
Pagi hari Brian turun dari kamar seorang diri menuju ruang makan dengan muka yang berseri seri dan bersiul siul membuat sang Papi dan Mami terkekeh geli.
"Roman romannya belut listrik bisa masuk sarang Mi?" sindir sang Papi. Brian hanya memberi senyum manisnya.
"Pagi Mi, pagi Pi ?!" menegur ke dua orang tua.
"Pagi anak Mami, kau kayaknya sangat bahagia?" tanya sang Mami.
"Tentu saja aku bahagia Mi" ucap Brian dengan tersenyum manis.
"Ada apa gerang kau bahagia sekali hari ini?" tanya sang Papi pura pura tidak tau.
"Papi kepo" jawab Brian sambil mengambil sarapan untuk dirinya.
"Ncek... kau ini!" kesal sang Papi.
"Aira mana nak?" tanya sang Mami.
"Masih tidur Mi, mungkin kelelahan" acuh Brian.
"Kau, istri hamil malah di hajar, hati hati nanti kandungannya bermasalah awas kau!" ancam sang Papi.
"Papi tenang aja, aku tau kok, dan aku akan pastiin si twins tidak kenapa napa" ucap Brian.
"Kasian mantu Mami belum sarapan, dia butuh asuapan gizi banyak loh?!" ucap sang Mami khawatir.
"Mami tenang aja, tadi shubuh abis sholat dia sudah minta makan sama minum susu, sekarang dia lagi tidur, biarin aja Mi, jangan di bangunin" jawab Brian.
"Oh... syukur lah" ucap sang Mami lega.
"Ya udah, aku berangkat dulu ya Mi, Pi?!" izin Brian.
__ADS_1
"Iya hati hati" jawab ke dua orang tuanya.
Brian keluar dari rumah dan lansung masuk ke dalam mobilnya yang sudah di siapkan oleh sopir pribadi Brian itu.
Brian masuk ke dalam kantornya dengan senyum yang mengembang, semua karyawan Brian terpukau melihat senyum Brian itu, jarang jarang Brian bisa tersenyum seperti itu membuat mereka lansung menghentikan jalannya.
"Waduh.... Boss kek nya lagi senang"
"Beruntung banget gue masuk pagi ini, datang datang di sambut senyum cerah secerah matahari si boss"
"Haduhhh, bu boss pasti bikin hati pak boss happy"
"Jangan senyum kek gitu boss bikin jantung kita ajeb ajeb" ya begitulah gerutuan para karyawan Brian tersebut.
Brian masuk ke dalam ruangannya, dan lansung mengerjakan banyak dokumen yang menupuk di atas meja itu tanpa mengeluh seperti biasanya.
Membuat Arya bertanya tanya, tumben tumbenan boss , sahabat, sekaligus iparnya itu anteng di dalam ruangan tanpa meminta dirinya membantu pekerjaannya.
Di lain tempat tidur pulas Aira terganggu dengan kedatangan dua bumil muda, yang lansung ikutan tidur di kasur Aira itu.
Eeggghhh...
Lenguh Aira, karena merasa terganggu.
"Ncek... Gimana kak Bri ngak tergila gila ya, lagi tidur aja cantik" oceh Aleta terkekeh geli.
"Wooiii... bangun, sudah siang ini, masih aja kek kebo!" oceh Nina.
"Hiisss... Kalian ngapain sih subuh subuh sudah ke rumah orang, kurang kerjaan ya!" gerutu Aira dengan suara seraknya dan mata yang masih tertutup rapat.
"Ya ampuuun.... kebo... jam segini kamu bilang subuh!" omel Nina.
__ADS_1
"Emang udah jam berapa?" malas Aira, dia sangat lelah karena pergulatan semalam.
"Sudah jam 11 siang Aira..." ucap duo bumil itu.
"Haaa... Serius" kaget Aira.
"Iya... buru mandi, sarapan sana, udah siang masih aja ngebo" omel Aleta.
"Iya iya, nih... mau mandi" ucap Aira lalu bangkit dari kasur menuju kamar mandi dengan ogah ogahan.
"Ya ampun, itu badan Aira apa macan?" oceh Aleta.
"Emang kenapa?" acuh Aira yang belum sadar, tubuhnya sudah seperti macan tutul di buat karya oleh sang suami.
"Ngaca coba...!" perintah Nina yang sudah terkekeh sekaligus bergidik ngeri, kayaknya suaminya juga ngak gini gini amat, Brian sudah seperti singa lapar membuat karya di tubuh indah istrinya itu.
Dengan rasa penasarannya Aira berjalan ke arah kaca, matanya lansung membulat sempurna, melihat tubuhnya penuh dengan mahakarya sang suami.
"Dasar abang ngak ada akhlak!" gerutunya kesal dan sekaligus malu, karena di lihat oleh kedua sahabatnya.
Aleta dan Nina lansung tertawa geli melihat wajah Aira.
Aira lansung masuk ke dalam kamar mandi dengan menggerutu tak jelas dan membanting pintu kamar mandi dengan kencang.
Blamm...
Bersambung...
Haii jangan lupa like komen dan vote ya..
Dukungan kalian sangat berarti buat aku, pemacu semangat untuk menulis.
__ADS_1
"Terimakasih..."