
Ayu benar benar dia buat bungkam oleh Aira saat ini, di katakan anak terlahir dari pasangan selingkuh, di katakan tidak mendapat kasih sayang, dan lebih menyakitkan kan, orang yang sangat ia kagumi mengatakan dirinya seperti ondel ondel, dan lebih perihnya lagi, Brian menampakan kasih sayangnya pada Aira begitu besar.
Apa lagi semua orang berpihak kepada Aira tak ada satupun yang membelanya.
"Bang, elus tuh perut istrimu, bilang amit amit cabang bayi, biar bayimu tak ikutan koslet kayak dia?!" oceh Brian.
Dan dengan polosnya Bima mengikuti ucapan sang adik ipar.
"Amit amit cabang bayi" dia mengelus elus perut buncit sang istri dengan penuh kasih sayang dan menciumnya berkali kali.
Dewi yang tidak enak hati melihat Ayu yang bermuka sendu ingin menangis itu, lansung menepuk pelan tangan sang suami.
"Aduh... kenapa di tabok sih sayang!?" ucap Bima.
"Ngak enak sama Ayu?!" ucap Dewi pelan, agar tidak terdengar oleh Ayu.
"Ahh... terdengar juga ngak masalah kok kaka ipar, otaknya sudah membatu, jadi ngak ngaruh buat dia?!" sarkas Brian.
Ayu lansung melotot mendengar ucapan keramat dari orang dia kagumi.
"Kamu juga harus di bilang Amit amit cabang bayi sayang, takutnya di sini sudah ada kecebong kecebong aku yang sedang berenang!?" ucap Brian sambil mengucapkan amit amit cabang bayi, agar terdengar oleh Ayu, dan Brian pun mengelus elus perut rata Aira itu, dan mencium beberapa kali, lansung saja Aira mencubit tangan Brian.
__ADS_1
"Jangan galak galak sayang, nanti kecebong kecebong aku juga ikutan galak kayak mommynya?!" ucap Brian sambil menatap Aira genit.
Hampir saja Ayu di buat menangis oleh kelakuan Brian tersebut.
Pak Alek hanya bisa tepuk jidat dengan tingkah absrud sang menantunya itu.
"Sudah sudah, ayok kita pulang, kasian menantu Ayah sama anak gadis Ayah, mereka butuh istirahat?!" ucap Pak Alek, melerai kelakuan aneh mereka itu.
Ayu di buat iri setengah mati melihat keharmonisan keluarga itu.
"Kau lihat kan, kebahagian yang aku rasakan sekarang, selamat menikmati hari hari sulitmu setelah ini, kau coba rasakan saat tak di aku orang orang terdekat mu?!" sarkas Aira.
"Oh satu lagi, aku kasih tau, dulu saat kelurga tak perduli dengan ku, tapi di luar sana aku bisa bertahan dan mendapatkan kasih sayang yang tulus dari orang orang yang bukan kelurga ku, dan sekarang cobalah di posisi aku yang dulu, dan bisa kah, kau disanyangi oleh orang orang asing di luar sana!!" ucap Aira pedas bak bon cabe leve sepuluh, kurang pedes kayanya ya hehehe....
Aira memeluk mesra tangan suaminya, dan melihat ke arah Ayu, yang tak suka melihat Aira memeluk tangan Brian itu.
"Kau mau laki laki ini, yang sejatinya suami tercintaku ini??" tanya Aira sengit, dan dia menatap sang suaminya.
"Abang apa kah, kau menyukai dia??" tanya Aira memandang Brian penuh harap.
"Dih... ogah, jangan kan dia, gadis berkelas aja mendekati aku, aku jijik, apa lagi dia yang gadis kampung, dan di tambah gayanya yang lebih kampungan amit amit cabang bayi?!" ucap Brian sambil menggetok getok kepala dan dengkulnya.
__ADS_1
Bima, Dewi dan Pak Alek, berusaha menahan tawanya dengan cara menggit bibirnya kuat kuat, gara gara kelakuan suami itu.
"Kau dengar kan dengan kuping mu, suami aku ogah di dekati sama mahluk astral kaya kamu, camkan itu, kalau kau masih punya harga diri!!" sembur Air.
Dan Aira mengajak sang suami pulang sambil memeluk tangan sang suami, dan di ikuti oleh Bima yang memeluk mesra pinggang sang istri.
Pak Alek, melihat ke arah Ayu dan berbicara sebentar.
Jaga lah Ibumu dengan baik, biaya rumah sakit Ibumu sudah di bayar sama anakku, dan jangan sekali kali mengganggu keluargaku lagi!!" ucap Pak Alek dengan muka datarnya, tidak ada sedikitpun terlihat wajah kasihannya kepada Ayu, dan dia berbalik mengikuti anak dan menantunya.
Ayu merosot duduk di kursi, melihat kepergian orang orang tersebut dengan pandangan mata kosong.
Bersambung..
jangan lupa
Like...
komen....
Vote...
__ADS_1
Terima kasih..