Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 169


__ADS_3

Pagi ini di meja makan itu orang orang menikmati sarapan dalam keadaan hening, tanpa ada suara sedikitpun hanya sesekali terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Begitu pun di kediaman Papi Alfa, semua makan dalam hening, di sertai dengan wajah wajah lesu dua pria tampan yang berada di sana, namun tidak dengan Papi Alfa yang terlihat wajah berseri.


Selesai makan mereka melakukan aktifitas masing masing, termasuk dengan Aira yang sudah berada di sebuah rumah sakit, entah bagai mana caranya dan dengan kekuasaan siapa Aira koas hanya pada pagi sampai sore saja.


Jadi tak ada seorang pun anggota keluarga yang tau klau Aira adalah seorang dokter muda, yang terkenal dengan ke pintarannya.


Yang mereka tau Aira hanya sedang bekerja di beberapa cafe, sore hari Aira sudah ada di rumah, tentu saja mereka tak curiga.


"Pagi Dok... " sapa perawat yang bertugas di ruangan Aira tersebut.


"Pagi juga sus..." saut Aira tak kalah ramah.


"Gimana pasien saya hari ini sus, banyak apa sedikit?" tanya Aira, tanya Aira kepada suster yang menjadi partner kerjanya.


"Kayaknya sampai siang dokter ngak akan bisa meninggalkan kursi empuk itu!" jawab si suster terkekeh, karena dia tau hari ini pasien Aira melebihi batas maksimal.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Aira bingung.


"Pasien dokter sudah ada delapan puluh orang" ucap suster terkekeh.


"Hah.... serius! kok bisa? apa ngak ada dokter lain yang praktek?" ucap Aira terjengkit kaget.

__ADS_1


"Serius lah dok... Mana mungkin saya bohong. Ada kok dokter Diah sama dokter hilmi yang praktek, tapi pasien maunya sama dokter aja yang periksa. Noh dokter Diah lagi mencak mencak pasiennya tak sampai sepuluh orang!" kekeh Suster Ani.


"Haaahhh.... Mari kita mulai berjuang sus, biar cepat selesai" ucap Aira menyemangati dirinya dan suster Ani, sejujurnya Aira hati ini ingin libur, karena perutnya yang melilit sedang halangan.


Satu persatu pasien masuk dan di periksa oleh Aira dengan ramah dan dengan penjelasan yang mudah di mengerti, tanpa berbelit belit, dan cara Aira menyemangati pasiennya menjalani terapi obat.


Dan karena sosok Aira yang ramah, dan cara dia melayani pasien dengan baik, makanya banyak pasien pasien dari dokter lain berpindah ke Aira, sejujurnya Aira tak enak hati, namun bagaimana lagi, itu bukan keinginannya.


"Huuuffff... Akhirnya selesai juga, ucap Aira sambil merebahkan punggungnya di sandaran kursi, lelah, letih, nyeri dan lapar menjadi satu, namun Aira sebagai pelayan masyarakat yang baik, mengabaikan rasa itu.


"Ayo dok, saatnya mengisi kampung tengah, takutnya cacing cacing di dalam berhasil mendobrak dinding lambung kita, apa dokter tak mendengar suara suara merdu dari perutku" tanya suster Ani dengan wajah yang memelas, Aira terkekeh geli melihat tingkah lucu suster tersebut.


Suster Ani lima tahun lebih tua dari Aira, namun karena kesopanan dan wibawa Aira dokter Ani sangat menghargai Aira, terlepas dari titel yang di sandang Aira.


Aira dan suster Ani berjalan penuh wibawa dan banyak para dokter, perawat bahkan para pasien terkagum kagum dengan Aira, namun Aira selalu sopan dengan mereka, tak ada sedikitpun kesombongan yang terlihat di wajah cantik Aira itu.


Sesampai di kantin, mereka mencari tempat duduk yang sedikit menjorok, agar tak menjadi perhatian banyak orang.


Aira memesan nasi pecel dan jus jeruk, mereka makan dalam keheningan, menyantap makanan yang tersuguh di depan mata, namun acara makan mereka terusik dengan suara perawat yang mencari keberadaan Aira.


"Ada yang melihat dokter Aira" tanya nya dengan nafas ngos ngosan, kalau di lihat lihat yang mencari Aira adalah petugas dari IGD.


"Saya" ucap Aira sambil berdiri meninggalkan makanannya yang sedikit lagi tersisa, dia tau pasti ada yang sangat urgen, sebagai seorang dokter tentu Aira sangat peka.

__ADS_1


"Dok..." Maaf " mengganggu waktu istirahat anda, ada pasien gawat darurat yang harus di tangani, tapi para dokter tak sanggup menanganinya, jadi saya di perintahkan untuk mencari dokter" ucap petugas terebut, dengan wajah panik.


"Ada telpon, kenapa tak menghubungi lewat telpon?" tanya Aira, bingung.


"Ahh... Iya, lupa..." ucap petugas tersebut menepuk jidatnya, yang di yakini petugas itu baru mulai bekerja, jadi saat darurat malah panik lupa dengan prosedur yang harus dia kerjakan.


Aira melangkah kan kakinya dengan sangat lebar, menuju ruang IGD, dan di sana tampak ke kacauan yang di lakukan oleh keluarga pasien.


Beruntung Aira datang tepat waktu, sebelum keributan semakin parah.


"KALIAN BISA TENANG"


Bersambung....


Haiii... jangan lupa


Like...


Komen...


Vote...


Hadiah...

__ADS_1


"Terimakasih"


__ADS_2