
"Untuk apa kami kamu suruh datang kesini?" ucap Pak Alek datar.
Bu Ningsih dan Ayu cengok mendengar ucapan mantan suaminya itu.
"Kenapa diam, aku tak banyak waktu untuk berada di sini, masih banyak pekerjaan penting yang harus aku kerjakan!!" ucap Pak Alek tanpa ekspresi.
Bu Ningsih hanya mendengus kesal mendengar ocehan Pak Alek, apa benar hati Pak Alek sudah tidak ada untuknya.
"Mas kamu lihat aku sekarang lumpuhkan?!" ucap Bu Ningsih mengiba.
"Lalu masalahnya apa sama aku?" tanya Pak Alek cuek.
Ayu dan Bu Ningsih melotot tak percaya dengan ucapan Pak Alek, selama ini, yang selalu berbicara lembut dan penuh kasih, kepadanya dan Ayu, namun sekarang jangankan, binaran cinta di matanya, malah memandang tanpa kasihan malah.
"Apakah segitu buruk aku bagimu?" sendu Bu Ningsih, seolah olah dia tak pernah membuat masalah. (hehehe sorry rayder membuat kalian kesal outhor sendiri juga gemes sama pikiran sendiri hehehe....)
"Menurut mu?" tanya Pak Alek santai.
Bima hanya memandang sang Ibu tanpa minat, malah asik berbalas pesan dengan sang istri, dan senyum senyum sendiri, melihat perut buncit sang istri yang bergerak gerak ulah sang anak di dalam perut istrinya itu, dia melihat Vidio yang di kirim oleh istri tercintanya.
"Bisa kah kita rujuk kembali, kita mulai lagi dari awal, membina rumah tangga yang bahagia?!" ucap Bu Ningsih tiada otak.
Tanpa di komando Bima dan Pak Alek tertawa berjamaah.
HAHAHA....
__ADS_1
"Kenapa kalian tertawa, apa ada yang lucu?" tanya Bu Ningsih bingung.
"Bu... klau ngelawak kira kira dong, hahaha....
Haduh.... Yah, perutku sakit?!" ucap Bima memegang perutnya.
"Ayah juga.... hahaha" yang masih tertawa tawa.
"Ya Tuhan... aku berasa sedang bermimpi yah?!" ucap Bima.
"Ayah juga!" ucap Pak Alek.
"Ayah dari tadi ngikutin aku terus sih...!!" kesal Bima.
"Lah memang itu kenyataannya!!" mereka malah jadi ribut berdua tanpa memperduli kan dua mahkluk astral di sana.
Buahahaha.... tawa dua laki laki beda usia kembali pecah.
"Kamu klau ngomong mikir pakai otak dulu jangan hanya terbawa nafas aja!!" ucap Pak Alek santai dan duduk di samping Bima.
"Aku sudah memikirkan nya, matang matang, aku ingin hidup bahagia sama kamu!!" ucap Bu Ningsih tegas.
"Kamu ingin hidup bahagia bersama ku, untuk menghabis kan uang ku begitu, karena sekarang kamu lumpuh dan tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai pekerjaan dan oleh sebab itu kamu ingin bersama aku lagi, agar bisa tinggal di rumahku, makan enak dengan gratis, berfoya foya gitu!!" ucap Pak Alek tanpa jeda.
Duarrr....
__ADS_1
Ucapan Pak alek, bagaikan sambaran petir bagi ke dua medusa itu, bagai mana tidak, selama hidup bersama pak Alek tak pernah Pak Alek berkata kasar kepada mereka berdua.
"Alek kamu jangan keterlaluan ya, sudah syukur aku mau kembali sama kamu, harusnya kamu senang, bukan berkata kasar kayak gini!!" marah Bu Ningsih.
"Dan aku yang tak sudi kembali kepadamu, wanita pembuat maksiat, bahkan bisa hamil anak selingkuhan, dan sekarang sudah lumpuh, buat apa aku kembali kepada mu, wanita lumpuh!!" hina Pak Alek.
Deg.... jantung Bu ningsih dan Ayu, sakit bagaikan di tikam ribuan jarum atas hinaan Pak Alek.
"Ayah jangan ngomong begitu, setidaknya aku pernah menjadi anak kesayangan Ayah?!" ucap Ayu sendu.
"Berhenti memanggil ku Ayah, kau bukan anakku, dan iya aku pernah sayang padamu, tapi aku menyesal pernah menyayangimu, karena kebodohanku aku tak tau kalau kau bukan anakku, dan kau berani beraninya, membuat aku membenci anak kandungku!!" marah Pak Alek.
Ayu hanya bisa tertunduk tak berkutik.
"Dan kau wanita lumpuh, kau ingin aku ganti rugi karena sudah melahirkan anak untukku, dan ini aku kasih cek sepuluh juta, itu sudah lebih dari cukup, karena selama ini kau sudah menghabiskan uangku, jadi itu sudah cukup bagi kalian untuk mencari kontrakan!!" Pak Alek melemparkan cek ke atas kasur yang di tempati oleh Bu Ningsih.
Dan ingat jangan pernah ganggu anak anakku, selama ini kau tak pernah bersikap baik kepada mereka, dan tidak ada tanggung jawab mereka untukmu, bahkan kedua anakku pernah hampir kau gugurkan, karena saking tak inginnya kau mendapat anak dariku!!" ucap Pak Alek sinis.
Deg....
Jantung Bima berpacu lebih kencang dari biasanya, tak menyangka sang Ibu begitu bejatnya, dia tak bisa berkata kata, cukup sudah Ayahnya melontarkan sumpah serapah bagi Ibu durjana itu, muka Bima memerah menahan marah, benci, sedih, dan terluka.
"Dan mulai sekarang, jangan pernah temui kami lagi, cari lah kebahagian kalian sendiri!!" ucap Pak Alek menatap Bu Ningsih dan Ayu bergantian dengan mata yang memerah menahan marah, setelah itu berbalik pergi meninggalkan ruangan itu dan di ikuti oleh Bima dari belakang, tanpa melihat sedikitpun kepada sang Ibu.
Bersambung....
__ADS_1
jangan lupa like komen dan vote.