Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 227


__ADS_3

Pak...


Pak...


Stop pak....


Berhenti pak....


Ciiittt...


Teriak Aira dengan kencang membuat sang sopir mengerem mendadak, beruntungnya Brian dengan sigap memeluk sang istri agar tidak terjatuh.


"Ada apa sayang...?!" ucap Brian panik, mendengar teriakkan istrinya itu.


"Itu... itu kak Ayu" tunjuk Aira dan lansung membuka pintu mobil tergesa gesa.


Beruntung Brian dengan cekatan memegang tangan sang istri.


"Hati hati sayang, ingat perut kamu itu, haduuuhh hati hati kenapa sih?!" dumel Brian gemes melihat sang istri, ngeri ngeri sedap melihat perut hamil tujuh bulan bayi kembar tiga, pasti lah lebih besar.


"Hehehe... iya maaf " ucap Aira.


Kakek surya hanya geleng geleng melihat tingkah cucu mantunya itu, selalu bikin jantung orang maraton.


Kak... kak Ayu....!" teriak Aira memanggil Ayu yang mulai menjauh dari mereka.


Ayu yang merasa namanya di panggil lansung melihat Aira.


"Aaaira...." ucap Ayu dengan suara tercekat, dia ingat banyak kesalahan yang dia lakukan sama adik tirinya itu.

__ADS_1


Aira menyusul Ayu yang sedang berhenti di ujung jalan.


"Kak, kok kakak ada di sini?" tanya Aira dan melihat ke kursi roda yang di pegang Ayu.


"I-buu.." ucap Aira tercekat melihat sang ibu dengan memakai baju lusuh dan tubuh yang kurus kering.


"Aaaira... anak ibu, maafkan ibu nak, huu... uuu... " ibu Aira menangis minta maaf sama Aira dan menangis sesegukan.


Sementara Ayu hanya menunduk tanpa berani melihat Aira.


"Kenapa Ibu dan kakak ada di sini?" tanya Aira.


Bukan kah aku sudah membayar rumah sakit dan mengontrakan rumah selama tiga tahun untuk kalian?" tanya Aira lagi.


"Dan Ayah juga memberikan kalian uang?" ucap Aira yang tidak mengerti.


"Kami di usir dari kontrakan, karena kami suka membuat keributan, akhirnya kami datang ke kota ini, untuk mencari Ayah kakak, namun Ayah tidak mengakui kakak sebagai anak, kami malah di usir dari kantor mereka" ucap Ayu tertunduk malu, sedih dan banyak penyesalan di matanya.


"Kami tinggal di kolong jembatan dan kami jadi pengemis?!" ucap Ayu dengan suara pelan.


Aira menggelengkan kepalanya, tidak menyangka kakak dan ibunya akan berakhir seperti ini.


Aira lansung menelpon entah siapa yang dia telpon dengan muka serius dan wajah garangnya, Brian dan keluarganya menelan ludah karena takut melihat Aura membunuh Aira.


Kalau seperti ini pasti hal besar yang sedang terjadi.


Setelah Aira mematikan hpnya, dan Aira memeriksa ke adaan sang ibu, ingat Aira seorang dokter dia tau sang ibu tidak dalam ke adaan baik baik saja.


"Kita ke rumah sakit, kita obati Ibu dulu?!" titah Aira.

__ADS_1


"Ibu,, tidak apa apa nak." ucap Bu Ningsih tidak enak hati sama anak yang tidak dia anggap itu.


"Ibu sakit bu,, Ibu bisa bohongi orang lain, tapi tidak dengan aku bu, sekarang ibu nurut sama aku ya?!" ucap Aira dengan lembut, mata berkaca kaca.


Bu Ningsih mengaguk pelan dan tidak mau menolak, dia sungguh merasakan badannya sangat sakit.


Aira membawa sang ibu kerumah sakit terdekat, dan mengantar sang ibu ke IGD.


"Tolong dok, periksa Ibu saya?!" pinta Aira kepada sang dokter.


"Baik Nona, silahkan tunggu di luar" ucap sang dokter ramah.


Aira mengaguk dan berlalu dari dalam ruang IGD.


"Kakak sudah makan?" tanya Aira.


Ayu hanya menggeleng tanda dia belum makan.


"Ayo... makan dulu?!" ucap Aira memegang tangan Ayu.


"Tapi Ibu..." tanya Ayu ragu.


Tidak apa, ibu sedang di tangani, nanti kita ke sini lagi, sekarang isi perut kakak dulu?!" ucap Aira membawa Ayu ke kantin rumah sakit.


Bersambung....


Haiii... janga lupa like komen dan vote ya...


Maaf ya hari ini up satu dulu, soalnya aku mau ke rumah sakit dulu ya, kemaren belum selesai berobatnya, nanti klau di rumah sakit dapat duduk yang nyaman aku akan berusaha untuk Up bab selanjutnya.

__ADS_1


Makasih, do'ain ya biar aku cepat sembuh😘😘🤗🤗🤗🤗


__ADS_2