Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 147


__ADS_3

Bu Ningsih pulang ke kontrakan dengan hati riang gembira, karena mendapatkan cek yang cukup banyak dari Brian.


" Yu kamu di mana nak, ibu punya kabar gembira buat kita?!" ucap Bu Ningsih sedikit berteriak, kerena tak melihat Ayu di kontrakannya.


"Ibu sudah pulang, ketemu sama Bapak?" tanya Ayu yang ada di belakang Bu Ningsih membawa tentengan makan siang buat dirinya.


"Hah... kau bikin Kaget Ibu saja, sudah Ibu ketemu sama si tua bangka itu, tau ngak kamu?!" ucap Bu Ningsih menggebu gebu.


"Ngak Bu...!!"


"Hiii.... Kamu dengerin Ibu dulu makanya?!" kesal Bu Ningsih.


"Hehehe.... Iya lanjut lanjut ceritanya Bu...?!" ucap Ayu sambil menyuapkan makanannya kedalam mulut.


"Ibu ketemu mereka di kantor, ternyata anak sialan itu bersamanya sambil bergelendotan manja?!" sungut Bu Ningsih.


"Aira maksudnya Bu, dia di Kota ini?" tanya Ayu dengan mulut penuh berisi makanan.

__ADS_1


"Hiii...Kamu ini, habisin dulu makanannya baru bicara?!"


"Iya Aira siapa lagi yang bikin kita kesal, klau bukan anak sialan itu, kurang ajar sekali mereka itu, kita lagi susah kayak gini, mereka malah enak enakan makan di restoran mahal di jalan xx?!"


"Haa... Serius Bu, berdua dong sama Bapak?"


"Ngak mereka semuanya ke sana termasuk suami kayanya itu, Bima sama istri panti asuhannya itu juga ikut!!" kesal Bu Ningsih.


"Trus apa yang buat Ibu bahagia, muka Ibu kesal, tapi katanya berita bahagia, gimana sih Bu...!!" ucap Ayu bingung.


"Kok bisa sih Bu, dia kasih Ibu uang sebanyak itu, ngak mungkin kan dia kasih ibu tiba tiba?" ucap Ayu sedikit syok.


"Ya ngak lah, Ibu minta kompensasi sama si bangkotan itu, kerena sudah melahirkan anak buat dia, dan rugi waktu ibu terkekang sama dia, sebelumnya Ibu menarik rambut anak sialan itu sampai dia tek bisa melawan, Ibu pikir dia ****** barunya si tua bangka itu!!"


"Ya ampun Bu, kok Ibu bisa nekat banget sih, Sampai narik Aira di dekat umum?"


" Ya Ibu emosi aja melihat dia senang senang tadi!!"

__ADS_1


"Sudahlah Bu, jangan cari masalah lagi sama mereka, kita jalanin aja kehidupan kita dengan benar?!" ucap Ayu yang mulai sadar dengan kelakuannya, setelah di buang oleh orang-orang yang selama ini menyayangi nya.


"Kamu kenapa sih jadi berubah gini, harusnya kamu dukung Ibu dong, bukan beli mereka?!" sewot Bu Ningsih.


"Aku bukan dukung mereka Bu, harusnya kita sadar Bu, selama ini Ayah sangat menyayangi kita, apa yang kita mau Ayah turuti Bu, mana pernah dia menolak permintaan kita?!"


"Coba Ibu bandingin sama yang ngaku ngaku cinta sama Ibu, dan ngaku aku ini anak kandungnya dan anak kesayangannya, dan lahir dari perempuan yang dia cintai, mana Bu... di saat kita susah dia pergi Bu, hilang di telan bumi, tidak pernah memberi nafkah buat kita.


Bu Ningsih hanya diam dengan wajah kesal mendengar ceramah Ayu, walau apa yang di ucapkan Ayu itu memang ada benarnya.


"Sudah lah... ngak usah ceramah, sekarang kita cairin keknya?!" sela Bu Ningsih, mengalihkan pembicaraan Ayu.


"Baiklah untuk kali ini kita ambil Uangnya, lalu kita beli rumah kecil untuk kita berdua, dan buka usaha kecil kecilan di rumah, dan akan cari kerjaan nantinya?!" ucap Ayu yang mulai sadar itu.


"Iya iya terserah kamu ajalah, ucap Bu Ningsih, di otaknya masih ingin merebut uang dari Pak Alek.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2