Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 158


__ADS_3

Saat makan siang bersama Keluarga Nina pun ikut makan di sana.


"Ayokkk.... Bu, dek jangan malu malu?!" ucap Aira mempersilahkan keluarga Nina makan.


"Iya kak," terimakasih"?!" Aris dan Aisyah.


"Bocil kenapa kamu diam saja?, dari kemaren bibirmu tak berhenti mengoceh, apa kamu lapar ngak punya tenaga, atau sudah capek berceloteh mulu atau kau masih mabuk perjanan?!" ucap Wiliam menggoda Aisyah.


Aisyah memberengut kesal dengan abang ipar dadakannya itu.


"Apasih kaka tua, diam salah, bicara salah?!" sewot Aisyah.


"Aisyah, ngak boleh bicara seperti itu, itu tidak sopan?!" tegur Ibu Sri.


"Abis kaka tuanya aja yang mancing mancing Ais terus?!" kesel Aisyah.


"Ncek, bocil jangan marah marah mulu, nanti cepat tua loh... ?!" ledek Wiliam.


"Bodo..." kesal Aisyah.


"sudah sudah mari makan?!" ucap kakek surya, menengahi Wiliam dan Aisyah.


Keluarga Wiliam melongo melihat tingkah Wiliam yang biasanya tak banyak bicara, tapi bersama Aisyah justru dia yang memulai membuat ulah.


"Kamu ke sambet jin mana Will?!" ucap Brian


"Kok kesambet jin sih...?" tanya Wiliam bingung.


"Iya ngak biasanya kamu banyak bicara, sekarang malah kamu yang usil jadi orang?!" ucap Brian bingung.


"Iya kak, dia kesambet jin sawo besar di kampung Aisyah?!" celetuk Aisyah menimpali obrolan Brian.


"Heh bocil, jangan mengadi ngadi kamu?!" ucap Brian sambil melempar kerupuk ke arah Aisyah, dan lansung di lahap oleh Aisyah tanpa malu.

__ADS_1


"Kalian mau tinggal dimana setelah ini?" tanya kakek surya kepada Wiliam di ruang keluarga.


"Untuk sementara Ibu sama adik adik, tinggal di apartemen aku yang di jalan xx kek, dekat sama sekolah mereka, aku sama Nina tinggal di rumah Mami, sampai rumah aku selesai di renovasi!" ucap Wiliam santai.


Kakek surya mengangguk anggukan kepalanya.


Aris kelas berapa?!" tanya kakek surya.


"Kelas 12 kek?!" ucap Aris sopan.


"Habis ini mau lanjut kemana?!" ucap Papi tama.


"Belum tau om, mungkin mau cari kerja dulu?!"


"Loh... kok kerja, kenapa ngak kuliah?!" ucap Momy bingung.


"Iya tante, mau kerja dulu, nanti klau udah dapat uang baru kuliah, aku ngak mau nyusahin kaka lagi, kasian kaka selama ini sudah banting tulang buat kami, sekarang kaka sudah menikah ngak mungkinkan kami selalu menyusahkan kaka, kaka sudah punya keluarga sendiri, sekarang tanggung jawab ibu dan Ais jatuh ke aku?!" ucap Aris sopan.


"Ais juga akan ikut abang kerja, nanti klau kita sudah mulai masuk sekolah Ais akan cari kerja paruh waktu?!" ucap Aisyah sendu.


Dan di anggukin oleh Aris sambil membelai kepala Aisyah dengan sayang, mereka tau hidup di kota itu keras, tidak mungkin mereka selalu bergantung hidup sama kaka mereka yang sudah menikah, apa lagi ibu mereka harus berobat rutin.


"Maafin Ibu nak?!" ucap Bu Sri merasa bersalah.


"Ibu tidak salah apa apa, Ibu dan kak Nina selama ini sudah berjuang keras untuk kita, kami bersyukur walau kita hidup tidak berkecukupan tapi Ibu dan kak Nina berjuang agar kami tidak putus sekolah," terimakasih" wanita wanita hebat aku?!" ucap Aisyah bijak sambil memeluk ibu dan kakanya, Aris pun tak tinggal diam, ikut memeluk meraka bertiga.


Keluarga Wiliam terharu melihat melihat kekompakan keluarga Nina tersebut.


"Kalian sekolah aja yang benar, jangan mikirin kerja, urusan kebutuhan kalian sudah tanggung jawab kaka, jadi kalian hanya boleh buat dapat nilai yang bagus?!" Ucap Wiliam


Aris dan Nina mnggelengkan kepalanya.


"Tidak mau, kami akan bekerja untuk kebutuhan kami, jangan fikirkan kami, tolong bahagiakan saja kaka kami, jangan sakiti wanita hebat kami, itu sudah cukup buat kami?!" ucap Aris dengan tegas.

__ADS_1


"Soal nilai jangan takut, kami murid murid pintar di sekolah kami dulu, kami selalu dapat peringkat pertama?!" sombong Aisyah.


Keluarga Wiliam sangat bangga terhadap adik adik Nina tersebut, walau mereka sudah mendapatkan kehidupan yang layak dari suami kakak mereka, tetapi mereka tau mau memanfaatkan keadaan.


"Kalian Boleh bekerja tapi klau itu usaha kalian sendiri, tidak bekerja sama orang lain?!" ucap Deddy Alif.


Kedua remaja itu menatap bingung melihat ke arah sang Deddy.


"Begini, Deddy tau kalian anak anak tangguh dan tak mau merepotkan orang lain" dan di anggukin oleh kedua remaja itu " jadi Deddy akan membuatkan warung sembako untuk kalian, jadi kalian bisa kelola bersama, nanti kita bagi persenan gimana?!" tawar Deddy Alif.


"BENARKAH..." sorak dua remaja tersebut dengan riang, karena membuka toko sembako adalah impian mereka dari dulu.


"Benar, kalian mau?!" ucap Deddy Alif tersenyum senang, karena rencananya berhasil.


"Mau mau om, kami mau!!" ucap Aisyah senang.


"Tapi ada syaratnya?!" ucap Deddy Alif penuh maksud.


"Kok pakai syarat sih...?!" cemberut Aisyah, kecewa, semua orang tergelak melihat reaksi Aisyah tersebut.


"Iya, kalian harus panggil kami semua seperti Nina memanggil kami, panggil kakek dengan sebutan kakek bukan tuan, panggil sebutan Deddy mommy dan seterusnya ok!!" tegas Deddy Alif.


"Tapiii...." ucap Aris.


"Tidak ada tapi tapian harus mau!!" ucap Deddy Alif.


"Baiklah..." pasrah kedua remaja tersebut lemah.


Bersambung...


Haiii.... jangan lupa like komen dan vote, jadikan terpavofit ya....


"Terimakasih"

__ADS_1


__ADS_2