
Tiba tiba terlihat dokter dan para perawat berlarian ke dalan kamar rawat Aira,
"Ada apa..?" Brian panik, tak kalah yang di sana juga ikutan panik, dan berdiri mengerubungi kaca pembatas itu,
Para dokter dan perawat terlihat mengerubungi bed Aira, itu membuat yang di luar semangkin panik,
"Dek, jangan begini dek.. jangan bikin takut huu... huuu... raung Bima.
"Nak, maafin Ayah sayang, bangun nak... bangun.... Ayah janji akan menyayangi lebih nak, tolong bangun sayang, ratap Pak Alek pilu, melihat sang putri bungsu di kerubungi orang orang di dalam sana.
"sayang.... tolong bertahan, jangan tinggalin abang sayang... hiks... hiks...!" isak Brian
"Ai... jangan begini Ai... Aleta tak bisa tanpa Ai, bangun Ai.... jangan bikin Leta takut Ai.... huu... huu... huu.."
"Abang... Aira bang... suruh bangun bang....!" jerit Aleta mengguncang tubuh Brian yang sudah jatuh terkulai di lantai.
Hati Brian hancur, dia tidak bisa melakukan apa pun, selain berdoa, dia takut kehilangan sang kekasih,
"Tidak, tida....kkkkk... Airaaaa..... bangun sayang! abang mohon sayang banguuuun.... jerit Brian.
tak ada yang tak panik, cemas, takut akan keadaan Aira sekarang ini, semua hanya bisa merafalkan Doa dalam hati mereka,
Di lorong tersebut ada seorang pria gagah, yang berlari kencang ke arah ruangan Aira, dia adalah Dokter Janson, yang sengaja di datangkan oleh Papi Tama.
"Dok tolong calon mantu saya dok...!" mohon Papi Tama kepada sang Dokter, dengan berbahasa inggris.
"Sabar tuan, kami akan melakukan yang terbaik!" ucap sang dokter
__ADS_1
"Tolong perbanyak berdoa ya..!" lanjut sang dokter berlalu dari sana, masuk ke dalam ruangan Aira,
"Cih... apa bagusnya anak itu, sampai semua orang panik, ngapain juga pakai di datangkan dokter dari luar negeri, kurang kerjaan banget, mati ya mati aja, ngerepotin orang aja!" sungut sang ibu, sambil duduk di bangku tak terlihat sedikitpun rasa kawatir dan sedih, dia malah asik membersihkan kuku kuku tangannya.
"Sudah mati aja loe... adik sialan, semua orang hanya fokus sama loe doang, apa bagusnya loe sih... sampai sampai mereka mendatangkan dokter dari luar negeri!" kesal sang kaka.
"Klau dia mati kan gue bisa pedekate sama si ganteng aaa.... senangnya!" Ayu berhayal di tengah tengah kepanikan orang orang di sana.
Di dalam ruangan para dokter dan perawat sibuk membantu Aira, tiba tiba nafasnya berhenti.
Di bawah alam sadar sana, Aira sedang berdiri di tepi danau dan taman yang sangat indah, dia senang berada di sana, berlarian mengejar kupu kupu di sana,
"Tempatnya enak banget ya, aku betah di sini, rasanya aku malas untuk pulang, di sini sangat tenang!" gumam Aira
Aaahhh.... bunganya cantik sekalii.... ucap Aira sambil memegang bunga bunga dan sesekali dia mencium bunga yang ada di taman itu, yang mengeluarkan bau harum menenangkan hati itu.
Aira terperanjat kaget, "Ah.... tidak, tidak ngapa ngapain, hanya bermain di sini!" ucap Aira polos,
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Aira pada sosok cantik di sampingnya itu.
"Aku sedang main di sini!" ucapnya sambil tersenyum.
"Kau tinggal di sini...?" tanya Aira lagi.
"Tidak.. aku tinggal di sana...!" menunjuk jalan setapak yang sangat indah di ujung sana.
"kau tinggal di sini?!" ucap sosok tadi.
__ADS_1
"Tidak... aku hanya main di sini!"
Dimana rumah mu..?!"
"Aku lupa di mana rumah ku, aku ingin tinggal di sini.
"Benarkah, kau mau tinggal di sini, apakah kau mau main ke rumahku?!" tanya sosok cantik itu kepada Aira.
"Apa boleh...!" tanya Aira antusias.
"Tentu saja boleh!" sosok cantik tersebut memandang Aira dan tersenyum lembut.
Di dunia nyata
Tit....
Tit....
Tiiiitttttt.......
bunyi monitor, seketika jantung Aira berhenti berdetak.
"Tidaaaakkkkkkk...... raung Brian, Bima, Tommy, dan yang lain,
Aleta, Mami dan Momy Aleta jatuh pingsan melihat itu semua.
Bersambung.....
__ADS_1