
Di tempat lain. Seorang laki laki yang tak muda lagi, panik setengah mati, karena mendengar kabar anaknya yang mendapat musibah, tampa memperdulikan apa pun dia berlari keluar gedung perkantoran menuju, menuju parkiran untuk mengambil kuda besinya, lalu melesat pergi ke rumah sakit, ingin memantau sang anak dari jarak dekat.
"Maafkan ayah nak, maaf tidak bisa menjaga mu dengan baik!" sesalnya sambil memukul stir mobil.
Di rumah sakit, keluarga Aira dan Brian menunggu dengan harap harap cemas, belum ada tanda tanda dokter keluar dari ruang IGD,
Lama menunggu akhirnya keluar juga dokter yang menangani Aira dan Ayu.
Dokter keluar dan lansung di kerumuni oleh keluarga Brian dan Aira.
"Gimana ke adaan Aira dan Ayu dok!" ucap Ayah Alek.
Dokter memberi senyum sebelum menjawab pertanyaan pak Alek.
"Begini Pak, Aira Alhamdulillah lukanya tidak terlalu serius, cuma memang sedikit dalam, Aira boleh pulang hari ini, tapi harus menghabiskan infus dulu!" jawab sang dokter.
"Alhamdulillah..." serempak orang orang di luar sana, namun tidak dengan Bu Ningsih hanya mesem aja.
"Kalau Ayu gimana Dok!" tanya Bu Ningsih tak sabaran, merasa orang orang tak perduli dengan Ayu, malah senang mendengar kabar Aira saja.
__ADS_1
"Untuk Ayu, pasien banyak kekurangan darah, karena lukanya cukup serius, dan membutuhkan tranfusi darah sebanyak dua kantong, kebetulan golongan darah A stoknya kurang di rumah sakit, jadi silahkan keluarga yang bergolangan darah A bisa mendonorkan darahnya?!" ucap sang dokter.
Deg...
jantung Bu Ningsih, Pak Alek dan Bima langsung berdetak dengan kencang, mendengar penuturan dokter.
"Bagai mana bisa dok?!" ucap Ayah Alek.
"Maksudnya..." tanya sang Dokter, yang tak mengerti dengan pertanyaan Ayah Alek.
"Golongan darah kami semu B dok, bagai mana bisa Ayu golongan darahnya berbeda sendiri?!" ucap Ayah Alek.
Dokter baru paham dengan pertanyaan Ayah Alek, k- baru saja dokter ingin menjawab pertanyaan Ayah Alek, terdengar teriakan dari lorong yang berlari ke arah mereka.
"Dia anak saya...!" ucap orang tersebut dengan lantang.
Semua orang yang ada di sana langsung kaget dengan ucapan orang yang baru datang tersebut.
Bu Ningsih ada rasa gugup dan senang orang yang dia tunggu tunggu akhirnya datang juga.
__ADS_1
Tidak dengan Ayah Alek dan Bima, muka mereka langsung merah padan dan emosi mengetahui fakta tersebut.
"Apa maksud mu dengan ini semua bu?!" teriak Ayak Alek.
"Seperti yang kau dengar dengan ucapannya, Ayu bukan anakmu!" ucap Bu Ningsih tanpa dosa.
"Jangan ribut dulu, sekarang selamatkan Ayu dulu, dia butuh darah, ambil darah saya dok, darah saya sama dengan anak saya!" ucap laki laki tersebut, tanpa rasa bersalah dan mengabaikan orang yang ada di sana, karena mengingat sang anak lebih membutuhkan darahnya saat ini, dan masalah lain bisa di urus belakangan.
Dokter yang ikutan terkaget kaget dengan adengan tersebut, malah ikutan bengong dan di sadarkan oleh pria aneh yang mengaku ngaku Ayah kandung Ayu tersebut.
"Ah... iya mari ikut saya, ke ruangan tranfusi darah?!" ucap sang dokter menuntun jalan pria tersebut.
"Apa apaan ini Bu... tolong jelaskan sama kami!" ucap Bima yang tak terima penghianatan sang Ibu.
"Seperti yang kau lihat dan yang kau dengar!" ucap Bu Ningsih acuh.
"Jadi ibu berselingkuh di belakang Ayah!" ucap Pak Alek bergetar.
Yang lain yang ada di sana hanya diam terpaku melihat adengan tersebut, mau ikut campur bukan urusan mereka juga, ngak ikut kasian sama menantunya.
__ADS_1
Bersambung....