Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 228


__ADS_3

Keluarga Aira sudah pulang lebih duluan, di minta oleh Aira, kini tinggal lah Aira dan Brian di rumah sakit.


"Kakak sudah berapa lama di kota ini?" tanya Aira.


"Sudah dua bulan, mau pulang ke kota Y juga percuma, kami tidak mempunyai rumah di sana?!" ucap Ayu sendu.


"Kok kakak ngak ngelamar kerja aja?"


"Kami kecopetan saat sampai di sini, jadi ijazah kakak kena copet tidak ada yang tersisa?!"


"Kakak pernah kerja di warteg, namun Ibu ngak ada yang jaga, ibu di usili sama anak anak, jadi kakak berhenti bekerja, tapi kami butuh makan, mau tidak mau kakak jadi pengamen untuk kebutuhan kami" ucap Ayu sambil menunduk.


Aira hanya bisa menarik nafas, jujur Aira merasa sakit melihat Ibu dan Kakaknya itu, walau bagai mana pun, sejahat jahatnya Ibunya itu tetap dia adalah orang tua Aira, sejahat jahatnya Ayu dia tetap lah kakak Aira, lahir dari rahim yang sama aliran darah yang sama.


"Untuk sementara Kakak, tinggal di rumah sakit dulu ya, sambil menunggu Ibu sembuh?!" ucap Aira memegang tangan Ayu.


Ayu cuma mengangguk, meng iyakan ucapan Aira, dia tau Ibunya itu sakit, tapi bagai mana lagi tidak ada uang untuknya mengobati sang ibu, kini ada Aira sang adik yang selalu dia jahatin dan mengulurkan bantuan, ya mau tidak mau harus iya terima dengan malu hati.


"Setelah Ibu sembuh, kakak dan Ibu pindah ke kontrakan yanh sudah aku sediakan?!" ucap Aira lagi.


"Tapi... " belum sempat Ayu meneruskan ucapannya sudah di potong oleh Aira.


"Tidak ada tapi tapian dan tidak ada bantahan!" tegas Aira.


Yang mau tidak mau di ikuti oleh Ayu.

__ADS_1


"Baik lah, kakak nurut sama kamu?!" ucap Ayu.


"Maaf... Aira, maafin kakak hu... uu... sudah jahat selama ini sama kamu hiks... hiks... kakak menyesal sudah menjahati kamu"


"Sudah kak, yang lalu biar lah berlalu, yang penting kakak sekarang harus berubah jadi orang baik"


Ayu mengangguk dan mengiyakan ucapan sang adik.


"Ya sudah kita ke IDG dulu, mungkin sekarang ibu sudah selesai di tangani di IGD" ucap Aira, berdiri dari duduknya, hampir saja di ke peleset gara gara lantai licin, ke tumpahan air.


"Hati hati sayang?!" ucap Brian menangkap sang istri.


"Makasih abang, lantainya ada air, aku ngak lihat" ucap Aira mengelus perut buncitnya, dia juga kaget dengan ke jadian itu.


Sepanjang jalan Brian tidak melepaskan pegangan tangannya pada sang istri.


Sesampai di depan pintu IGD ke betulan dokter juga baru ke luar dari sana.


"Keluarga Bu Ningsih" ucap dokter.


"Saya Bu" Aira.


"Begini Nona, Ibu anda terkena gizi buruk dan ada peradangan di kaki yang bekas operasi dan harus mendapatkan penanganan lebih lanjut, saran kami Ibu anda di rawat di rumah sakit untuk sementata waktu Nona" ucap dokter.


"Baik dok, tolong tanganin Ibu saya dengan baik" Aira.

__ADS_1


"Klau begitu tolong urus administrasi nya dulu Nona, agar pasien bisa di pindahkan ke ruang rawat inap"


"Baik dok, terimakasih" ucap Aira sopan dan berlalu dari sana untuk mengurus ke pindahan sang Ibu.


Tak selang lama, Bu Ningsih sudah di pindahkan ke ruangan VVIP oleh Aira, dia memberikan kenyamanan untuk Bu Ningsih dan Ayu.


Ayu pun sudah Aira suruh mengganti pakaiannya, dan Aira memberi bekal uang untuk Ayu yang berada di rumah sakit itu, Aira juga memenuhi makanan untuk Ayu dan Ibunya sebelum Aira pulang ke rumahnya.


"Ya sudah kak, jaga Ibu ya, aku pulang dulu, sudah malam" ucap Aira.


"Iya Ra, makasih" ucap Ayu.


Bersambung....


Haiii... jangan lupa like komen dan vote ya..


Janga lupa juga baca karya aku yang lainnya ya.


*Nikah Rahasia


*Suamiku Tak Di Anggap.


Sebenarnya novel suamiku tak di Anggap ini novel pertama ku, namun karena banyak kesalahan dan peubi yang salah jadi aku revisi ulang dan karena lama revisi Aku lama tidak bikin bab baru, ini sudah selesai di revisi dan sudah mulai lanjut bikin bab baru.


Dan maaf kemaren tidak bisa memenuhi janji akan menambah bab di rumah sakit, karena terlalu berisik akunya ngak konsen nulis jadi terpaksa ngak bisa nambah bab. Mohon maaf ya😊😊🙏🙏🙏

__ADS_1


"Terimakasih..."


__ADS_2