Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 152


__ADS_3

"Sayang, itu hp kamu dari tadi bunyi terus loh... kok ngak di angkat?!" seru Dewi.


"Angkat saja sayang, Mas lagi tanggung nih?!" saut Bima dari ruang makan, dia sedang membuat susu hamil untuk sang istri, itu tak luput di dengar oleh Brian.


"Tuh... dengar sayang, kak Dewi aja manggil bang Bima sayang, kamu kenapa ngak panggil abang sayang atau hanny sih?!" sungut Brian merasa cemburu, karena sang istri ngak ada romantis romantisnya sama sekali?!"


"Ncek... iri saja kamu?!" ledek Aira.


"Jelas dong iri, aku tuh juga pengen kali... kamu manggil abang dengan kata kata romantis, masa manggil abang, tetap abang emang kita adek kaka?!" kesal Brian yang merajuk di depan Ayah mertua dan iparnya.


Tentu saja sikap Ceo dingin yang merajuk itu sangat lucu di lihat oleh kelurga Aira, dan mereka lansung tertawa berjamaah.


"Hahahaha.... makanya dek, manggil suami itu yang mesra dong?!" kompor Bima yang sudah duduk manis dan memberikan susu hamil kepada sang istri.


Pak Alek cuma geleng geleng kepala sambil tersenyum, dia bersyukur kehidupan anak anaknya sudah bahagia, dan bersyukur masih bisa minta maaf kepada anak anak yang dia terlantarkan selama ini.


Kring...


kring...


kring...


Hp Bima kembali berbunyi, dan lansung di angkat oleh Dewi tampa melihat siapa yang menelpon.

__ADS_1


"Hallo... Assalamualaikum...." ucap Dewi sambil me loudspekerin hp tersebut biar bisa di dengar oleh suami dan orang orang di sana.


"HEH....Kok loe sih yang angkat telepon abang, lancang banget sih... loe?!" sungut Ayu dari sebrang sana, itu membuat Dewi kaget, dan Bima lansung meradang tak terima istri tercintanya di bentak sama Ayu.


Jangan di tanya muka orang orang di sana di buat kesal oleh ulah suara cempreng Ayu tersebut.


"Sini sayang... Biar abang yang nerima?!" ucap Bima lembut meminta hp nya dari sang istri.


"Ada apa kamu telpon saya Yu...?!" ucap Bima dingin.


"Abang... kenapa hp kamu di pegang istri kamu itu sih, ngak sopan tau!!" kesal Ayu tak tau diri.


"Apa urusannya sama kamu, klau hp saya di pegang sama istri saya, suka suka saya?!" kesal Bima.


"Ada apa kamu telepon saya, klau ngak penting ngak usah menghubungi saya, ingat kita ngak sedekat itu?!" kesal Bima dan lansung mematikan sambungan seluler itu.


Tut....


Tut...


Tut...


Bunyi sambungan yang sudah di matikan itu.

__ADS_1


"Ahh... sial di matiin lagi, sudah tau gue ada perlu, dasar kaka durhaka?!" kesal Ayu dan kembali menghubungi Bima.


Di sebrang sana Bima masih aja tersulut emosi gara gara ucapan Ayu kepada sang istri.


"Dasar tak tau sopan santun, sudah menelpon orang malam malam, membentak istri aku lagi, anak kurang adab emang, bagai mana Ibu mendidiknya, kalah sama Aira yang ngak pernah di beri kasih sayang, malah bisa berperi laku baik?!" dumel Bima sambil merangkul adik dan istrinya bersamaan, dan melabuhkan ciuman di jidat keduanya bergantian.


Tentu saja Brian melihat sang istri di peluk dan di cium oleh Bima itu tak terima, lansung saja dia menarik sang istri ke dalam pelukannya.


"Jangan peluk peluk, peluk aja istri abang sendiri?!" sungut Brian.


"Emang kenapa, dia adikku wajar lah aku memeluknya?!" ucap Bima santai, dia tau istri adeknya itu tidak akan membiarkan sang istri di peluk orang lain.


"Ngak boleh, dia istri aku!!" tegas Brian sambil melotot.


"Ncek dasar posesif?!" sungut Bima.


"Biarin..." acuh Brian sambil memeluk sang istri.


Pak Alek cuma geleng gelang kepala melihat tingkah anak menantunya yang seperti bocah itu, apa lagi melihat Brian yang biasanya berwibawa, dingin dan tegas itu di depan mereka berubah seperti anak kecil.


Hp Bima kembali berdering, membuat Bima ogah ogahan mengakatnya.


"Apa.... Iya kami akan lansung kesana?!" seru Bima agak panik.

__ADS_1


__ADS_2