
Hari berlalu, seminggu sudah Bu Ningsih di rawat di rumah sakit, dan kini dia di nyatakan sembuh, walau dia harus menjalankan terapi berjalan, akibat dulu tertabrak mobil yang sempat berhenti, dia akan datang ke rumah sakit untuk terapi seminggu dua kali.
"Ayo kita pulang Bu?!" ajak Aira yang sengaja datang untuk menjemput sang Ibu.
"Pulang kemana?" tanya Bu Ningsih, sungguh dia tidak ingin tinggal bersama anaknya itu, dia tidak cukup punya muka melihat wajah keluarga suami Aira, yang masih melihat dia dan Ayu masih belum bersahabat.
"Ibu akan tinggal di kontrakan bersama Kak Ayu, ngak apa apakan?" tanya Aira lembut.
"Iya ngak apa apa, yang penting kami tidak tinggal di kolong jembatan lagi sudah syukur" ucap Bu Ningsih mergidik ngeri, membawangkan kejadian dia di usilin anak anak jalanan di sana.
Ayu pun tidak kalah senangnya, karena dia pikir Aira hanya berbohong akan membawanya ke rumah kontrakan.
Sungguh cuma Aira harapan dua wanita beda usia itu, karena tidak ada lagi keluarga bahkan orang terkasih mereka yang bersama mereka lagi, bahkan Ayu pun sudah di putuskan kekasihnya, karena tidak mau dengan Ayu lagi, karena Ayu sudah tidak cantik lagi dan tidak punya uang untuk sang kekasih bisa berfoya foya.
"Tidak apa kami tinggal di sebuah kontrakan walaupun di gang sempit sekali pun, yang penting kami ada tempat untuk berteduh, tapi.... apa kakak boleh minta tolong sekali lagi?" ucap Ayu takut takut.
"Minta tolong apa kak" tanya Aira.
__ADS_1
"Boleh kakak di kasih pekerjaan, atau tidak beri kakak modal untuk buka warung kecil kecilan, asal jangan jauh jauh dari Ibu, hanya Ibu satu satunya yang kakak punya" ucap Ayu menunduk dan tidak bisa menahan laju air matanya.
"Iya nanti kita pikirkan, kakak mau jualan apa, sekarang kakak pulang dulu kita bicarakan soal ini nanti" ucap Aira sambil mengelus bahu Ayu.
"Ah, iya baik lah..." ucap Ayu, itu tidak luput dari pandangan mata Bu Ningsih, yang ikut berkaca kaca melihat pemandangan itu.
Sungguh Bu Ningsih merasa menyesal telah berbuat tidak adil kepada anak perempuannya itu, anak yang dia terlantarkan itu justru yang menolong dia saat terjatuh, sedangkan orang yang dia cintai sampai mati dan mengorbankan rumah tangganya malah tidak melihat sama sekali ke arahnya dan darah dagingnya sendiri sudah tidak di akui.
"Ayo kita pulang" ajak Aira.
"Kursi roda ibu yang lama mana?" tanya Bu Ningsih.
"Yang lama sudah rusak, aku ganti dengan yang ini klau yang ini bisa jalan sendiri, Ibu bisa tekan tombol ini, dia akan berjalan sesuai arahan Ibu" ucap Aira menjelaskan pemakaian kursi roda dan di simak oleh Ayu.
"Ya Allah nak, ini pasti mahal sekali, Ibu tidak enak menerimanya" ucap Bu Ningsih berkaca kaca.
"Tidak apa ngak mahal kok, yang penting ibu nyaman memakainya, mahal ngak jadi masalah" ucap Aira lembut dan memeluk sang Ibu.
__ADS_1
"Terimakasih nak, terimakasih, sekali lagi maafkan ibu" ucap Bu Ningsih dengan air mata yang sudah berjatuhan.
"Iya Bu... sekarang klau Ibu mau aku maafkan, ibu harus bisa jalan dan semangat untuk sembuh, biar nanti ibu bisa gendong cucu cucu ibu" jawab Aira lembut.
"Iya pasti ibu akan semangat untuk sehat, ibu ingin menjaga kamu saat kamu lahiran, Ibu ingin merawat cucu cucu Ibu sebagai pengganti merawat Bundanya saat kecil, yang tidak ibu lakukan" ucap Bu ningsih sendu.
Ayu pun ikut meneteskan air mata dan ikut larut dalam penyesalan, telah berbuat jahat kepada sang adik, namun adiknya malah menariknya dari ke gelapan, saat sekarang baru dia merasa bersalah.
Aira memeluk sang ibu dengan lembut, walau tangannya tak sampai terhalang perut buncitnya, namun itu sudah cukup membuat ibu Ningsih bahagia.
" ya sudah mari kita pulang sebelum di usir sama petugas" kekeh Aira dan yang lain juga ikut terkekeh.
Bersambung...
Hai.... jangan lupa like komen dan vote ya...
"Terimakasih..."
__ADS_1