
"Heeh..... ****** sialan, masih kecil sudah pinter menggoda suami orang!!" teriak Bu Ningsih, menjambak rambut Aira sangat kuat.
"Awww.... Lepasin ihh... sakit?!" rintih Aira, menahan sakit kepalanya, karena rambut Aira di jambak kuat oleh Bu Ningsih.
"Ningsih... apa apaan sih kamu... lepasin ngak!!" bentak Pak Alek.
"Ngak akan!! biarin aja dia kesakitan, emang aku perduli, masih kecil sudah bisa jadi ******, ngak pernah di ajarin orang tuanya kali, bisa bisanya dia goda suami orang!!" teriak Bu Ningsih, yang mana tangannya masih bertahan kokoh di rambut Aira.
"Sayang...." Brian kaget setengah mati, melihat sang istri di jambak oleh ibu mertuanya, Brian dan Bima tadi masih sedikit ada perlu di dalam, makanya dia keluar agak terlambat.
"Ibu... apa apaan sih!! lepasin tangan Ibu dari rambut Aira!!" bentak Bima mendekat ke arah Bu Ningsih dan Aira, dia melepaskan tangan Bu Ningsih dari rambut Aira.
Setelah lepas tangan Bu Ningsih dari rambut Aira, Pak Alek, Brian dan Bima lansung memeriksa Aira dengan wajah khawatir.
"Sakit ya nak? kita kerumah sakit ya?!" ucap Pak Alek merapikan rambut Aira yang acak acakan dengan lembut.
"Maafin abang sayang, abang terlambat datang?!" sesal Bima.
Brian lansung meraih tubuh sang istri dan memasukannya ke dalam pelukannya dia menciumi kepalang sang istri bertubi tubi.
__ADS_1
Bu Ningsih melihat perhatian orang orang kepada Aira memutar matanya malas.
"Ncek... lebay amat sih?!" gerutunya.
Ketiga cowok beda usia itu menatap nyalang ke arah Bu Ningsih.
"Apa apaan sih, kamu Ningsih, ngak puas apa nyakitin anak kamu!!"
Bu Ningsih hanya menatap malas, mendengar ucapan Pak Alek.
"Heh... kenapa rumah kamu jual, aku sama Ayu mau tinggal dimana coba!?" Bu Ningsih malah mengalihkan bicaranya, dia tak ada sedikit pun berminat tentang anak perempuan yang telah ia sakiti itu.
"Emang kenapa aku jual, suka suka aku, apa urusan sama kamu, rumah itu ngak ada hak sama kamu!!" bentak Pak Alek.
Dari mana harta gono gini, itu harta peninggalan dari orang tua aku, dan di wariskan untuk Aira, kamu nanya harta gono gini, emang apa yang bisa di jadiin harta gono gini, gaji aku saja cuma habis buat foya foya kamu dan Ayu?!"
"Kamu nanya mau tinggal dimana, itu bukan urusan aku, bukannya kamu sudah ketemu sama pacarmu dan Ayu bukan tanggung jawab aku, karena dia bukan darah daging aku!!" skakmat Pak Alek.
Bu Ningsih terkejut dengan ucapan Pak Alek, karena dia tak menyangka klau Pak Alek akan bicara kasar kepadanya, selama ini Pak Alek begitu lembut dan penuh kasih sayang, tak pernah membantah ucapannya, namun sekarang Pak Alek begitu murka melihat dirinya, namun Bu Ningsih, berpura pura santai padahal hatinya jedag jedug menahan takut.
__ADS_1
"Heh.... Alek, anggap aja sebagai ganti rugi aku melahirkan dua orang anak untuk kamu, emang ngak capek apa mengandung dan melahirkan anak kamu!!" bentak Bu Ningsih tanpa perasaan.
Orang yang ada di sana tersentak kaget dengan ucapan Bu Ningsih, minta ganti rugi melahirkan anak anaknya.
Hati Bima dan Aira berdenyut nyeri, mendengar ucapan sang Ibu, Pak Alek benar benar menyesal pernah mencintai Bu Ningsih dan jangan tanya Brian meradang mendengar ucapan Ibu mertua yang tak punya akhlak itu.
"Anda minta ganti rugi telah melahirkan istri saya, baik lah saya akan ganti rugi, Brian mengeluarkan cek dan menulis angka di sana dan memberikan kepada Bu Ningsih, ini ambillah dan jangan pernah temui Ayah, Abang dan istri saya lagi!!" ucap Brian dingin dan tegas.
Bu Ningsih tersenyum senang mendapat cek sebesar tiga ratus juta dari Brian, dan buru buru mengambilnya dengan mata berbinar.
"Gini dong, kan saya ngak perlu marah marah, menatap Brian, menemui dia itu tak mungkin, saya dari dulu tidak mengharapkan dia kok, menunjuk Aira, dan menemui dia, saya ngak janji, masalah saya sama dia belum selesai sampai dia memberikan uang buat saya, selama saya terpenjara hidup sama dia dan harus melahirkan anak untuk dia!" tunjuk Bu Ningsih kepada Pak Alek.
"Astaga.... ini manusia apa iblis sih?"
"Ada ya orang kayak gini?!"
"Ya Allah, kasian banget anaknya, dasar mak lucknat?!"
Banyak kata kata yang di tujukan untuk Bu Ningsih oleh orang orang yang berkerumun di sana, namu Bu Ningsih tak perduli, dia pergi meninggalkan tempat itu tanpa beban, setelah mendapatkan cek dari Brian.
__ADS_1
Pak Alek, Bima, Ayu dan Brian melihat kepergian Bu Ningsih hany menatap sedih.
Bersambung...