Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 148


__ADS_3

Eeegghhh... Lenguh Aira, yang terbangun dari tidur lelapnya, dia menggeliat merasakan pegal pada tubuh yang di tindih oleh sang suami.


"Ya ampun badanku kayak di tindih kayu besar?!" gumam Aira, sambil menggeliat melepaskan pelukan Brian.


Brian melonggarkan pelukannya, dan membuka mata, merasakan pergerakan dari sang istri.


"Sudah bangun sang?!" ucap Brian dengan suara serak bangun tidur.


"Hm..." Saut Aira yang masih berada dalam kungkungannya,


"Abang lepas iihhh... Berat ini?!" rengek Aira.


"Kenapa harus di lepas, kayak gini kan enak?!" ucap Brian usil, sambil menggerayangi tubuh sang istri.


"Ahh... Abang?!" de*ah Aira karena elusan tangan sang suami di daerah sensitifnya, Brian juga membuka pembukus gunung kembar itu dengan gesit, dan memilin milin buah ceryy yang berada di atas gunung himalaya itu, dan bibir Brian sudah melang lang buan di area leher dan terus menyusuri setiap lekuk tubuh sang istri.


Aira di buat samaput oleh sang suami, tangan Aira menjambak rambut sang suami, saat lidah sang suami bermain main di bibir goa yang di tumbuhi rumput liar itu, dan jari Brian masuk kedalam goa tersebut dan dengan gesit maju mundur di sana, goa yang tadi kering kerontang lansung menyemburkan mata air di dalam sana, Brian tersenyum puas melihat hasilnya dan mengangkat kepalanya, dan langsung menindih tubuh sang istri dan lanjutkan hayalannya ya author tidak kuat hehehe....


Puas memadu kasih di sore itu, Brian mengangkat tubuh polos sang istri kedalam kamar mandi, mereka membersihkan tubuh yang sudah lengket dengan keringat dan muntahan dari ular pyton Brian itu.

__ADS_1


Ternyata mereka bukan hanya mandi, Brian kembali menggempur sang istri sampai lemas di kamar mandi, keluar keluar bibir Aira sudah mengerucut karena kesal pada sang suami.


"Jangan ngambek dong sayang?!" kekeh Brian


"Abang itu kebiasaan, ngak pernah puas, heran deh?!"


"Untuk yang satu itu abang mana bisa puas sayang, abang kan lagi semangat semangat cetak cucu yang banyak buat Ayah, Mami Papi dan cicit buat Kakek, biar mereka tidak kesepian?!" saut Brian tanpa dosa.


"Emang abang mau punya anak berapa sih?" tanya Aira penasaran.


"Sedikasih sama tuhan aja sayang, di kasih dua belas terima klau di kasih lima belas yang ngak apa apa?!" ucap Brian usil, untuk langsung membuat sang istri meradang.


"Ahahahaha.... kamu lucu deh sayang kalau lagi ngambek gini?!" ucap Brian, sambil memeluk tubuh sang istri, dan mencium pipi cabyy Aira bertubi tubi.


"Awas ah... aku lapar, abis di suruh kerja rodi malah ngak di kasih makan!!" cemberut Aira.


"Oh... cinta abang ini lapar toh... maaf ya sayang abang lupa, mau makan apa sayangku cintaku?!" rayu Brian.


"Aku mau steak, mau potato, mau spagety, mau sate taican, mau bakso mercon, sama burger, dan minumnya mau jus jeruk, jus strobery sama es cream?!"

__ADS_1


Brian melongo dengan permintaan sang istri,


"Kenapa bengong, ngak mau beliin, apa ngak punya uang buat beliin aku makan?!" sungut Aira.


"Astaga... enak aja ngatain ngak punya uang, banyak ini uang abang, buat ngidupin anak cucu kita sampai sebelas turunan sebelas tanjakan sebelas tikungan abang masih mampu loh sayang, masalahnya bukan itu?!"


"Trus masalahnya apaan....?!" sungut Aira berkacak pinggang.


"Ya ampun kenapa jadi kayak macan gini sih... Ini abang pesanin, istri cantik abang duduk sini sayang?!" rayu Brian.


Tak lama pesanan Aira datang, Brian lansung menantanya di atas meja di ruangan itu, Aira tanpa ba bi bu, lansung tancap gass memakan makanan yang ada di atas meja tersebut, tampa memperdulikan Brian yang menelan ludahnya melihat cara makan sang istri, yang tiada anggun anggunnya itu.


"Kenapa diam, abang ngak makan?!" tanya Aira dengan mulut masih penuh oleh makanan itu.


"Makan dulu sayang baru bicara, abang sudah kenyang melihat sayangnya abang ini makan?!"


Aira masa bodo dan mengakat bahunya acuh, dan kembali menyatap makanan tersebut hingga tandas.


Brian hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan sang istri kesayangan nya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2