikin Tiara lagi, biar hidup gue kembali kayak dulu, percuma aja sama mereka ini, ngak bisa ngapa ngapain taunya cuma foya foya?!" dengus Pak Roy.


"Yah sudah Ayah pulang dulu ya, besok Ayah kesini lagi?!" ucap Pak Roy dengan persaan di buat rasa bersalah.


"Ya sudah mas... pulang lah, besok jangan lupa ke sini ya?!" ucap Bu Ningsih lembut.


"Iya Yah... hati hati, besok jangan lupa kasih uang jajan ya, Yah...?!" ucap Ayu yang tak jauh jauh dari uang.

__ADS_1


"Iya, tenang aja besok Ayah kesini lagi?!" ucap Pak Roy, dan berlalu dari kontrakan tersebut.


"Selamat tinggal semoga hidup kalian baik baik aja di sini, aku harus meninggalkan kalian, maaf membuat kalian kecewa untuk ke sekian kalian?!' ucap Pak Roy menatap kontrakan itu dengan sendu, dan pergi dari sana.


Di tempat Lain...


"Haiiisss.... ayo buruan, kenapa jalan kayak siput gitu?!" tanya Wiliam kepada Nina.


"Kakak yakin kita makan di sini, pulang aja yok, kita beli mie ayam apa pecel lele di pinggir jalan aja ya?!" bujuk Nina, yang tak yakin Wiliam mampu membayar tagihan makan mereka di restoran tersebut, mengingat Wiliam sudah banyak mengeluarkan uang untuk membayar hutangnya kepada rentenir tadi.


"Ya ampun gadis ini... bikin gemes aja!" gumam Wiliam menggelengkan kepala.


"Ngak usah banyak mikir deh, ayo buruan, sudah lapar nih?!" keluh Wiliam.


"Duduk lah, pesan makanannya?!" perintah Wiliam.


"Air putih aja kak?!" ucap Nina dengan polosnya.


"Ya Allah tuhan, gadis ini benar benar bikin gue gemas, gue karungin boleh ngak sih?!" gumam Wiliam.

__ADS_1


"Ya udah mbak pesan steak dua french fries dua sama jus lemon dua dan mineral water dua?!"


"Baik Tuan tunggu sebentar?!" ucap waitres tersebut.


"Kak, kok pesannya banyak banget, aku ngak mau loh.. ya di suruh jadi tukang cuci piring?!" sungut Nina, yang khawatir di jadiin tukang cuci piring di restoran tersebut, mengingat badannya benar benar sudah capek banget.


"Ya ampun, kamu ini masih aja itu yang di bahas?!" dengan gemes Wiliam mengacak rambut Nina.


"Ishhh... kakak rambut aku berantakan nih?!" kesal Nina.


"Boleh cium ngak sih..?!" gumam Wiliam, benar benar Nina menjungkir balikin dunianya saat ini.


"Apa kak?" tanya Nina yang tak mendengar gumam Wiliam dengan jelas.


"Tidak ada" jawab Wiliam canggung.


"Oh iya, kok kamu bisa berhutang sama rentenir?"


"Itu, Ibu ku sakit sakitan di kampung, adik adikku juga butuh uang untuk sekolah dan makan, sedangkan bapakku tak perduli, dia jarang pulang, klau pulang pun, hanya menyusahkan ibu, bukanya ngasih uang, malah merampas uang ibu, lalu pergi lagi?!" keluh Nina, entah mengapa dengan Wiliam dia los kek Air lepas dari bendungan menceritakan keadaan keluarganya, bahkan teman temannya dulu, maupun Aira dan Aleta tak tahu kisah hidupnya, dia tak pernah bercerita kepada temannya itu.

__ADS_1


Wiliam mengangguk anggukan kepalanya tanda mengerti, dia salut sama Nina bisa bertahan hidup di kota ini kuliah sambil bekerja dan juga menghidupi keluarganya di kampung sana.


Bersambung..


__ADS_2