Aira Si Gadis Dingin

Aira Si Gadis Dingin
Bab 150


__ADS_3

Brak....


"Aaaaa..."


"Ibuuuu...."


Teriak Ayu, melihat sang Ibu, terpental di aspal, habis di tabrak oleh mobil yang sedang melaju kencang.


Mobil yang menabrak Bu Ningsih, lansung melarikan diri, namun ada pengendara motor yang mengejar mobil itu.


"Gawat... nini itu ketabrak, ayok kabur?!" ucap si preman kepada teman temannya, dan meninggalkan Ayu di sana seorang diri.


Ayu berlari mengejar sang Ibu, yang sudah bersimbah darah.


"Ibu.... huaaa.... Bangun Bu.... uuuu.... Ibu...!!" raung Aisyah, sambil memeluk sang Ibu yang sudah tak sadarkan diri.


Warga lansung berkerumun rame di sana, melihat Bu ningsih yang sudah tak sadarkan diri itu, darah lansung mengalir deras dari kepala dan hidungnya.


Dan beruntungnya ada ambulance yang sedang lewat, lansung membawa Bu Ningsih ke rumah sakit terdekat.


Ayu jatuh terduduk lemas di sana.


"Ibu... hiks.... hiks... bangun Bu.... jangan tinggalin Ayu, Ayu sendiri Bu, ngak ada yang sayang sama Ayu selain Ibu, hiks... hiks.."


Bu Ningsih, sampai di rumah sakit dan lansung di tangani oleh Dokter di sana.


Ayu menunggu dengan gelisah di luar sana.


Ayu sibuk mondar mandir di luar, menunggu kabar dari dokter, pikirannya sudah kacau memikirkan Ibunya.

__ADS_1


Di lain tempat Aira, jantungnya lansung berdetak kencang, dan merasa cemas tak menentu


"Kenapa nak?!" ucap Pak Alek melihat tingkah sang anak yang sedikit aneh.


Brian memperhatikan sang istri, yang mukanya sedikit pucat, lansung saja memeluk Aira.


"Kenapa sayang, kamu sakit?!" ucap Brian dan memeriksa jidat sang istri yang ada dalam pelukannya itu.


Tak kalah jauh dengan Bima, dia tak sengaja menjatuhkan kan gelas.


Prang...


"Astaga..." ucapnya kaget,


"Ada apa ini?!" gumamnya pada dirinya sendiri.


Dewi yang sedang menunggu sang suami untuk pergi ke rumah mertuanya, malah ikutan kaget, mendengar barang jatuh di dapur.


"Kenapa sayang?!" tanya Dewi, melihat sang suami sedang membersihkan pecahan beling di sana.


"Diam di sana sayang, jangan kesini banyak beling berserakan, nanti kamu bisa luka?!" ucap Bima melihat sang istri.


Dewi menurut dan duduk di bangku di depan meja makan sana, sambil melihat sang suami yang membersihkan pecahan beling dan melap air yang tumpah di lantai.


"Ayok sayang sudah selasa?!" ucap Bima sambil memegangang tangan sang istri.


Dewi menurut saja, dan mengikuti langka sang suami, menuju rumah mertuanya dengan berjalan kaki, karena rumah Pak Alek cuma berjarak, lima puluh meter dari rumahnya.


Ternyata di dalam rumah Ayah dan Brian juga sedang sibuk menenangkan Aira, yang tiba tiba merasakan jantungnya tak baik baik aja, dan mengeluarkan keringat.

__ADS_1


"Aira kenapa Yah?!" tanya Bima ikutan panik melihat sang adik yang bermuka pucat itu.


"Ngak tau, tiba tiba aja kayak gini?!" ucap Brian tak kalah panik


"Sudah panggil dokter?!" tanya Dewi.


"Ah... iya lupa?!" ucap Brian menepuk jidatnya pelan.


"Kamu kenapa sayang?!" ucap Bayu membelai kepala sang adik penuh kasih.


"Ngak tau tiba tiba, jantung aku deg degan dengan cepat, kayak bakal terjadi sesuatu gitu?!" ucap Aira dengan sorot mata gelisah.


"Sama abang tadi juga gitu, malah abang tadi mecahin gelas?!" seru Bima.


"Ada apa ya bang?!" tanya Aira sedikit panik


"Berdoa saja, biar ngak terjadi apa apa?!" Pak Alek menenangkan anak anaknya.


Namanya juga di lahirkan dari dalam rahim sang ibu, jadi sedikit banyak pasti merasakan yang ibu atau anak terjadi.


"Minum dulu, ini kaka buatkan teh manis?!" Dewi membawa nampan berisi gelas berisi air minum di sana.


"Ya ampun kak, ngak usah repot repot, itu drumnya nanti jatuh?!" ucap Aira, meledek Dewi.


"Enak aja kamu, ini bukan drum?!" ucap Dewi memukul pelan bahu Aira.


"Lalu apa dong?!" kekeh Aira.


"Kecebong abang?!" kekeh Dewi.

__ADS_1


Hahaha... meledak tawa mereka, namun Bima malah bersungut kesal, karena anaknya di katain oleh sang adik dan istri tercintanya.


Bersambung...


__ADS_2