
" Aira...... " teriak Brian saat melihat aksi Ayu, yang mengeluarkan senjata tajam dari balik bajunya.
Ayu menyerang Aira secepat kilat, beruntungnya Aira dari tadi melihat setiap gerak gerik Ayu.
Semua orang panik melihat kebrutalan Ayu, yang menghunuskan senjata tajam ke arah jantung Aira,
Aira menangkap tangan Ayu, ingin mengambil senjata tajam tersebut, namun naasnya pisau tersebut mengenai pergelangan tangan Ayu, dan melukai urat nadi Ayu dan telapak tangan Aira, darah langsung mengucur deras dari kedua saudara itu,
"Anak sialan... kau apakan anak ku, Haaa....!!" teriak bu ningsih, sambil menarik rambut Aira, Aira sampai terjatuh ke lantai, karena saat itu Aira sempat syok melihat sang kaka terluka, dia tak menduga sang ibu menyerangnya tiba tiba.
Semua orang di buat melongo dengan kejadian itu, Brian tersadar saat istrinya tersungkur, lansung buru buru menolong sang istri, dan menahan serangan sang mertua durjana,
Beberapa orang menggotong tubuh Ayu keluar hotel, membawa ke rumah sakit agar segera mendapatkan penanganan.
Aira pun demikian, suaminya lansung membawa istri cantiknya kerumah sakit, dengan wajah cemas, melihat darah yang menetes di telapak tangan sang istri, Brian ketakutan tiba tiba terbayang saat sang istri tidur panjang beberapa bulan lalu.
"Bertahan sayang, jangan tidur lagi, bertahan sayang hiks... hiks..." Brian benar benar takut, dan memeluk tubuh sang istri posesif.
__ADS_1
"Abang, aku ngak pa apa, cuma luka di tangan doang sedikit!" seru Aira agar sang suami tak cemas lagi.
"Kak Ayu gimana ya keadaannya, aku ngak sengaja!" keluh Aira.
Mendengar nama Ayu di sebut, membuat Brian meradang, gara gara titisan setan itu pestanya hancur, membuat sang istri kembali ke rumah sakit.
"Jangan pikirin wanita sialan, titisan demit, hantu belau, itu sayang... membuat aku ingin mencekiknya dan mengirim dia ke tempat asalnya!" kesal Brian.
Aira tau sang suami sangat marah,hanya bisa diam, ini memang kelakuan sang kaka durjana itu, entah apa salah dan dosa Aira sama diri Ayu, sampai segitunya Ayu dan ibunya tak menyukai Aira.
Di rumah sakit, Ayu sedang di tangani oleh dokter di dalam IGD, Bu Ningsih menangis pilu dengan keadaan sang anak.
Aira juga sampai di rumah sakit dan lansung di tangani oleh dokter ahli yang sudah di telpon oleh Papi Tama, beruntungnya Aira cuma mendapat luka tidak terlalu fatal jadi bisa langsung pulang.
"Abang pengen ganti baju ngak enak make baju ini, sesak!"
"Sabar ya Aleta lagi ngambil pakaian kita!" ucap Brian sambil mengelus rambut Aira penuh kasih sayang, dia baru bisa tenang saat sang istri di tangani dokter dan di nyatakan baik baik saja.
__ADS_1
"Maaf abang, pestanya jadi berantakan, membuat malu keluarga besar abang?!" ucap Aira penuh sesal, dan merasa bersalah karena pestanya jadi berantakan.
" jangan di pikirin sayang, yang peting kamu baik baik saja, abang sudah ngak masalah, soal pesta biarin kakek dan keluarga yang lain yang menghandel!" ucap Brian lembut, dia tau sang istri merasa bersalah gara gara kelakuan Ayu, itu bukan salah istrinya, itu salah kakaknya yang titisan medusa itu.
Di luar ruangan, Bu ningsih masih menangis dan menyalah kan Aira, karena kejadian ini.
"Huu... uuu.... klau bukan gara gara anak sialan itu, anak aku ngak akan masuk rumah sakit, awas aja terjadi apa apa sama anakku, akan ku buat perhitungan sang anak kurang ajar itu!" ucap sang ibu, tak sadar kah dia yang dia yang melakukan kesalahan juga anaknya dan menjadi korban juga ke dua anaknya, tapi cuma satu anak yang selalu di eluh elukanya,
Itu membuat Pak Alek. dan Bima meradang, mendengar ucapan bu Ningsih.
"Bu, bisa diam ngak sih, kenapa selalu ayu ayu saja yang kamu bela, padahal sudah jelas jelas Ayu yang buat masalah!" kesal Pak Alek.
"Apa ibu ngak ada sedikit rasa sayang sama Aira Bu, selama ini aku perhatiin Ibu selalu benci sama Aira, dia juga anak kandung Ibu lho... kenapa ibu membeda bedakan Aira sama Ayu, mereka terlahir sama sama dari rahim Ibu, kenapa bu, ada apa?" tanya Bima yang sudah benar benar habis kesabaran, melihat tingkah sang ibu, yang selalu memenangkan Ayu, walau Ayu salah tapi di anggap Aira lah yang salah.
Bu Ningsih hanya diam dan masih sesegukan. dan tak mau menjawab omongan suami dan anaknya, di dalam hati masih menggerutu menyalahkan Aira.
Bersambung...
__ADS_1
Haaayyy... terima kasih, sudah selalu membaca karyaku, dan jangan lupa like dan komen ya, like dan komen kalian membuat aku selalu semangat untuk menulis, dan terimakasih juga sudah memberi hadiahππππππππ€π€π€π€