
Sesampai Aira di rumah sakit, dia lansung menuju rungan Ibunya.
Disana ada Ayu yang sedang menyuapi sang Ibu.
Ceklek....
Pintu terbuka dari luar, mengalih kan pandangan Ibu dan anak yang ada di dalam ruangan itu.
"Assalamualaikum.." ucap Aira.
"Waalaikum salam..." jawab Ayu dan Bu Ningsih.
"Aira..." panggil Bu Ningsih melihat sang anak dengan mata yang berkaca kaca.
Aira melangkah ke arah ranjang sang Ibu dan tersenyum manis kepada Ibu nya itu.
"Bagai mana keadaan ibu?" tanya Aira.
"Alhamdulillah... rada enakan" ucap Bu Ningsih berkaca kaca.
"Alhamdulillah...." ucap Aira sambil memegang tangan sang Ibu.
"Ra Maafkan ibu nak, maafin ibu sudah banyak menyakiti kamu, sudah membuat kamu jauh dari Ayah mu, sudah membuat kamu di usir oleh ayahmu, maaf ibu yang sudah menelantarkan kamu, maafkan ibu huu...." pecah tangis Bu Ningsih
__ADS_1
Andai waktu bisa di putar dia ingin menjadi ibu yang baik untuk anak anaknya dan jadi istri yang patuh untuk suaminya dan tidak akan menyia nyiakan orang yang tulus kepadanya, dan tidak ingin termakan bujuk rayu dari sang mantan, yang mengakibatkan hidupnya di masa tua sengsara.
"Sudah bu, jangan menangis lagi. Aira sudah memaafkan Ibu, ibu cepat sehat ya bu, apa ngak ingin melihat cucu ibu lahir sebentar lagi" ucap Aira.
Bu Ningsih menguasap perut aira dengan lembut.
"Ibu mau cepat sembuh dan ingin menggendang cucu Ibu" ucap Bu Ningsih yang masih sesegukan.
"Ini berapa bulan? kok gede banget?" tanya Bu Ningsih yang tidak henti henti mengelus perut buncit Aira itu.
"Baru tujuh masuk delapan bulan Bu" jawab Aira.
"Tapi gede banget"
"Haa... Serius ini tiga!" teriak Ayu dan Bu Ningsih.
"Hmm.." angguk Aira dan tersenyum manis.
"Ya Allah nak, ibu lansung punya cucu tiga" seru Bu Ningsih.
"Iya, makanya ibu cepat sembuh, bisa gendong mereka nantinya" Ucap Aira.
"Iya, Ibu harus cepat sembuh" ucap Bu Ningsih semangat.
__ADS_1
"Oh... Iya kak Ayu sudah makan?" tanya Aira yang melihat sang Kakak.
"Sudah tadi, makan makanan yang ada di sini" tunjuk Ayu ke arah biskuit dan snack yang di sediakan oleh Aira.
Aira sedikit kaget mendengar pengakuan Ayu, dia kan meninggalkan uang lumayan banyak untuk Ayu, lalu kenapa sang kakak hanya memakan Roti dan snack saja.
"Kenapa kakak ngak beli sarapan di luar? kan aku sudah kasih kakak uang? kakak kemanain uangnya?" tanya Aira.
"Sayang aja makanannya masih banyak, uangnya ada kakak simpan, buat nanti setelah Ibu keluar dari rumah sakit kakak bisa usaha jualan kecil kecilan di rumah sambil nungguin Ibu, kakak ngak mau tinggal di kolong jembatan lagi" ucap Ayu menunduk takut di marahi oleh Aira.
"Ya Allah kak, itu uang buat makan kakak di sini, nanti setelah keluar kakak bisa kerja di tempat Aira atau kakak mau buka usaha sendiri juga bisa kok, jadi pakai aja uangnya buat kakak makan ya" ucap Aira.
Ayu hanya mengaguk patuh, mendengar perintah sang adik.
Kakaknya itu benar benar sudah berubah di lihat oleh Aira, mau memakan, makanan yang dari kemaren dan tadi pun Aira sempat melihat Ayu memakan sisa makanan yang tidak habis di makan sama sang Ibu.
"Penderitaan yang dia rasakan beberapa bulan ini benar benar membuat Ayu dan Ibu nya jera, dan banyak perubahan yang Aira lihat dari Ibu dan kakaknya itu.
Namun Aira tetap harus waspada, namanya orang sedang dalam ke adaan susah bisa bilang tobat, dan ada kemungkinan juga mereka berubah kembali saat sudah kembali seperti semula. Aira akan waspada akan hal itu.
Bersambung...
Haii... jangan lupa like komen dan vote ya...
__ADS_1
"Terima kasih.."