Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 245


__ADS_3

Selesai Aira makan dan keluarga nya belum ada yang mau pulang, malah betah berada di rumah sakit menunggui para cucu cucunya, termasuk Pak Alek, Bima, istri Bima, Ayu dan Bu Ningsih.


"Sayang... Boleh ayah tanya nak?!" ucap Pak Alek kepada Aira yang ke betulan hanya sendiri di atas ranjang itu, karena Brian sedang makan, setelah menyuapi istri cantiknya itu.


"Tanya apa Pak...?" jawab Aira yang di susul sama abang, kakak dan Ibunya.


"Dari tadi Ayah sudah penasaran, setiap dokter dan perawat yang masuk selalu bilang dokter sama kamu, emang kenapa?" tanya Pak Alek.


"Aira Dokter di rumah sakit ini Pak?!" jawab Aira.


"Ha... bukannya adek waktu kita ke sini itu menghadiri wisudah adek, bukan wisuda lulus ke dokteran ya... ?" tanya Bima.


Aira cuma nyengir saja melihat kebingungan keluarganya.


"Aira menutupi dia seorang dokter dari kita semua pak, kami saja yang satu rumah sama Aira saja tidak tau, kami juga baru tau saat Aira ikut ke perjamuan rekan bisnis kami beberapa bulan yang lalu, ternyata dia banyak kejutan pak, klau bukan tau hari itu mungkin kami juga ngak akan di kasih tau, mungkin juga kami akan tau hari ini" jawab Papi Tama panjang lebar.


Pak Alek dan keluarganya yang lain kaget mendengar penuturan Papi Tama dan lansung melihat ke arah Aira.

__ADS_1


Aira hanya bisa garuk garuk tengkuk yang tidak gatal.


Bagaimana ceritanya dek, kamu bisa kuliah ke dokteran dan biaya ke dokteran sangat mahal?" tanya Bima.


Aira iseng iseng ikut ujian bea siswa di kampus kedokteran saat itu ada formulir ngak tau punya siapa masih kosong, ya sudah iseng iseng nyoba ehh... ngak tau nya lulus, ya sudah lanjut aja" santai Aira.


Haaa... keluarga nya ternganga dong, bahkan Ayu tak kalah sok, apa kata adeknya iseng iseng, dia aja kuliah yang fokus aja ngak kelar kelar sampai lima tahun, adeknya kuliah dua tempat dan lumayan nguras otak bukan lumayan, tapi benar benar menguras otak dengan kuliah ke dokteran dia bilang iseng, mau bingung tapi ini Aira.


"Walau pun kamu dapat bea siswa di dua kampus, tapi sekolah ke dokteran itu tetap butuh banyak uang keluar dek, buat beli peralatan dan lain lainnya, abang tau itu, karena teman abang adeknya kuliah ke dokteran tetap teman abang pontang panting cari biaya kuliah adeknya" curhat Bima.


"Iya Aira di sini juga kerja kak, buat nyambung hidup Aira, trus warga kampung kita setiap bulan selalu kirim Aira uang jajan Aira tiap bulan, belum lagi Aira ikutan balapan motor setiap bulan dan sesekali dapat panggilan ngelatih anak anak Taewkondo, dan saat balapan Aira bantu Kak Tommy perusahaannya lagi ada masalah, dari situ Aira jadi karyawan tetapnya dia, kata kak Tommy ngak boleh nolak harus jawab iya kekeh Aira, mengingat sang Kakak angkat dan ternyata Cafe tempat aira kerja punya dia, ya sudah Aira kerja suka suka hati aja" oceh Aira.


Bu Ningsih dan Ayu jauh lebih merasa bersalah. Aira yang sudah dia sakiti berkali kali dan mengambil hak Aira tanpa belas kasihan, namun lihat lah anak itu bisa berdiri tegak tanpa bantuan orang lain, dan kini Aira yang dia sakiti malah membantu hidup mereka tanpa ada perasaan benci dan dendam. Sungguh penyesalan yang sangat besar mereka rasakan sekarang ini dan merasa malu kepada Aira.


"Maafin Ayah nak. Maafin Ayah nak" pecah sudah tangis Pak Alek dan Bima memeluka Adik bungsungnya itu.


"Maafin kakak juga, maaf kaka sudah merampas segala galanya dari kamu dan maaf sudah membuat kamu menderita" ucap Ayu tergugu.

__ADS_1


"Maafin Ibu nak, apa ibu masih bisa dapat maaf dari kamu" tanya Bu ningsih sambil menunduk dan meremas bajunya, betapa bejadnya dia sebagai seorang ibu.Hah...sudah susah di ceritakan.


"Sudah Yah, Bu, abang, kakak semuanya sudah berlalu, ngak usah di ungkit lagi bikin sakit hati, tapi kalau bukan karena semua masalah itu, mungkin Aira bukan lah wanita seperti sekarang ini, mungkin Aira akan menjadi anak manja yang suka ngerepotin kalian, jadi jangan di ingat lagi lupa kan, Aira juga menjalaninya juga ikhlas kok tanpa beban, enjoy ngak di jadi kan beban hidup walau kadang memang merasa hidup sendiri ngak tau harus bergantung kepada siapa makanya Aira jadi kuat, agar bisa melindungi diri sendiri" Pungkas Aira dia tidak ingin keluarganya merasa bersalah karena semua sudah berlalu bagi Aira.


Di sudut ruangan itu semua keluarga besar Bian melihat adengan itu merasa haru dan bangga kepada Aira gadis yang beberapa tahun lalu menyelamatkan putrinya, gadis yang beberapa tahun lalu mengorbankan nyawanya demi penerus mereka, dan ngasih yang beberapa tahun lalu mereka sakiti hingga kabur ke Lebanon sana.


Kerasnya hidup membuat dia terlalu mandiri, kerasnya hidup membuat dia terbiasa, kerasnya hidup membuat dia jadi tangguh, kerasnya hidup membuat dia tidak butuh pegangan, gadis mandiri tidak takut apa pun, sekali di sakiti


BOOM....


Se you good bye...


Takut ngak tuh kehilangan Aira.


Bersambung....


Haii... jangan lupa like komen dan vote ya...

__ADS_1


"Terimakasih.."


__ADS_2