
"Hiisss... menyebalkan, kenapa sih anak sialan itu selalu beruntung!" kesal Ayu. Ayu menggerutu kesal, keluar dari ruangan Aira, deng berjalan terpincang pincang menuju ruang rawatnya.
Sang ibu yang juga mengikuti Ayu dari belakang, juga tampak muka asamnya yang mengalahkan asam cuka, yang tak terima pernikahan Aira, dengan Brian.
Gagal sudah dia, untuk memamerkan menantunya kepada teman teman sosialitanya, gagal sudah keinginannya untuk beli barang barang brandit.
"Aaahhhkkk... mengesal kan, suami ngak guna, kenapa sih... malah milih anak sialan itu yang nikah sama si tampan itu, sudah koma masih saja menyusahkan!" kesal ibu jurik itu.
"Tau tuh... sudah mati kenapa masih balik lagi sih... harusnya mah, kuburin aja ngapain masih di rawat, menyusahkan saja!"
"Mending aku kemana mana, sudah cantik baik hati, malah milih orang koma, yang menunggu malaikat maut menjemput, apa enaknya coba nikah sama orang yang kayak mati itu" kesal Ayu menghempaskan badannya ke sofa ruangan tersebut.
Di ruangan Aira....
Brian duduk di samping istri cantiknya itu seorang diri, keluarga yang lain keluar untuk makan siang bersama, setelah tadi mengucapkan selamat kepada Brian.
"Haiii... sayang?! sekarang kamu sudah resmi jadi istri abang sayang... Abang sangat bahagia, bisa menikahimu, walaupun kamu belum bangun sayang?!"
"Bangun dong sayang, abang menunggumu, apakah kamu tidak kasihan sama kami sayang, kami menunggumu, kami merindukan kamu sayang, bangun lah sayang...?! ucap Brian pilu, sambil menangis pilu, di hadapan tubuh lemah sang istri.
Brian memegang tangan sang istri dan menciumnya dengan sangat lembut, Brian membelai rambut istri cantiknya itu dengan penuh kasih kasih sayang.
__ADS_1
Lama kelamaan Brian tertidur di samping sang istri.
Ditempat tempat lain...
Aleta yang sudah mulai masuk kuliah, tidak semangat mengikuti pelajaran, karena memikirkan sahabat yang sudah naik tingkat jadi kakak iparnya itu,
"Ai... kenapa lama banget sih... ninggalin Leta, Leta sendiri Ai... cepat bangun Ai... Leta rindu Ai..!" tak terasa air mata Aleta sudah merembas di pipi mulusnya itu,
Nina yang melihat Aleta yang murung dari tadi, mendekat ke Aleta,
"Hai... Let?!"
"Oh... hai juga Nina?!" ucap Aleta dengan senyum sedihnya.
"Iihhh..... Nina, klau nanya satu satu dong, aku kan bingung mu jawab yang mana!" keluh Aleta, cemberut.
Nina terkekeh dengan tingkah Aleta yang menggemaskan itu.
"Ya udah jawab aja satu satu!" ucap Nina sambil tersenyum masih kepada Aleta.
"Aira lagi di rumah sakit, Aira kena tembak dan sekarang masih koma, sudah seminggu Aira koma, aku sedih hiks... hiks..." jawab Aleta sambil menangis mengingat sang kakak iparnya.
__ADS_1
"Haaa... serius, kok bisa... !" kaget Nina dan langsung loncat ke atas meja, untung lah di ruangan itu tinggal mereka berdua, jadi tidak ada yang memperhatikan mereka, dengan tingkah konyol Nina tersebut.
"Iihhh... Nina kenapa sih... heboh aku jadi kaget tau!" sungut Aleta.
"Hehehe.... sorry sorry, abisnya aku kaget tau!" ucap Nina cengengesan.
"Kok bisa Aira kena tembak" lanjut Nina yang masih penasaran dengan Aira
"Iya waktu itu dia lagi nyelamatin suaminya, dari tembakan musuh suaminya, akhirnya Aira lah yang kena tembak!" jelas Aira.
"Haaa.... Aira sudah nikah, kapan...!" Nina kembali kaget dan berteriak.
"Aduhhhh... kamu bisa ngak sih... ngak teriak teriak, kesel deh..
punya teman, suka makan toa mesjid jadi kek gini nih...!" kesal Aleta.
"Enak aja toan mesjid!" sungut Nina
"Trus... apa dong?!" tanya Aleta polos.
"Serine ambulace !" saut Nina, membuat ke dua gadis tertawa dan mengalihkan kesedihannya sebentar.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya... biar author semangkin semangat menulis dan menghalunya hehehe...