
"Ayookkk... di makan, kenapa cuma di pelototin?!" seru Wiliam, yang melihat Nina hanya diam dan melihat makanan yang sudah di hidangkan tanpa menyentuhnya sama sekali, padahal terlihat sekali gadis cantik itu ingin memakannya.
"Ngak ah, ini pasti mahal, aku ngak mau jadi tukan cuci piring?!" seru Nina tampa mengalihkan pandangannya dari makanan di atas meja itu.
"Ya Allah. Ya Tuhan bener bener ini cewek, di kira gue benar ngak mampu bayar makanan di sini?!" gerutu Wiliam, melihat Nina yang tak berkedip menatap makanan di depannya itu.
"Makan aja, nanti klau ngak bisa bayar, mobil di depan jadi jaminan, bukan kamu yang jadi tukang cuci piring?!" seru Wiliam agar Nina segera memakan makanan tersebut.
"Benarkah, bukan aku yang jadi jaminan!?" tanya Nina meminta ke pastian.
"Iya benar!?" angguk Wiliam dengan cepat.
"Ah syukurlah klau begitu, cacing cacing di perutku sudah berdemo dari tadi?!" ucap Nina sambil memakan makanan di depan matanya dengan lahap, tampa memperdulikan Wiliam yang sedang menatapnya takjub.
__ADS_1
"Sungguh cewek luar biasa, pertama takut ngak bisa bayar, sekarang di bilang bukan dia yang bayar makanan, dia makan tampa perduli sama gue di sini, ngak ada jaim jaimnya gitu, di lihat cowok ganteng di depan matanya, bener bener cewek langka, perlu di lestarikan ini?!" ucap Wiliam terkekeh melihat cara makan Nina.
"Kenapa sekarang kakak yang tidak makan, apa kaka takut mobilnya jadi jaminan?!" seru Nina membuyarkan lamunan Wuliam.
"Hahhh... I-iya ini mau makan?!" jawab Wiliam tergagap, sambil menyuap steak kedalam mulutnya, denga sedikit kikuk.
"Hheekkk..." bunyi sendawa Nina tanpa kontrol di depan Wiliam.
"Eh... kelepasan?!" cengir Nina sedikit malu dengan muka memerah bak tomat matang.
"Ya ampun, kamu ini, ada cowok ganteng di sini, kenapa ngak ada jaim jaimnya gitu?!" seru Wiliam, menatap Nina dengan senyum tak bisa dia sembunyikan dari tadi, biasanya cewek di depannya akan menjaga imag, makan dengan anggun dan sedikit berpura pura manja, lah ini yang satu ini, menunjukan tingkah apa adanya, tanpa tau malu malah.
"Dih... ngapain malu malu, malu ngak kenyang kak, dari tadi aku kelaparan, kenapa harus jaga imag segala, keburu pingsan aku?!" seru Nina tanpa beban.
__ADS_1
"Ya iya, terserah kamu aja?!" ucap Wiliam menatap Nina dengan senyum manis, yang tak pernah dia tunjukan kepada orang lain, selain keluarganya dan itu juga jarang sekali dia tersenyum.
"Oh ya kak, "terima kasih" ya, sudah menolong aku tadi dan juga sudah mentraktir aku makan di sini, nanti aku akan bayar hutang ku sama kaka, klau aku sudah gajian, boleh aku minta nomor rekening kaka, dan nomor telepon kaka, nanti aku akan transfer uang ke rekening kaka, dan sebelumnya pasti aku mau telpon kaka dulu, jadi boleh aku minta nomor telepon dan nomor rekening kaka?!" ucap Nina tanpa jeda.
Wiliam cengok mendengar ucapan Nina yang panjang tanpa jeda, di fikirnya, apakah Nina sudah menghafal setiap kata yang akan dia lontarkan nya itu.
"Kak, kok malah bengong sih?!" ucap Nina sambil melambaikan tangannya kedepan wajah Wiliam, yang masih terpaku ke arah Nina itu.
"Hah... eh iya?!" ucap Wiliam.
"Kamu minta apa tadi?!" tanya Wiliam yang tak fokus dengan permintaan Nina kepadanya.
"Minta nomor telpon sama minta nomor rekening kaka?!" ucap nina lagi.
__ADS_1
"Baiklah, nanti aku kasih?!" jawab Wiliam dengan senyum manisnya.