
Pagi adek abang yang cantik?!" Bima menyapa Aira yang masak di dapur, di rumah sang Ayah.
"pagi Abang, abang mau minum apa?!" tanya Aira.
"Kopi hitam aja dek?!" Bima sungguh senang adiknya menanyakan dia mau minum apa, seumur umur baru kali ini dia merasakan minuman dan makanan yang di buat oleh sang adik.
"Wokeh, abang tunggu di taman belakang aja, Ayah ada di sana, nanti aku anter ke sana, kak Dewi belum bangun bang?!"
"Makasih" adek abang yang cantik, kaka mu semenjak hamil, susah bangun pagi, pusing katanya?!" Aira mengangguk tanda mengerti.
Aira yang masih fokus membuat sarapan nasi goreng putih, telor ceplok, bihun goreng dan kerupuk, tiba tiba di kagetkan dengan sebuah tangan kekar membelit pinggangnya, siapa lagi klau bukan suami tampannya itu.
"Ya ampun, abang ngagetin aja sih?!" kesal Aira karena sempat terlonjak kaget.
"Hehehe.... "Maaf" sayang!"
"Tunggu di meja makan sebentar, aku sedikit lagi selesai?!" ucap Aira lembut, sambil mengcup sekilas pipi sang suami.
"Mau gini aja deh?!" ucap Brian menggodang sang istri.
__ADS_1
"Iiihhh... abang, aku susah geraknya tau?!"kesal Aira.
"Iya, iya ini abang lepasin?!" ucap Brian yang tak mau membuat ratunya itu marah.
Selesai membuat sarapan Aira memanggil Ayah dan abangnya, dan menyuruh sang abang memanggil kaka iparnya di kamar.
Semua sudah berkumpul di meja makan untuk menyantap sarapan yang di buat Aira tersebut.
"Maaf ya dek, kaka ngak bantuin?!" ucap Dewi tak enak hati.
"santai aja kak, ngak masalah kok, lagian masak gini doang, trus kaka juga karena bawaan hamil, sudah sekarang makan, ini aku udah buatin susu hamil buat kaka?!" menyodorkan segelas susu hamil ke arah Dewi.
Dewi yang mendapatkan perhatian dari adik iparnya, sungguh terharu, Dewi yang biasa hidup sebatang kara, ibu dan ayahnya sudah lama meninggal, sejak Dewi baru tamat SMA dan setelah ke pergian orang tuanya Dewi merantau ke kota karena tidak ingin di jodohkan oleh sang paman dengan laki laki yang sudah mempunyai istri lebih dari satu.
"Sama sama, ayok makan?!" Aira mengambilkan makan sang Ayah dan suaminya dengan telaten, setelah itu baru dia mengambil makan buat dia sendiri.
Ayah Alek dan Bima tersenyum senang melihat perhatian dari Aira.
"masakannya enak banget sayang?!" ucap Ayah alek, memuji makanan Aira yang memang benar adanya makanan Aira memanglah sangat enak.
__ADS_1
"Benarkah, Ayah menyukai masakan aku, Ayah ngak bohongkan?!" tanya Aira berbinar.
"Benar sayang masakan kamu juaranya, nyesel Ayah yang baru sekarang memakan masakanmu? ucap Ayah Alek.
"Ahhh.... syukurlah Ayah menyukai masakan aku?!" ucap Aira dengan senan hati.
Setelah selesai makan, mereka duduk di ruang tengah.
"Ayah beneran ngak mau ikut aku ke kota J?" tanya Aira.
"Iya sayang Ayah pengen si sini aja, sebentar lagi Ayah sudah pensiun dan kaka iparmu akan melahirkan, jadi Ayah punya mainan di rumah?!" ucap Pak Alek berbinar.
"Trus Ayah mau ngapain klau sudah pensiun?!"
Ayah ingin berkebun aja di sini, makanya Ayah ambil rumah di sini, karena rumahnya asri dan di belakang ada kebun luas, ayah bisa bercocok tanam di sini, dan rumah Ayah dan abang mu tidak terlalu jauh, jadi abangmu bisa sering sering main ke sini, apa lagi nanti ada cucu Ayah?!" ucap Ayah Alek, agar anak gadisnya tidak perlu kawatir.
"Baik lah klau ayah maunya gitu, tapi ingat Ayah harus tlp aku tiap hari?!" ucap Aira manja.
" Iya sayang nanti telepon kamu sehari tiga kali?!" canda Ayah Alek?!"
__ADS_1
Semuanya terkekeh dengan ucapan Ayah Alek, di kira minum obat sehari tiga kali, pikir orang orang disana.
Bersambung...