
Tak lama dari kedatangan keluarga Aira, datang lah para keluarga besar Brian dan tak ketinggalan ke dua Ceo dingin nan tampan dan asisten serba bisa itu,
"Gimana Aira, sayang...!" ucap Sang Mami.
"Belum ada perubahan Mi..?!" ucap Brian sendu.
ketiga cowok tampan tersebut langsung melihat Aira walaupun hanya melewati kaca pembatas ruangan itu,
"Bangun dek, jangan begini, banyak orang menunggumu?!" Tommy lirih memegang kaca ruang rawat Aira seolah olah yang dia pegang adalah Aira.
"Mi, kapan Aira bangun Mi... aku ngak mau ke hilangan Aira, tolong lakukan sesuatu kek..hu... hu... hu..." tangis Aleta.
"Sabar nak... Papi lagi berusaha mencari dokter terbaik dari luar negeri, hari ini dokternya datang?!" sang Papi, sambil memeluk Aira, dia tak kalah sedihnya karena Aira sudah di anggap anak sama sang papi, dari pertama bertemu Aira papi Brian itu sudah tertarik dengan gadis cantik yang sedang berjuang hidup di dalam sana.
"Aku ngak tega, lihat Aira seperti ini, banyak selang di badannya?! keluh Jasmin.
Keluarga Aira hanya mendengarkan ocehan keluarga besar Brian tersebut.
"Ya allah, begitu berharganya adikku bagi mereka!" gumam Bima dalam hati.
__ADS_1
"Begitu banyak orang orang yang menyangngi mu nak, maafkan Ayah...!" sesal Pak Alek
"Cih... apa bagusnya sih... anak sialan itu, kenapa semua orang perhatian banget sama dia, ngak di kampung ngak di sini semua orang selalu dapat perhatian, mati aja loe sialan...!" gumam Ayu kesal, melihat banyak yang memperhatikan dan mencemaskan sang adik.
Anak sialan ini, selalu menyusahkan...selalu ada caranya buat dapat perhatian sama orang lain, tapi jangan harap aku akan luluh... dari kandungan pun aku tak menginginkan mu...!" gumam sang ibu kesal.
"Makan dulu ya nak, Mami sudah masak, masakan kesukaan kamu!" ucap sang Mami kepada sang anak.
"Aku ngak lapar Mi...!" ucap Brian lemah.
"Jangan begini nak, nanti Aira sedih, kalau kamu tak makan!" bujuk sang Mami.
Brian membenarkan ucapan Mami dan Tommy, mau tak mau dia makan dengan sangat pelan, makanan yang dia makan bagaikan duri melewati kerongkongannya, tapi dia tetap memakannya sampai habis.
Itu tak luput dari pandangan orang orang di sana, mereka sedih melihat Aira dan prihatin melihat keadaan Brian,
"Cowok cowoknya pada ganteng ganteng banget sih...! pengen deh jadi pacar mereka, tapi yang lagi makan itu lebih ganteng sih, pasti lebih kaya dari yang lain, gue harus bisa dapetin dia!" gumam Ayu, penuh minat
"Semoga si tampan yang lagi makan itu, suka sama Ayu, uhh... pasti gue bahagia banget, kayaknya dia juga lebih kaya dari yang lain!" gumam Ibu Aira, menatap Brian.
__ADS_1
Selesai makan Brian, baru teringat klau ada keluarga Aira di sana.
"Oohhh... iya, aku lupa, itu ada orang tua Aira dan abangnya tunjuk Brian kepada Bima dan Pak Alek.
"Cih... kenapa cuma Bang Bima dan Ayah sih yang di kenalin, akukan juga pengan salaman kali, megang tangan cowok cowok ganteng itu!" gumam Ayu.
"Songong banget sih... aku kan juga pengen kenalan kali...!" kesal sang ibu
"Saya papi Brian...!" ucap sang papi kepada Pak Alek dan Bima.
"Saya Mami Brian..."
"Saya kakek Brian, kami sudah menganggap Aira seperti anak sendiri, Aira anak yang baik dan sopan, suka menolong orang ucap sang kakek,
Pak Alek hanya bisa mengangguk malu dan menyesal telah mengabaikan Anak gadisnya itu.
Semua pada berekenalan, dan menyapa Ayu dan Ibunya ala kadar, karena mereka sudah mendengar kelakuan ke dua wanita tersebut terhadap Aira
Bersambung.....
__ADS_1