Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 159


__ADS_3

Bu Ningsih sudah siuman dari komanya, dan sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa, di kelas tiga yang mana satu ruangan lebih dari enam orang, membuat dia dan Ayu tak nyaman.


"Kenapa Ibu di kasih kamar inap kelas tiga sih Yu... Ibu ngak betah tau!!" kesal Bu Ningsih.


"Emang Ibu saja yang ngak betah, aku juga sama ngak betah Bu, mau bagai mana lagi, uangnya cukup buat biaya ruang inap ini saja!!" kesal Ayu.


"Uang Ibu kan masih ada Yu... kok ngak pakai uang Ibu, ayo... pindah ruangan?!" ajak Bu Ningsih.


"Uang yang mana lagi Bu, semuanya sudah aku bayar buat DP ibu operasi?!".


"HAH... SERIUS KAMU...!!" Bu Ningsih tersentak kaget, karena uangnya sudah habis.


"Ayu hanya bisa mengangguk lemah?!"


Bu Ningsih jadi lemas seketika.


"Kamu kok bodoh banget sih Yu... uang sebanyak itu kamu jadiin buat DP rumah sakit, sekarang kita hidup bagai mana, sudah ngak punya uang sama sekali?!" kesal Bu Ningsih, melirik Ayu dengan kesal.


"Lah... kenapa Ibu nyalahin aku sih, klau aku ngak DP kemaren, Ibu ngak bisa di operasi, bisa bisa Ibu sudah ngak ada di dunia ini!!" kesal Ayu, yang tak terima di salahkan.


"KAMU NYUMPAHIN IBU MATI!!" bentak Bu Ningsih.


"Iya bukan Bu...?! mana ada begitu, justru karena aku ngak mau Ibu mati, jadinya aku bayar aja pakai uang yang Ibu punya?!" ucap Ayu sedikit malas.

__ADS_1


"Ya sudahlah... semu sudah terjadi, trus... selanjutnya kebutuhan kita selanjutnya gimana Yu... ?!" lemah Bu Ningsih.


"Aku juga lagi bingung Bu, lagi mikir harus apa sekarang?!" ucap Ayu frustasi.


"Lagian kamu sih... di suruh kuliah malah kelayapan, harusnya sudah tamat kuliah malah di DO?!" kesal Bu Ningsih.


"Sudah sih... Bu, jangan ungkit ungkit itu lagi?!" kesal Ayu.


"Gimana ngak di ungkit coba, seandainya kamu kuliah dengan benar kan kita ngak mungkin hidup susah kayak gini?!" omel Bu Ningsih.


Ayu yang sudah malas berdebat dengan sang Ibu hanya diam, tanpa ekspresi.


"Ya sudah lah... Ibu mau pulang aja sekarang?!" pas dia menggerakan kakinya, namun kaki itu tak bisa di gerakan seolah mati rasa, Bu Ningsih jadi bingung sendiri.


Ayu yang sedang duduk di samping Bu Ningsih ikutan kaget dan panik, soalnya Bu Ningsih memang belum di kasih tau keadaan kakinya.


"Itu Bu... !?" ucap Ayu cemas.


"Itu apa... ngomong yang jelas dong, jangan buat Ibu penasaran!!" kesal Bu Ningsih.


"Itu... k-kaki Ibu s-sudah tak bisa di gunakan lagi, alias Ibu lumpuh?!" ucap Ayu gagap, memikirkan tentang reaksi sang Ibu setelah tau yang sesungguhnya.


Benar saja, belum juga sempat Ayu menarik nafas plong, sudah memberi tahu sang Ibu, klau sang Ibu sekarang menjadi lumpuh, sudah terdengar teriakan sang Ibu.

__ADS_1


"TIDAKKKK.... INI NGAK MUNGKIN, AKU NGAK MAU LUMPUH...!!" raung Bu ningsih, sambil memukul mukul kakinya.


"Ibu, sabar Bu, jangan kayak gini, orang orang terganggu sama suara Ibu?!" ucap Ayu tak enak hati sama penghuni lainnya.


"APA KAMU BILANG SABAR... BAGAI MANA IBU BISA SABAR, KAKI IBU LUMPUH YU !LUMPUH...!!, ITU ARTINYA IBU NGAK BISA BERJALAN LAGI YU, NGAK BISA JALAN LAGI....!!" HUU... UU..."


Bu Ningsih menjerit jerit frustasi dengan keadaan kakinya, membuat Ayu kalang kabut menangani sang Ibu.


Mendengar jeritan Bu Ningsih, dokter dan perawat datang terburu buru kedalam ruangan Bu Ningsih.


"Ada apa mbak?" tanya sang dokter, bertanya kepada Ayu.


"Ibu saya syok dok, dia sudah tau keadaan kakinya?!" ucap Ayu, dan di anggukin tanda mengerti oleh sang dokter, akhirnya dokter memberi suntikan penenang untuk Bu Ningsih.


Ayu baru bernafas lega, setelah sang Ibu terkulai lemas, setelah mendapatkan suntikan dari dokter.


"Terimakasih", dok?!" ucap Ayu sopan.


"Sama sama mbak, klau begitu kami tinggal dulu?!" ucap sang dokter, dan di anggukin oleh Ayu.


Bersambung...


"Haiii... "Terimakasih" sudah menemani mamak menulis cerita, jangan lupa like komen vote, dan jadikan paforit, biar mamak semangat buat menulis dan menghalu.

__ADS_1


__ADS_2