
"Saya pikir anda belum menikah dok" kekeh dokter Rina.
"Saya menikah sudah lumayan lama dok, cuma kecebongnya aja yang baru tumbuh?!" oceh Aira sambil terkekeh sendiri.
"Iya menikah sudah lama, tapi baru tumbuh kecebong, sekali numbuh kecebongnya bererot hahaha.." dokter Rina juga ikutan menimpali candaan Aira.
"Iya sekali numbuh, lansung tiga, lansung jalan jalan ke Libanon sana?!" gurau Aisyah.
Iya ternyata sebelum Aira berangkat ke Libanon, Aira sudah hamil, Kini kehamilan Aira sudah masuk enam minggu, dengan kembar tiga.
Beruntung bayi di dalam kandungannya kuat, mengingat capeknya Aira sehari hari, di Libanon sana, lari kesana kemari, untuk membantu para korban di bawah hujanan peluru.
"Mungkin anak anda besarnya nanti ingin jadi tentara?!" oceh dokter rina.
"Bisa jadi dok, buktinya masih umur dua minggu sudah di ajak perang sama mamanya" kekeh Aira.
"Ngomong ngomong anda ke Libanon suami anda tidak marah dok?!" kepo dokter rina.
__ADS_1
"Ngak tau" acuh Aira.
"Loh... Kok ngak tau?!" bingung dokter rina.
"Saya kabur" santai Aira.
"Haa...." nganga dokter rina, Aira terkekeh geli melihat tingkah konyol dokter Rina itu.
"Kok bisa..." ucap dokter rina lagi.
"Ya bisa lah, ini ada" kekeh Aira.
"Biasa lah, ada hama pengganggu, jadi saya mau kasih pelajaran sama suami dan mertua saya, ya udah saya pergi, pas saya mau kabur ngak tau mau kabur ke mana, ya udah pas di tawarin jadi relawan ke Libanon, ya sudah saya ambil" oceh Aira santai, namun dia juga menjadi rindu sama sang suami.
"Sedang apa kamu bang, apa kamu sudah menyesal atau masih seperti itu, dan masih menganggap Angel adikmu, aku tau kok Angel masih suka datang ke rumah kalian dan ke kantor kamu?!" gumam Aira sambil mengelus perut yang sedikit membuncit itu.
"Gini ya dok, bukan maksud menggurui, lebih baik omongin masalahnya baik baik, cari titik terangnya, klau emang mau selesai selasikan baik baik, jangan kabur kaburan kayak gini, ingat sekarang kamu ngak sendiri lagi, ada anak di perutmu, bukan hanya satu, tapi tiga, dan satu lagi, kamu pergi terlalu lama, bearti kamu mengundang ulat bulu semakin ingin menempel" ucap dokter Rina bijak.
__ADS_1
"Trus... Saya harus gimana dong dok, saya sudah terlanjur pergi dari sana" ucap Aira bingung.
"Anda datang saja ke rumah saudaranya, yang sekiranya ada di pihak kamu, mana tau mereka memberi solusi untuk kamu"
"Yakin dok, klau itu akan berjalan lancar, saya sedikit takut, takut kakek kecewa sama saya, dia sangat menyayangi saya, tapi saya pergi tampa sepatah kata pun" keluh Aira sedih.
Yang Aira pikirkan bukan lah suaminya, namun kakek sang suami, yang sangat menyayangi nya itu.
"Anda coba saja, mudah mudahan berhasil, jangan pesimis dong, belum di coba sudah menyerah, kabur berani kok pulang ngak berani" ledek dokter Rani.
"Ncek... Kau ini" oceh Aira.
Mungkin Aira akan mencoba saran dari dokter Rani, memang benar kata dokter itu. dia harus menyelesaikan masalah ini dengan baik, dan harus bertemu dengan suaminya itu, apa pun resikonya, harus di hadapi, toh... hidup sendiri itu sudah biasa buat dia, seng ada masalah, yang penting setatusnya sekarang yang harus dia perjelas.
"Makan yuk dok, lapar nih..." keluh Aira.
"Hayuk lah, yang berbadan empat emang harus banyak makan, kasian yang di dalam takut kurang gizi" kekeh dokter Rani dan bangkit dari kursi kebesarannya itu, dan berjalan mengikuti Aira dari belakang.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan vote ya...