Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 128


__ADS_3

Seminggu berlalu...


"Bu... kok Ayah ngak pernah kesini sih, di tlp juga ngak bisa?!" keluh Ayu.


"Iya Ibu juga sudah selalu menelpon Ayahmu, tapi ngak ada jawaban, selalu operator yang jawab?!" kesal Bu Ningsih.


"Trus gimana nasib kita ini Bu...?!"


"Entah lah, ibu juga bingung, mana tabungan Ibu juga sudah mulai menipis, dan kita ngak punya kerjaan!" keluh Bu Ningsih.


"Ibu tau ngak alamat rumah atau kantor Ayah di mana, kita cari aja kesana, kita temui Ayah, masa bodo sama istrinya, dari pada kita terlunta lunta di sini?!" usul Ayu.


Bu Ningsih hanya bisa terdiam, karena dia lupa menanyakan alamat rumah dan kantor sang kekasih hatinya.


"Bu... kok diam aja sih?!"


"Haahh... kenapa, kamu nanya apa tadi?!" tanya Bu Ningsih yang baru sadar dari lamunannya.


"Ibu tau alamat Ayah dimana?" ulang Ayu.


Bu Ningsih cuma menggeleng pelan.

__ADS_1


"Ibu juga lupa menanyakan alamat kantor dan alamat rumah Ayah mu?!" keluh sang ibu.


"Trus kita gimana dong?!" ucap Ayu frustasi.


"Iya Ibu ceroboh, karena sudah bertemu dengan Ayahmu, Ibu jadi lupa menanyakan alamatnya?!" sesal Bu Ningsih.


"Trus gimana kita bertahan disini Bu, sedangkan kita sudah kekurangan uang?!"


"Kita cari Aira saja, minta uang sama dia, kan sekarang hidupnya sudah enak, kita minta sebagai ganti rugi, karena sudah membuat aku masuk rumah sakit dan juga sampai kehilangan banyak darah, klau ngak ada donor darah aku kan bisa mati Bu?!" ucap Ayu penuh semangat.


"Ah... kamu benar, kita harus mencari dia, anak sialan itu harus bertanggung jawab sama kamu, jangan sampai dia hidup enak di atas penderitaan kita, kapan perlu kita minta dia uang banyak dan membiayai hidup kita setiap bulan?!" usul Bu Ningsih yang tidak masuk akal, memang siapa yang mau di celakai dan mau di minta pertanggung jawaban, ada ada saja lampir dua ini.


"yuk... Bu kita cari dia sekarang, jangan buang buang waktu lagi, keuangan kita juga sudah sangat menipis?! ajak Ayu kepada sang Ibu.


Sedangkan orang yang mereka cari sekarang lagi bersenang senang di kota Y, berhubung Aira libur kuliah dan Brian juga ada urusan di kota Y jadi Brian mengajak Aira untuk ikut menemaninya ke kota Y, sekalian untuk melihat Ayah mertuanya disana.


"Yang kita nginap di rumah Ayah saja ya?!" ucap Aira manja kepada sang suami, mereka baru saja sampai di kota Y, dan menuju ke anak perusahaan di kota Y tersebut.


"Kenapa ngak nginap di hotel saja, kan kita bisa bebas?!" celetuk Brian yang ngak mau nginap di rumah sang mertua, karena dia sudah membayangkan sang istri akan di monopoli oleh Ayah mertua dan abang iparnya itu, sungguh membayangkan saja Brian tak mau, karena dia ngak mau berpisah sedikitpun dari sang istri.


"Ncek... Aku kan pengen ketemu Ayah bang, kangen aku tuh, kamu tau...

__ADS_1


kalau aku dari dulu sangat merindukan pelukan Ayah dan Abangku dari dulu, namun pelukan mereka baru aku dapatkan dengan memakan waktu yang sangat lama, waktu yang aku tunggu tidak lah sebentar aku mendapatkan itu harus dengan kejadian tragis dulu, harus pakai acara koma dulu, baru aku mendapatkan pelukan ayah dan abangku?!" ucap Aira sendu.


Brian mendengar ucapan sang istri, hatinya berdenyut nyeri, dia tak bisa membayangkan kehidupan yang di jalani oleh sang istri selama ini, penderitaan seperti apa yang telah di lalui oleh istri cantiknya itu.


"Baik lah kita akan menginap di rumah Ayah, sebanyak yang kamu mau, tapi dengan satu syarat, kamu tetap tidur sama Abang ok, abang ngak mau tau pokoknya?!" ucap Brian penuh penekanan.


"Yey.... abang yang terbaik, aku sayang abang


Muach...


Muach...


Muach...


Aira tanpa sadar, karena terlalu bahagia di izinkan untuk nginap di rumah Ayahnya, sangat lah girang, dia memeluk sang suami dengan erat dan menciumnya bertubi tubi, dia lupa keberadaannya sekarang, supir yang membawa mobil Aira dan Brian tersebut hanya bisa memfokuskan matanya ke depan, dengan kuping tetap terpasang mendengar suara suara aneh di belakang, dan mukanya jangan di tanya sudah memerah bak kepiting rebus.


Brian tentu saja tak akan menyia nyiakan kesempatan yang di berikan sang istri, Brian menangkup bibir sang istri saat bibir sang istri mendarat sempurna di bibirnya.


Brian melu*at bibir tipis itu dan mulai sedikit memble karena Brian selalu setiap saat menyerang bibir itu tanpa ampun. suara decapan decapan tersebut membuat belut listrik sang supir juga ikut ikutan berkedut kedut.


"Hais... tak berperasaan kan, aku jadi ngak konsentrasi menyetir dan si belut malah pengen cari lubang, neng abang rinduuu....!!" jerit hati sang sopir.

__ADS_1


Bersambung....


Haiii.... pembaca setiaku, jangan lupa like komen dan vote ya, maaf ya... kadang aku punya ngak banyak, karena lagi agak sibuk beberapa hari ini. akan tetapi aku akan usahakan setiap hari bisa up, Terima kasih semua.... muach... muach... muach...


__ADS_2