Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 133


__ADS_3

"Assalamualaikum... Ayah?!


"Wa'alaikum salam, Ya Allah kalian datang Nak, kenapa tidak mengabari Ayah dulu?!" Ayah Alek menatap anak dan menantunya dengan berbinar, dia sungguh senang Anak dan menantunya datang, berkunjung ke rumahnya.


"Klau kami bilang bearti itu bukan kejutan dong?!" ucap Aira manja, sambil memeluk sang Ayah dengan erat. sungguh Aira merindukan pelukan Ayahnya, karena pelukan itu baru beberapa minggu ia rasakan.


Ayah Alek tak kalah erat memeluk Anak yang selama ini ia sia siakan, gara gara di hasut oleh dua wanita iblis yang meracuni dirinya agar membenci anak kandungnya sendiri.


"Ayah sangat rindu sama kamu nak?!"


"Aira juga rindu sama Ayah?!" ucap Aira manja.


Bima sungguh terharu melihat pemandangan indah tersebut, adik yang selama ini yang tak di anggap keberadaannya sudah bahagia dengan sang suami dan kini mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya.


"Apa cuma Ayah aja yang di peluk dan di rindukan, abang tidak?!" ucap Bima pura pura ngambek.

__ADS_1


"Dih, abang suka ngadi ngadi deh, kan tadi abang sudah di peluk di kantor, masa sekarang masih mau di peluk, ngiri ya sama Ayah?!" goda Aira.


"Tadi ya tadi, itu di kantor sekarang abang juga mau di peluk lagi, ucap Bima sambil memeluk Ayah dan Adiknya.


"Terima kasih" Ayah, Abang, sudah mau menyayangi Aira dan memeluk Aira, pelukan ini Aira pikir cuma bisa Aira rasakan dalam mimpi aja, ternyata sekarang Aira sungguh bisa merasakan di alam nyata?!" ucap Aira dengan sangat pelan karena suaranya tercekat di tenggorokan karena bahagia bukan karena sedih.


Mendengar ucapan Aira, Ayah Alek dan Bima sungguh hatinya tercubit nyeri, mereka menyesal telah menyia nyiakan Aira, gara gara tak ingin Bu Ningsih dan Ayu marah, karena mereka memberi kasih sayang lebih kepada Aira.


"Maaf kan Ayah nak?!" ucap Ayah Alek penuh sesal, dia bertekat akan memberikan kasih sayang kepada Aira dan Bima tanpa perduli dengan orang-orang jahanam yang telah menghancurkan kebahagian anak gadisnya itu.


"Abang juga minta maaf sayang?!" ucap Bima sendu.


Karena sibuk dengan kebahagian yang mereka rasakan, tapi mereka melupakan dengan dua orang yang sedang menonton kebahagian itu.


"Kayaknya kita sudah tidak di anggap di sini kakak ipar?!" seru Brian suaranya sedikit di tinggikan, agar tiga orang yang sedang berpelukan itu menyadari ke beradaan mereka di sana.

__ADS_1


"Benar, mungkin kita sudah tak ada artinya bagi mereka?!" ucap Dewi menimpali ucapan Brian, padahal di hatinya sungguh sangat bahagia, melihat wajah sang suami yang selalu memancarkan senyum bahagia itu.


"Ah.... maafkan kami?!" ucap tiga orang tersebut dengan serempak dan melepaskan pelukan teletubis mereka itu, dengan sedikit canggung telah melupakan orang orang terkasihnya.


Aira lansung berjalan ke hadapan Brian dan memeluk sang suami dengan erat, dia sungguh merasa bersalah, lupa dengan suami tampanya itu.


"Maaf sayang, aku melukanmu karena bertemu Ayah dan Abang?!" ucap Aira pelan, dengan wajah beesalahnya itu.


Brian gemes melihatnya, dia pengecup lembut puncak kepala sang istri.


"Tidak apa sayang, abang senang kamu bahagia bersama keluargamu, abang cuma kasihan sama kaka ipar, karena dia sedang hamil harus lama berdiri, itu tidak baik untuknya?!" sanggah Brian menjadikan kakak iparnya sebagai tumbal, padahal dia sangat cemburu, karena sang istri terlalu lama di peluk Ayah mertua dan Abang iparnya itu, melarang mereka berpelukan tentu saja Brian takut, bisa bisa dia di jadikan Ayam gemprek sama mertua dan abang iparnya itu.


"Ncek, kenapa kau menumbalkan aku tuan, padahal kau sendiri yang tak rela istrimu di peluk lama lama sama Ayah dan suami ku?!" sungut Dewi tak terima.


Hahahaha.... ketahuan kau Bri, ucap Bima sambil merangkul pundak Brian, dan jangan lupa Ayah mertuanya juga ikut terkekeh mendengar jawaban frontal dari mulut menantu cantiknya itu.

__ADS_1


Brian hanya bisa garuk garuk tengkuk, karena kebohongan nya di ketahui si kakak ipar.


Bersambung....


__ADS_2