Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 68


__ADS_3

Di sini lah Aira berada, di Cafe Bunga.


"Ibuuuu... Ai kangen...!" teriak Aira melihat Bu rt, yang sedang duduk bersama Pak rt dan beberapa warga juga ikut menunggu Aira disana,


"Ibu juga kangen sama kamu nak?!"


"Ai semangkin cantik saja, kami rindu kamu sayang, sudah hampir 2 tahun kita ngak ketemu, kamu bertambah cantik nak, dan badanmu mangkin berisi!" ucap ibu ibu yang ikut menemui Aira,


"Iya... mana kulit Aira mangkin kinclong lagi!" celetuk teman temannya,


"Ai... gimana kuliahnya!?" ucap pak Rt.


"Alhamdulillah... lancar Pak?! Ai mau ujian semester ini, Do'a in lancar ujian Ai ya Pak?!"


"Ai mah... pasti selalu lancar ujiannya, secara otak dia encer, ngak kayak otak aku, yang semangkin di panasin semangkin beku kayak telor!" celetuk anak laki laki sebaya Aira, itu membuat yang di sana tertawa.


"Ai di kota di mana...? aku pengen ke kota juga, pengen ngadu nasip, ucap salah satu anak di sana,


"Ai dekat kampus Brawijaya tempat Ai kuliah, klau mau ke sana minta nomor aja sama Bu rt, ada nomor Ai kok di Ibu!" jawab Aira,


"Baik lah.. tunggu aku ya di sana, nanti pasti aku akan merepotkan kamu?!" ucap temanya,


"Tidak apa apa... nanti Ai carikan kosan di sana, kamu sudah tau berangkat kapan, jadi langsung ada tempat untuk tinggal!" ucap Aira.

__ADS_1


"Ai kamu selalu baik hati nak?! tapi kenapa semangkin cantik, semangkin dingin sih?! kemana wajah hangat penuh senyuman dulu? sekarang kenapa jadi gini sayang?!" ucap Bu rt.


"Ngak tau Bu... Hilang entah kemana, jawab Aira jujur,


"Wah... wah... ngapain loe muncul lagi sialan....!! bentak seseorang sambil menarik rambut Aira,


Perbuatan perempuan itu, membuat naik pitam empat orang cowok tampan tersebut, mereka ingin berdiri, tak terima kesayangan mereka di kasarin, namun sebelum itu terjadi, ternyata Bu rt sudah duluan membantu Aira dan beberapa orang remaja lainnya.


"Apa apa sih... kamu Yu...! selalu cari gara gara sama Aira!" kesal Bu rt


"Tau nih... belum puas kakak melihat Aira di usir dari rumah kalian!" kesal anak se usia Aira,


"Belommm.... Dan tak akan pernah puas..!!


sebelum anak sialan itu mati....!" teriak Ayu.


"Kenapa kamu pulang lagi sialan...! gara gara loe... gue didiamin Ayah... anak set*n....!!"


"Woiii.... ngaca kaka gila...! seharusnya yang marah tuh... Aira di usir dari rumah gara gara kamu memfitnah dia, bukan kamu yang marah sama Aira!" kesal orang orang di sana,


"Dia ingin bersaing sama adiknya kali... tapi ngak mungkin terjadi lah... tampa di saingin aja Aira tetap terdepan dari dia...!" ibu ibu semangkin menyulut ke marahan Ayu...


"Iya Aira cantik alami, lah... dia cantik karena dempulan!"

__ADS_1


"Aira pintar dan jago dalam segala hal, lah dia... pintar memfitnah adiknya, jago bikin adeknya terusir dari rumah...!"


"Aira cantik rupanya hati pun cantik, lah dia... wajah penuh dempulan hati pun jelek! huuuuu.... sorak warga di cafe tersebut,


Ayu semangkin meradang mendengar itu semua.


"Dasar sialan loe... Aira, sudah tidak ada di kampung ini masih saja di puji puji loe...! pakai pelet apo loe haa...!


"Aira tak perlu pakai pelet... dia cukup jadi diri sendiri, ngak kayak loe penuh kepalsuan...!" ucap anak sebaya Aira yang terkenal lemes mulutnya,


Ayu tak tahan dengan ucapan orang-orang di sana langsung pergi dengan penuh kebencian dan kekesalan,


"Awas loe anak sialan.... suatu saat gue bikin hidup loe... benar benar hancur dan loe memilih mati dari pada hidup..!" gumam Ayu memandang sinis sang adik, yang ada dalam pelukan Bu rt,


"Wah... kakak Aira luar biasa mulutnya!" ucap Wiliam.


"Ingin gue sumpel pakai tisu toilet mulutnya!" kesel Arya,


"Pantas lah dia ngomok kek orang kesetanan, loe liat noh... Aira di perlakukan bak ratu, gimana ngak sirik!"


"Pastilah pacar gue di sayang banyak orang, dia memang baik hati dan menolong tampa lihat orang dulu, berani membahayakan diri sendiri, tampa minta imbalan sama sekali!" ucap Brian.


Dan di anggukin yang lainnya.

__ADS_1


Memang benar Tommy pun merasakan apa yang di bilang Brian, berkali kali Aira membatunya, tanpa pambrih, namun Tommy bukan orang tak tau diri, dia selalu mentransfer uang walau Aira marah, dia tetap memaksa sampai Aira menyerah.


"Wiliam juga membenarkan hal tersebut, dia mengingat adik semata wayangnya, yang hampir menjadi korban preman, Aira melawan preman seorang diri, tampa memperdulikan bahaya buat dirinya sendiri.


__ADS_2