
"Selamat datang dalam keluarga kami sayang?!" ucap Momy memeluk Nina penuh kasih sayang.
"Te-terimakasih" My..?!" Nina gagap, karena ini baru pertama kali bertemu keluarga Wiliam.
"Sama sama sayang, Momy sama yang lain pulang dulu ya sayang, Momy tunggu kamu di rumah kita?!" ucap sang Momy sambil tersenyum dan mencium pipi Nina dengan lembut.
Nina hanya menganggukan kepalanya, dia tak menyangka keluarga Wiliam akan menerima dia sebagai menantu, dari semalam Nina tidak bisa tidur memikirkan keluarga Wiliam, namun apa yang dia fikirkan meleset, kini Nina merasa lega, karena keluarga sang suami menerimanya dengan tangan terbuka.
"Selamat datang kaka ipar, aku tak menyangka kau akan menjadi kaka iparku, di mana kau bisa ketemu sama es balok itu?!" Aleta memeluk Nina dengan hangat.
"Terima kasih" adek ipar, aku menemukannya di pinggir jalan?!" uca Nina terkekeh dan memang benar dia bertemu di pinggir jalan waktu itu, Aleta ikut terkekeh dengan ucapan sahabat sekaligus kaka iparnya itu, Wiliam mendengus sebel dengan ucapan sang istrinya itu.
"Dimana Aira, aku tak melihatnya?!" tanya Nina.
"Dia lagi ikut kak Brian, ke kota Y sekalian liburan, dia tak tau ada acara pernikahan kalian?!" ucap Aleta dan di anggukin oleh Aleta.
Dia tak bisa menyalahkan Aira, karena memang pernikahannya di adakan secara dadakan.
"Kau kapan akan menikah?" tanya Nina menggoda Aleta.
"Ncek, seharusnya aku yang menikah duluan, tapi kalian mencuri start dulu?!" kesal Aleta.
Wiliam terkekeh dengan kekesalan adiknya itu.
"Itu tandanya yang kecil tidak boleh mendahului yang tua?!" kekeh Wilian.
__ADS_1
"Ncek, sudahlah aku pulang dulu, kalian memang cocok sama sama menyebalkan!" kesal Aleta dan berlalu dari sana
Mereka menerima ucapan selamat dari tamu yang datang dan setelahnya Nina meninggalkan ruang tamu untuk masuk kedalam kamarnya.
Di luar tamu tamu masih menikmati hidangan yang sengaja Wiliam pesan di restoran terdekat, untuk menjamu tamu dan keluarganya.
Tamu tamu sudah bubar pulang ke kerumah masing masing dan keluarga Wiliam pun sudah pulang dari tadi.
"Nak masuk lah ke kamar Nina, pasti kamu capek?!" ucap Ibu mertuanya.
"Baiklah Bu?!" Wiliam berjalan menuju kamar sang istri yang tak jauh dari ruang tamu tersebut.
Dia melihat sang istri sedang membersihkan riasan di wajahnya, Wiliam berjalan ke arah Nina dengan perlahan.
Nina melihat laki laki yang menikahinya itu, sedikit gugup dan malu.
"Kenapa menunduk hmmm.... kita sekarang bukan orang asing lagi tapi kita sekarang sudah menjadi satu?!" ucap Wiliam lembut dan mengangkat wajah sang istri sambil menatap lembut bola mata nan teduh tersebut.
Wiliam mendekatkan wajahnya kepada wajah sang istri, lama kelamaan bibir mereka bertaut satu sama lain, yang awalnya cuma kecupan menjadi sesapan lama lama jadi belitan yang sama sama tak mau mengalah, hingga suara ketokan menyadarkan mereka.
Tok...
Tok..
Tok...
__ADS_1
Akhirnya belitan itu terlepas, dan menampakan wajah Nina yang bersemu merah menahan malu, karena mengingat kejadian barusan, nafas yang masih menderu.
Wilian membersihkan bekas salivanya di bibir Nina dan di bibirnya, dan tersenyum melihat wajah merah sang istri.
"Ini sungguh manis, bikin nagih?!" bisik Wiliam sambil memegang bibir sang istri.
Membuat Nina malu, dan menyutukkan badannya ke dalam dada bidang sang suami, Wiliam terkekeh geli melihat tingkah sang istri dan dia ber ulang ulang mengecup puncak kepala sang istri.
Tok...
Tok....
Kak...
kembali terdengar ketokan pintu dan suara cempreng adik tersayangnya.
"Iya... tunggu sebentar?!" teriak Nina dari dalam dan berjalan ke arah pintu.
"Ada apa dek?"
"Kata Ibu di suruh makan, kakak dari pagi belum makan, ajak sekalian abang ganteng menantu ibu itu, takut pingsan kan bahaya pengantin baru pingsan?!" kekeh Aisyah dan berlalu pergi sebelum kakaknya mengamuk.
"Aisyah....!!" Teriak Nina kesal dengan kelakuan sang adik, yang iseng ngak ketulungan itu.
Aisyah hanya mengedikan bahu acuh.
__ADS_1
Bersambung...