
Dua hari sudah Aira koma, belom ada tanda tanda gadis cantik itu akan bangun, tidak ada seorangpun yang di izinkan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Brian tak pernah meninggalkan sang kekasih, dia selalu menunggu Aira di luar sana, dia hanya meninggalkan sang kekasih, saat ke kamar mandi saja, selebihnya dia hanya duduk di ruang tunggu kamar ICU tersebut, tubuhnya sudah tak terurus lagi dan makan pun Brian tak mau.
"Bang... makan dulu ya..?! kita butuh tenaga, klau kita ikutan sakit, siapa yang akan menggu Aira di sini!" ucap Aleta lirih,
Brian hanya diam, tak menjawab ucapan Aleta, dia hanya fokus sama kaca ruangan Aira di rawat.
Aleta sungguh sedih melihat abang dan sahabatnya yang belum juga ada tanda tanda dia akan sadar,
Urusan perusahaan Brian terpaksa di ambil alih oleh sang Papi dan Arya, di bantu oleh Wiliam walaupun Wiliam juga mempunyai perusahaan sendiri, mau tak mau, dia juga ikut turun tangan membantu perusahaan saudaranya itu,
Karena perusahaan tersebut dalam masa perubahan semenjak adanya korupsi dan penyusup di beberapa cabang perusahaan tersebut,
Tak jarang Tommy ikut membatu disana.
Orang tua, abang dan kaka Aira baru saja datang dari kota Y, langsung menuju ke rumah sakit dengan tergesa gesa,
Ayah dan Abangnya sangat menghawatirkan anak dan adiknya itu, namun tidak dengan sang ibu dan kakanya Ayu.
"Ncek... ngapain sih... buru buru banget! mending istirahat dulu kek...!" keluh Ayu
"Tau... Ibu juga capek kali...!" kesal sang ibu tak berperasaan, tak ada sedikitpun rasa kawatir di hatinya,
"Bu, bisa ngak sekali aja perhatiin Aira, Aira itu anak ibu lho...!" kesal Brian melihat tingkah sang ibu dan adiknya itu.
__ADS_1
"Kamu juga yu...!" kesalnya melirik sinis sang adik.
Ayu hanya mendengus kesal, dengan ucapan sang abang.
"Klau bukan gara gara pengen melihat kota besar ini, mana mau gue kesini!" gerutu Ayu dalam hati
"Klau bukan gue malas di tinggal di rumah sendiri, ogah amat ikut ke sini!" ucap sang Ibu dalam hati, tak berperasaan
Pak Alek dari tadi hanya diam, memikirkan putri bungsunya itu, hatinya gelisah, ingin segera sampai di tempat sang anak.
Sesampai di rumah sakit, Bayu bertanya ruangan Aira,
"Misi mbak...?"
"Ruangan Aira, korban penembakan dua hari yang lalu di mana ya..?"
"Sebentar...!"
Dan di anggukin oleh Bayu
"Aira di ruang ICU nomor 3!"ucap resepsionis tersebut,
"Terima kasih mbak" ucap Bayu
Lalu membawa keluarganya ke arah ruang ICU.
__ADS_1
sesampai di sana dia melihat laki laki yang berstatus kekasih adiknya itu sekaligus bos di tempat dia bekerja.
"Tuan...!" ucap Bayu menyapa Brian
Brian langsung melihat ke arah suara orang yang menegurnya,
Brian langsung berdiri, saat mengetahui siapa yang datang.
Pak Bayu, Bapak!" ucap Brian menyapa Bayu dan Ayah Aira.
"Bagai mana ke adaan adik saya pak?!" tanya Bayu sopan namun dengan nada kawatir.
"Masih di dalam, belum ada yang boleh melihatnya!" ucap Brian lirih, penuh penyesalan dan kekawatiran terhadap sang kekasih
"Klau mau melihatnya, hanya bisa lewat kaca di sana!" tunjuk Brian
Bayu dan Ayahnya langsung menuju ke arah, yang di tunjuk Brian,
Sedangkan Ibu dan Ayu hanya memandang kagum dengan cowok tampan di depannya itu,
"Waaahhhh... ngak sia sia gue ikut kesini, ternyata ketemu cowok tampan ini!" seru Ayu penuh ke kaguman
"Ini cocok nih, buat Ayu anak tercintaku, pasti orang kaya!" gumam sang ibu dalam hati, bukan memikirkan sang anak yang terbaring di dalam sana.
Bersambung.....
__ADS_1