
"Maafin abang sayang... maafin abang yang terlalu percaya sama Ayu, dan tidak pernah mencari tau kebenarannya...?!" ucap Bima penuh sesal.
"Dek... Boleh abang tanya sesuatu?"
"Apa...?"
"Kamu punya banyak bakat, dan sering mengikuti lomba, banyak piala dan piagam abang lihat di dalam koper usang milikmu, kenapa tak pernah ngasih tau kami...?"
"Kalau aku kasih tau, apakah abang akan percaya? bukan kah kalian lebih percaya kak ayu..?"
Seketika Bima terdiam, menyesal pasti menyesal, tak pernah tau tentang kehidupan yang adiknya jalani selama ini.
"Abang juga lihat banyak mendali dan piagam kamu, yang ngikuti olimpiade di luar negeri, uang dari mana buat jajan dek?"
"Dari warga, mereka selalu bantu aku, karena selama ini aku ngajarin anak mereka les dan suka bantu bantu warga ngerjain tugas mereka, Pak rt juga suka kasih aku uang dan uang yang suka abang selipin di bawah bantal aku!" jawab Aira panjang lebar.
Bima kaget mendengar penuturan sang adik, adiknya tau klau dia suka narok uang di bawah bantal sang adik.
__ADS_1
"Kamu tau abang suka masuk kamar kamu..?!"
Hmmm... jawab Aira menganggukan kepalanya.
"Iya... aku tau kalau abang, sering masuk ke dalam kamar aku, suka ngelusin aku, suka cium aku hiks... hiks...aku tau cuma abang yang memperhatikan aku walau abang cuek saat aku bangun dan berada di dalam rumah, bahkan tak perduli dengan ke adaanku!"
"Tapi itu tak masalah buat aku, klau bukan kasih sayang yang aku dapat dari abang! mungkin dari dulu aku sudah pergi dari rumah itu... tapi aku tak bisa pergi dari sana karena abang!"
Abang selalu ada buat aku, di saat aku di marahin Ayah, Ibu, abang selalu ada saat aku di sakiti Kak Ayu, abang selalu ada saat aku sakit, abang selalu ada saat aku rapuh, abang selalu memelukku saat aku tidur hiks... hiks...hiks.. sejujurnya aku ingin di peluk saat aku sadar, bukan saat aku tidur, tapi itu tidak mungkin abang lalukan!"
Bima hanya diam mendengar curahan hati sang adik, dan jangan tanya orang orang yang ada di sana ikut meneteskan air matanya, mendengarkan kisah Aira,
Ayah sangat menyesal karena telah mengusirmu, dia mencari mu siang malam dek!"
"Bahkan melihat kamu lagi balapan motor, Ayah sampai menangis kejar dan saat kau hampir jatuh Ayah ketakutan melihatmu, kami ingin menyusulmu tapi tak tau kamu tinggal dimana, ingin bertanya sama warga malu" ucap Bima.
"Buat apa mencari aku... karena aku bukan anak bandel, bukan anak yang bikin malu keluarga, atau karena aku pintar dan banyak mendali, iya... karena itu, sudah terlambat, Bukankah aku sudah bukan anaknya lagi, bukankah.. aku sudah di haramkan untuk menginjakkan rumah itu...!" tanya Aira kecewa
__ADS_1
"Bukan gitu dek, memang Ayah salah, tidak pernah mencari tau kebenaran tentang kamu, Ayah terlalu sibuk bekerja untuk kita, lupa waktu untuk berkumpul bersama kita, dan Ayu mengadu di saat Ayah dalam ke adaan capek, baru pulang kerja, bukan maksud Ayah memarahimu, dan membencimu" ucap Bima.
"Untuk kita.... untuk kalian kali... mana pernah aku di beliin baju, mana pernah aku di beliin buku, mana pernah aku di beliin seragam sekolah. kalau ada acara cuma Kak Ayu yang di perhatikan dan di belikan pakaian!" keluh Aira.
"itu tidak benar sayang?! Ayah sudah memberikan uang kepada Ibu agar membalikan keperluan mu, semua Ibu yang pegang sayang, karena kamu tau kan Ayah pergi pagi pulang sore bahkan malam?!"
Bima tak mau Aira semangkin salah paham kepada sang Ayah, memang Ayahnya juga salah, akan tetapi itu bukan kesalahan Ayahnya sepenuhnya,
Aira hanya diam dan tak menjawab apa pun pembelaan sang kaka kepada Ayahnya, Aira juga membenarkan ucapan sang kaka, klau Ayahnya jarang di rumah, dan ke uangnya memang di serahkan kepada sang ibu.
"Aku ingin tanya, apakah aku ini saudara kandung kalian anak yang di lahirkan oleh Ibu atau aku hanya anak pungut!"
"Kamu ngomong apa dek? kamu adik kandung abang, abang lihat Ibu saat hamil kamu, bahkan saat Ibu melahirkan kamu abang ada di sana, menunggu kelahiranmu?!" jawab Bima.
Aira menganggukan kepalanya, tanda mengerti,
"Ya sudah, aku mau ke atas dulu bang, mau menyelesaikan pekerjaanku, sebelum besok aku pulang ke kota!" Aira undur diri dari hadapan sang adik.
__ADS_1
"Kamu nginap di mana? boleh abang tau..."
Aira menganggukan kepalanya, dan memberikan alamat hotel yang dia tempati.