
Sedang enak enak menikmati makan siang bersama
Ting....
Bunyi sendok jatuh mengenai piring, semua mata menuju arah suara tersebut, dengan tidak sengaja Pak Alek melihat wajah sang anak.
"Aira kenapa nak" ucap Pak Alek Panik melihat wajah Aira memucat.
"Sakit..." desis Aira.
"Sayang...." teriak Brian panik melihat sang istri, dia lansung berjongkok memegang tangan Aira.
"Abang, sakit..." desih Aira sampai keluar air mata dan berkeringan dingin.
"Mana yang sakit sayang, kasih tau abang" ucap Brian panik.
"Perut aku sakit, kayaknya mereka berebutan ingin keluar" ucap Aira
"Hiiissss..." desis Aira.
"Hah... kalian mau keluar nak, ayo keluar, Ayah sudah tidak sabar melihat kalian, Ayo keluar" ucap Brian mulai kumat begonya.
Plak....
Satu pukulan mengenai kepala Brian.
"Aduh... sakit Bang..." kesal Brian, karena kepalanya di pukul Bima.
"Dasar bego, bawa adek saya ke rumah sakit" kesal Bima.
"Lah abang saja yang bawa, ngapain aku, kan aku mau jaga istri aku , sebentar lagi anak aku mau keluar, ini lagi nunggu" ucap Brian dengan bodohnya.
Keluarga nya menepuk jidat masing masing melihat tingkah bodoh Brian itu.
Dengan kesal nya Bima lansung menggendong sang adik yang luar biasa beratnya, namun tidak membuat Bima kesulitan, dengan langkah lebar membawa sang adik menuju mobil.
__ADS_1
"Bang istri aku mau di bawa kemana" teriak Brian.
"Bego..." teriak yang ada di sana.
Dan meninggalkan Brian di sana.
"Haii... kalian mau kemana, aku kok di tinggal, trus istri aku mau di bawa kemana" teriaknya
Papi Tama lansung menendang sang anak, kenapa saat saat darurat begini anaknya itu jadi bego.
Bukkk....
"Aduh... sakit pi... kenapa sih..." kesal Brian.
"Istri kamu mau lahiran di bawa ke rumah sakit kamu masih kayak orang bego di sini!" kesal Papi Tama.
"Haa.. jadi istri aku yang di suruh bawa ke rumah sakit!" teriak Brian terbirit birit keluar mengejar Bima.
Saat sampai di mobil, Brian lansung menerobos masuk dan duduk di samping sang istri, Bima hanya mendelik malas melihat adik ipar sekaligus Ceo nya itu.
"Maaf sayang abang ngak tau" ucap Brian merasa bersalah.
isssttt.... huuuff....
Aira tak henti hentinya menarik nafas, menahan rasa sakit.
"Masih lama ya...Bang, ngak kuat" ucap Aira.
"Sabar sayang, sebentar lagi sampai" ucap Brian mengelus perut buncit Aira.
"Haiii... sayang sabar ya nak, tunggu sebentar lagi, jangan lahir di sini, Ayah ngak tau mau ngapain soalnya" ucap Brian.
Aira dan Bima hanya menatap malas Brian.
Sepuluh menit berlalu sampai lah mereka di rumah sakit, dan ke dagangan Aira sudah di tunggu di sana.
__ADS_1
"Dokter Aira.." panggil dokter kandungan itu.
Aira hanya memberi senyum paksa, karena sakit.
"Hati hati dok, masih bisa jalan, apa mau di bopong?" tanya dokter yang menunggu ke datangan Aira itu.
"pakai kursi roda saja Dok" jawab Aira baik lah.
Baru juga turun dari mobil, air ketuban Aira lansung meleleh dari pangkal pahanya.
"Ya ampun... lansung bawa ke ruang bersalin" titah sang dokter, Aira yang tadinya mau pakai kursi roda lansung di bawa pakai brankar dengan sedikit ngebut, karena bayinya sudah ingin membobol gawang ibunya.
Aisyah di bawa masuk ke dalam dan pintu ruangan lansung di tutup, Brian pun ikut tanpa banyak drama dia tidak berani berkata sepatah kata pun, dia sudah panik melihat sang istri.
Di luar sana, lewat beberapa orang perawat dan dokter, sedang berbicara dan bisa di dengar oleh keluarga Aira.
"Siapa yang lahiran? kenapa dokter kepala yang lansung turun tangan?" tanya salah satu dokter.
"Dokter Aira dok" jawab perawat.
"Haa... dokter cantik lahiran?" jawab sang dokter kaget.
"Semoga Ibu dan Anak anaknya sehat" doa tulus keluar dari mulut sang dokter.
Bima, Pak Alek, Bu Ningsih, dan Ayu di tengah kecemasannya penasaran apa kah Aira anaknya itu dokter?
Tapi pikiran mereka lansung teralihkan dengan suara lengkingan bayi dari dalam sana bersahut sahutan.
Oweekkkk....
Oweekkk...
Oweekkkk....
Bersambung....
__ADS_1
Hai... jangan lupa like komen dan vote ya...
"Terimakasih..."