Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 66


__ADS_3

Bima Arya menatap adiknya sendu dari ujung sudut sana, tanpa terasa air matanya mengalir tanpa di suruh, dia berlari mengerjakan sang adik yang akan pergi ke lantai atas.


Bima menarik tangan sang adik dan membawanya ke dalam pelukannya dan memeluk Aira dengan sangat erat seolah olah tak ingin melepaskannya lagi


"Dek, abang rindu, kemana saja kamu, abang mencarimu kemana mana tapi tak pernah ketemu, saat abang hampir menyerah kamu datang, hiks... hiks... hiks...!" Bima menangis sejadi jadi, tanpa malu orang yang melihat kepada dirinya itu,


Aira membeku, dia tau itu abangnya, dia tau dengan bau farfum sang abang. dia juga tau dari suara abangnya itu.


"Kenapa pergi tanpa beri tahu abang... pergi tanpa menunggu abang dek?! maaf, maaf klau perilaku abang selama ini membuatmu kecewa, membuat kamu marah, pulang ya dek?!"


"Bukan kah... ini yang kalian mau...? aku pergi dari kehidupan kalian, dan bukan lagi bagian dari kalian, bukan kah kalian tidak menginginkan keberadaan aku!"


"Tidak dek, tidak... itu tidak benar, abang sangat menyayangimu!"


"Hahhahaa... menyayangiku dari mana?, coba kasih tau aku... seperti apa sayang yang abang kasih padaku!"


"Abang sungguh menyayangimu... cuma caranya yang salah dek?! klau abang memperlihatkan kalau abang menyayangimu, kamu tau sendirikan ibu... seperti apa? kamu pasti semangkin di marahin, makanya abang tak berani memperlihatkan klau abang menyayangimu!"

__ADS_1


Mungkin benar apa yang di bilang kakanya itu, selama ini klau ayah atau abangnya sedikit memberi perhatian kepada Aira ibunya pasti akan mengoceh sepanjang hari, dan menyiksa Aira dengan berbagai cara.


Aira yang memang sangat merindukan abang nya dan merindukan pelukan dari abang kandungnya itu, langsung membalas pelukan sang abang.


"Begini ya... rasanya di peluk oleh abang kandung sendiri...!" ucap Aira lirih.


Ucapan Aira tersebut tentulah bagaikan tusukan ribuan jarum menghantam jantung hati Bima, sakit sungguh sakit, ternyata adeknya selama ini membutuhkan kasih sayang darinya.


"Maaf kan abang sayang?!" ucap Bima lirih


Aira menganggukan kepalanya, sesungguhnya Aira tak pernah marah sama Bima, Bima tak pernah memperlihatkan dirinya membenci Aira dan Bima selalu memberikan kasih sayang diam diam Aira tau itu.


"Jadi itu yang membuat abang suka memberikan uang diam diam tiap bulan di bawah bantal aku....?" tanya Aira polos


Hemmm..... jawab Bima, mendeham saja, yang masih betah memeluk sang adik.


Brian dan orang orang di sana hanya menonton adengan di depannya dengan rasa haru yang mendalam,

__ADS_1


"Jadi dia... adik Pak Bima...!"


"Kasian banget adiknya ya...!"


"Oh... gara gara gadis itu Pak Bima sempat stres ya...!" ucap karyawan lainnya,


"Syukurlah... Akhirnya kamu menemukan adik kesayanganmu!" ucap seorang gadis yang tak jauh beda umurnya dari Bima.


Brian bergumam haru melihat sang kekasih, yang sudah bertemu keluarganya itu, Brian tak marah dia malah senang sang kekasih malah di peluk abangnya


Karena Brian dengan jelas mendengar keluh kesah sang kekasih, yang merindukan abang itu,


"Pulang ya dek...?" bujuk Bayu kepada Aira.


Aira menggelengkan kepalanya


"Kenapa...?" tanya Bima, bukan tak tau dengan alasan Aira, tapi dia ingin mendengar ucapan itu dari bibir sang adik langsung.

__ADS_1


"Aku sudah tak di anggap mereka keluarga lagi, dan mereka sudah tak mengizin kan aku, untuk menginjakkan kaki lagi dirumah itu!" ucap Aira.


__ADS_2